Waspadai Doktrin Online Terorisme

Pelaku Bom Bunuh Diri di Medan Diduga Sendirian

SM/Antara  -  BUNUH DIRI : Aparat kepolisian berjaga di dekat lokasi kejadian pascabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11). Sementara itu personel penjinak bom dari Gegana Brimob Polda Sumatera Utara memeriksa sepeda motor yang diduga milik pelaku bom bunuh diri yang terparkir di depan Mapolrestabes Medan. (24)
SM/Antara - BUNUH DIRI : Aparat kepolisian berjaga di dekat lokasi kejadian pascabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut, Rabu (13/11). Sementara itu personel penjinak bom dari Gegana Brimob Polda Sumatera Utara memeriksa sepeda motor yang diduga milik pelaku bom bunuh diri yang terparkir di depan Mapolrestabes Medan. (24)

JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan, mereka yang mencari informasi mengenai agama melalui internet rentan terpapar ideologi radikal. Konsultasi agama melalui internet, lanjutnya, membuka peluang tafsir yang berbeda dari tafsir pada umumnya. ”Mereka berkonsultasi dengan berbagai sumber untuk memenuhi kehausan agamanya.

Sering kali kita mendengarkan tafsirtafsir agama mainstreamdikalahkan oleh pilihan- pilihan personal bersumber dari yang bukan otoritas, tapi mungkin demi memenuhi akal sehat mereka,” ucap Fachrul dalam Rakornas Forkopimda di SICC, Bogor, Rabu (13/11). Dari multitafsir tersebut, Fachrul menilai kebenaran menjadi beragam. Akibatnya, menurut Fachrul, masyarakat cenderung intoleran dan mudah terpapar radikalisme. 

”Akibatnya, pemikiran keagamaan sebagian besar kita, cenderung intoleran dan mudah terpapar ideologi radikal ekstrem. Atau sebaliknya jadi super-toleran yang mengganggu sendi- sendi beragama,” sebutnya. Hal tersebut disampaikan Menag menyusul aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11).

Ledakan yang terjadi sekitar pukul 08.45 WIB tersebut menyebabkan enam orang, empat anggota polisi, pekerja harian lepas dan seorang warga. Mengutip indeks desiminasi media sosial yang diterbitkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) 2019, diperoleh angka indeks sebesar 39,89 dengan indeks tertingginya 100.

”Tercatat 9,89 orang Indonesia yang menggunakan medsos mencari dan menyebarkan konten tentang agama. Seperti keberadaan Tuhan, indeks yang didapat 43,91, sifat-sifat Tuhan 40,31, kuasa Tuhan 40,31, dan kisah hidup orang-orang suci 36,72,” ucapnya. Data tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat mencari pemahaman agama di medsos.

”Dari data-data disebutkan di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa hampir dari setengah total masyarakat Indonesia menggunakan medsos untuk melakukan interaksi dengan orang lain dan untuk mencari informasi tentang persoalan kehidupan, termasuk masalah agama,” sambungnya.

Fachrul menilai, dengan adanya internet, masyarakat cenderung menganggap pemuka agama tradisional sebagai pilihan alternatif. Hal itu berbeda dengan generasi terdahulu. ”Dengan fasilitas internet ini, masyarakat cenderung menganggap otoritas agama seperti kiai, ustad, guru, guru agama yang tradisional hanya pilihan alternatif belaka dari kehidupan sehari-hari mereka.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang sangat taat kepada fatwa kepala otoritasnya,” ujarnya. Menyikapi hal tersebut, pemerintah dikatakan Fachrul tidak tinggal diam. Saat ini perlu dikembangkan strategi komunikasi, khusunya kepada generasi milenial yang rentan terpapar radikalisme.

”Pemerintah dan otoritas formal perlu mengembangkan strategi komunikasi, terutama komunikasi kepada generasi milenial yang lebih rentan terhadap ideologi radikalisme agar mereka terhindar dari kegagapan menghadapi era disrupsi dan membangun gerakan kebudayaan untuk memperkuat akal sehat kolektif,” imbuhnya. Pihak Kepolisian sendiri telah merilis hasil investigasi awal soal bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku diduga beraksi sendirian alias lone wolf.

”Dugaan sementara pelaku ini melakukan aksi terorisme lone wolf,” kada Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (13/11). Pelaku berinisial Rabbial Muslim Nasution, berusia 24 tahun. Statusnya disebut pelajar atau mahasiswa. Tetangga menyebut pelaku bekerja sebagai driver ojek online. Namun Brigjen Dedi menyebut pekerjaan sebagai tukang ojek itu sebagai penyamaran.

Dari hasil penggeledahan rumah kontrakan pelaku bom bunuh diri, Tim Jibom membawa sejumlah barang bukti diantaranya pipa besi sepanjang sekitar 2 meter, tas hitam, keranjang anyaman yang di dalamnya berisi kabel-kabel, anak panah, dan sebuah koper hitam. Selain itu, Tim Densus 88/Antiteror menangkap tiga terduga teroris di wilayah Banten.

Penangkapan dilakukan pasca bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumut. ”Di Banten ada 3 orang ditangkap,” ujar Karo Penmas. Ketiga orang terduga teroris yang ditangkap di Banten masih diperiksa intensif. Densus mendalami ada-tidaknya keterkaitan terduga teroris dengan pelaku bom bunuh diri di Medan, Rabbial Muslim Nasution.

Tim Densus 88/Antiteror menangkap terduga teroris berinisial WJ di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. WJ terlibat dalam kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Terduga teroris WJ disebut pernah mengikuti pelatihan militer pada 1999 dan memiliki keahlian merakit bom. ”Yang bersangkutan pada tahun 2012 mengikuti perang di Suriah,” imbuhnya.

Bukan Sasaran

Pengamat terorisme Universitas Padjajaran, Obsatar Sinaga mengatakan, kepolisian bukan menjadi sasaran utama serangan teroris. Sebab, serangan kepada polisi dilakukan oleh teroris adalah cara untuk menakuti, untuk kemudian digunakannya sebagai posisi tawar. Pada saatnya nanti, kata dia, teroris akan meminta apa yang dia mau bila posisinya sudah kuat.

Selain itu, serangan kepada polisi juga merupakan bentuk balas dendam, karena banyak anggota jaringan yang tertangkap atau tewas. ”Bila melihat pola serangannya, diduga aksi tersebut didalangi oleh JAD. Hal itu terlihat dengan keberaniannya masuk ke markas polisi dengan keyakinan bahwa tindakannya adalah sebuah jihad,” ujarnya.

Namun, umumnya pelaku tidak profesional, mudah gugup dan tidak menarget berapa korban yang tewas akibat perbuatannya. Keyakinan mereka sebatas akan masuk surga bila mati saat melakukan aksinya. ”Hal itu karena pelaku telah dibaiat sebelumnya.

Ajaran semacam itu biasanya dilakukan oleh JAD,” tuturnya. Terkait penggunaan atribut ojek online, hal itu dapat dikategorikan sebagai penggunaan identitas tampak atau simbol. Anggota Komisi III DPR RI Nasir Jamil mengatakan, Markas Kepolisian Kota Besar Medan sebenarnya sudah tidak layak.

Karena, orang begitu mudah untuk masuk ke lokasi dan disekelilingnya adalah pemukiman penduduk. ”Sangat mudah bagi orang yang berniat jahat atau melakukan kejahatan di tempat itu. Saya pernah sampaikan kepada Kapolresta Medan sekira sebulan yang lalu,” tegasnya. Karenanya, kejadian serangan terhadap polisi tepat di markasnya, harus menjadi perhatian.

Sehingga, perlu dilakukan pengetatan keamanan markas kepolisian untuk menghindari kejadian serupa. ”Yang jelas, polisi jangan terpancing dengan kejadian tersebut. Karena, tidak tertutup kemungkinan ada pihak yang sengaja memanfaatkan situasi untuk kepentingan kelompok tertentu,” tukasnya.

Presiden Joko Widodo melalui juru bicaranya, Fadjroel Rachman, mengutuk aksi teror bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan. Pemerintah menilai, serangan itu merupakan bentuk kejahatan dari kelompok tidak manusiawi. ”Pemerintah tidak akan memberi toleransi sedikitpun terhadap aksi terorisme. Para pelaku atau kelompok terorisme akan terus dikejar, ditangkap dan diadili oleh sistem hukum yang berlaku,” imbuhnya.

Fadjroel menegaskan, negara memiliki aparatur keamanan berkualitas secara pengorganisasian dan keterampilan yang selalu siap bekerja mengatasi aksi-aksi terorisme. Pemerintah tidak akan membiarkan aksi teror mampu mengganggu keamanan, ketenangan dan produktivitas sosial ekonomi masyarakat.

”Siapapun individu yang menjadi rakyat Indonesia akan mendapatkan perlindungan keamanan sebaik mungkin dari negara. Presiden juga sudah memerintahkan penanganan, baik pencegahan dan penanggulangan kejahatan terorisme dengan mengaktifkan kerja sama aktif seluruh pihak baik pemerintah dan masyarakat,” kata dia.

Merespons peristiwa ledakan bom bunuh diri di halaman markas Polrestabes Medan, PT Angkasa Pura I (Persero) melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperketat keamanan di 14 bandara yang dikelolanya. Angkasa Pura I berupaya menjaga situasi bandara-bandaranya agar tetap aman dan kondusif sehingga kegiatan operasional dan pelayanan kepada maskapai dan penumpang pesawat udara dapat berjalan dengan aman dan lancar.

”Kami telah menginstruksikan kepada seluruh kantor cabang Angkasa Pura I untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperketat pengamanan dengan menggunakan semua peralatan keamanan dan personel yang tersedia menurut SOP yang berlaku mengingat bandara merupakan salah satu objek vital sesuai Undang-undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan,” Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero), Faik Fahmi, kemarin.

Berbagai langkah peningkatan keamanan yang dilakukan oleh Angkasa Pura I, lanjut Faik, antara lain dengan melakukan risk assesment terhadap ancaman teror serupa di seluruh bandara, meningkatkan kewaspadaan sesuai dengan hasil risk assesment tersebut, dan melakukan koordinasi dengan instansi keamanan (TNI/Polri) sebagai anggota komite keamanan bandara (Airport Security Committee/ASC) dalam rangka update informasi ancaman serta tindak lanjut langkah keamanan.

Ketua Umum PP Pagar Nusa Nahdlatul Ulama Muchamad Nabil Haroen mengatakan, pihaknya mengutuk aksi kekerasan bom bunuh diri. Apalagi yang disasar simbol aparat keamanan negara, yakni Polrestabes Medan. ”Tidak dibenarkan dalam ajaran agama untuk aksi bom bunuh diri.

Jihad atas nama agama dengan bom bunuh diri juga tidak relevan, apalagi Indonesia negara demokratis yang damai dan memberi kebebasan beribadah bagi semua pemeluk agama,” tegas Gus Nabil, Rabu (13/11). Dia menambahkan, aksi bom bunuh diri menyasar simbol keamanan negara.

Setelah penusukan Jenderal Wiranto (saat itu jadi Menko Polhukam) di Pandeglang, Oktober 2019 lalu, kini bom bunuh diri menyasar aparat keamanan. Pelaku, baik personal maupun dengan jaringan, berupaya meruntuhkan kepercayaan publik pada negara. Aksi-aksi kekerasan dan bom bunuh diri begini tidak bisa dianggap enteng. (bn,J13,H28,J22,- dtc,ant-64)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar