TAJUK RENCANA

Mengecam Aksi Teror di Medan

Aksi ledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatra Utara dikecam banyak pihak. Ledakan di areal simbol negara itu sekaligus menegaskan kembali bahwa instansi kepolisian jadi target serangan teror. Aparat kepolisian menjadi sasaran pelaku dan jejaring teroris tidak terlepas dari penangkapan sejumlah pelaku oleh aparat Densus 88 Antiteror. Penangkapan itu ditengarai menumbuhkan solidaritas sempit. Namun, negara tidak boleh kalah melawan aksi teror dan kekerasan. Justru negara harus memperketat dan memperkuat pengamanan di sejumlah aset dan objek vital. Pergeseran target itu terlihat ketika serangan teror mengarah ke markas polisi di sejumlah tempat. Polisi yang bertugas dan berjaga di pos polisi dan markas menjadi sasaran. Sebelum di Mapolrestabes Medan, teror meledakkan diri terjadi di Kartasura, Sukoharjo pada Juni 2019. Bom serupa juga pernah terjadi halaman Mapolresta Solo pada Juli 2016. Serangan itu mengakibatkan seorang pelaku tewas. Tokoh agama mengecam aksi bom dengan meledakkan diri karena tidak ada agama yang membenarkannya. Tak ada relevansi bom bunuh diri dengan jihad atas nama agama. Bangsa Indonesia berdiri atas dasar Pancasila yang mengunggulkan hidup damai. Negeri ini menghargai kebebasan beribadah bagi semua pemeluk agama. Bom bunuh diri justru menunjukkan pemahaman keliru.

Sebab tidak jarang pemeluk agama mendapat ajaran dari sekadar melihat tayangan di media sosial sebagai ajaran utama. Menag Fachrul Rozi menyebutkan mereka yang mencari informasi mengenai agama dari informasi media sosial mudah terpapar radikalisme. Sebaliknya ajaran lewat tafsir-tafsir yang dituturkan kiai, ustadz, pemuka agama dianggap sebagai alternatif. Justru tayangan di media sosial yang bersumber dari yang bukan otoritas, dijadikan sebagai rujukan lebih tinggi. Akibatnya, ajaran kekerasan, radikalisme, dan terorisme diterima untuk memenuhi kebutuhan akal sehat belaka. Celakanya, ajaran itu berimbas pada perilaku intoleran.

Apa yang tidak sesuai dengan ajaran yang mereka pahami lewat media sosial dianggap tidak sehaluan. Kondisi tersebut tentu tidak bisa dibiarkan. Generasi milenial yang akrab dengan dunia internet perlu mendapat pendekatan mengenai pencarian pemahaman agama dari sumber-sumber arus utama.

Yakni yang diajarkan dari sosok pemuka agama yang mendalami agama secara tradisional secara utuh dan baik. Sebaliknya pemahaman sempit terhadap agama bisa menimbulkan celaka bagi diri sendiri ataupun orang lain. Orang-orang yang menjadi pelaku bom bunuh diyakni bukan sendirian. Meledakkan bom sendirian, namun di belakangnya terdapat jaringan yang berafiliasi kelompok radikal. Ada pula spekulasi serangan ke markas polisi merupakan upaya untuk menakutnakuti dan menciptakan opini publik bahwa mereka kuat.

Setelah opini terbentuk kelompok radikal akan meningkatkan posisi tawar. Untuk itulah perlu langkah bersama antara masyarakat, pemerintah, termasuk penegak hukum untuk meredam aksi teror.


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar