Pelantikan Presiden pada Era Reformasi

AHAD petang tinggi nanti, Insinyur Joko Widodo dan Kiai Ma'ruf Amin, secara resmi akan dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia periode 2019-2024. Bagi Jokowi, ia melanjutkan jabatannya sebagai presiden ketujuh, adapun Ma'ruf menjadi wakil presiden ke-13. Sebagai upacara kenegaraan berskala besar, pelantikan presiden dan wakil presiden, selalu dipersiapkan dengan sangat serius.

Aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan hingga ke level tertinggi, DPR/MPR yang menjadi lokasi pelatikan berbenah, perayaan disiapkan di beberapa tempat. Berbeda dengan tahun 2014, sebagaimana disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Jokowi ingin perayaan pelantikannya dilakukan sederhana namun khidmat.

Presiden berusia 58 tahun tersebut ingin langsung bekerja karena banyak persoalan bangsa. Pagi ini, Jokowi akan menerima panggilan resmi dari para kepala negara sahabat. Siang berangkat dari Istana Negara ke Gedung MPR untuk mengikuti pelantikan bersama Ma'ruf.

Setelahnya, kembali ke Istana dan mengadakan doa bersama yang dipimpin Ma'ruf. Inagurasi tetap akan diadakan oleh para relawan di Jakarta dan daerah, namun sepertinya tak sama dengan 20 Oktober 2014. Suasana bangsa tahun ini memang berbeda dengan lima tahun lalu.

Kebakaran hutan dan lahan, jerebu, masalah Papua, isu pelemahan KPK, demo besar mahasiswa yang belum lama terjadi, menjadi hal-hal yang diperhatikan publik. Lima tahun lalu suasananya betulbetul berbeda. Reaksi masyarakat dan media dalam dan luar negeri saat itu terasa hingar-bingar.

Moncer sebagai Wali Kota Surakarta dan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi tercitrakan sebagai pemimpin sederhana yang lahir dari rakyat. Lima hari sebelum pelantikan, majalah kenamaan AS, Time memuat foto Jokowi di sampul halaman dengan tajuk A New Hope. Puluhan ribu masyarakat mengeluelukan dan menyambut selepas pelantikan.

Arak-arakan dengan kereta kencana sulit berjalan karena jalan menuju Istana disemuti warga meski cuaca saat itu panas. Di Istana Negara, presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono didampingi (almarhumah) Ibu Ani Yudhoyono, sudah menunggu untuk acara lepas sambut.

Di luar pagar Istana yang selama ini ''angker'' karena tak sembarang orang bisa mendatanginya, warga berjubel untuk memberi tahniah secara langsung. "Istirahat ya Pak. Jangan terlalu capek.

Selamat ya Pak. Yang sehat agar bisa bekerja untuk bangsa," ucap beberapa warga dari luar pagar Istana setelah disapa Presiden. Perayaan lewat ''Konser Rakyat Salam 3 Jari'' di Lapangan Monas, yang di antarnya menghadirkan band asal Inggris, Arkarna, berlangsung sore hingga tengah malam.

Bukan hanya di Jakarta, perayaan juga digelar termasuk di Lapangan Pancasila, Simpanglima, Semarang melalui ''Syukuran Rakyat'', dan kota-kota lainnya. Sambutan dan perayaan pelantikan Jokowi tahun 2014 memang bisa disebut fenomenal.

Belum pernah terjadi sebelumnya pada era reformasi atau mungkin masa sebelumnya. Sangat berbeda dengan perayaan pelantikan Presiden SBY tahun 2004 dan 2009. Tahun 2004 merupakan kali pertama Indonesia mengadakan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung.

Selain belum memiliki pengalaman menyambut hasil pilpres secara langsung, pelantikan 20 Oktober 2004 terjadi saat bulan Ramadan. Karenanya wajar bila upacara sakral dan sambutan masyarakat terbilang ''biasa saja''.

Bahkan pelantikan saat itu disambut demo di beberapa kota. Di Yogyakarta misalnya, mahasiswa di antaranya meminta SBY tak mengangkat menteri yang terlibat kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta yang menjadi bagian unsur-unsur IMF.

Di Jakarta, pendemo meminta SBY mengambil langkah konkret memberantas korupsi, membuka kembali kasus Soeharto, dan menuntaskan enam agenda reformasi. Isu darurat sipil Aceh juga disuarakan sekitar 150 pendemo di depan gedung DPR/MPR saat pelantikan dilangsungkan.

Tepat pukul 10.25 SBY-Jusuf Kalla membacakan sumpah jabatan di depan 611 dari 678 anggota MPR yang hadir, lima pemimpin negara sahabat, utusan negara sahabat, serta tamu undangan.

Akan tetapi tiada kehadiran Megawati Soekarnoputri, presiden sebelumnya yang dikalahkan SBY pada Pilpres 2004. Hubungan keduanya memburuk sebelum pilpres. Setelah dari gedung DPR/MPR, SBY dan JK beserta keluarga mereka, menuju Istana Merdeka.

Karpet merah digelar, semua lampu dinyalakan. Mirip susana penyambutan tamu negara, bedanya tak ada upacara militer. Seluruh staf Istana menyambut. Tim SBY dari Cikeas sudah lebih dulu datang. Kedatangan SBY di Istana disambut demo sekitar 50 mahasiswa dari BEM UI yang beraksi di Jalan Merdeka Utara.

Petang hari, ia memberi pidato pertama sebagai presiden, dilanjutkan bertemu dengan beberapa kepala negara jiran. Sebelum mengumumkan kabinet pada pukul 20.00, mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan ini, memanggil bebarapa calon anggota kabinet.

Suasana pelantikan dan perayaan, periode kedua SBY tahun 2009 juga bisa dibilang biasa. Sekali lagi bila perbandingannya perayaan pelantikan Jokowi tahun 2014. Soal demonstrasi, sebagaimana 2004, juga kembali terjadi. Di depan Istana, BEM Seluruh Indonesia menyuarakan sejumlah agenda.

Ratusan orang yang tergabung Kongres Aliansi Buruh Seluruh Indonesia beraksi di depan gedung DPR/MPR. Ada pula unjuk rasa yang diikuti sekitar 500 orang di Makassar, lalu di Yogyakarta, termasuk Semarang. Polisi sebelumnya menyatakan tak melarang unjuk rasa asalkan tidak di depan gedung DPR/MPR, meski tetap ada yang melakukannya.

Pelantikan SBY tahun 2009, juga dikenang karena sikap grogi Ketua MPR Taufiq Kiemas saat memimpin sidang pelantikan presiden dan wakil presiden.

Beberapa kali ia salah menyebut nama termasuk Susilo Bambang Yudhoyono yang hanya disebut Susilo Yudhoyono dan Susilo Doktor Bambang Yudhono. Termasuk salah menyebut jabatan Jusuf Kalla dan BJ Habibie. Adapun Megawati, istri Kiemas kembali tak hadir sebagaimana lima tahun sebelumnya dengan alasan kurang sehat.

Sama seperti sekarang ini, suasana politik dan hukum 10 tahun lalu juga sedang memanas terkait dengan KPK. Bila sekarang santer dengan isu pelemahan melalui revisi UU KPK dan hasil pemilihan pimpinan KPK, warsa 2009 kala pelantikan SBY periode kedua, KPK sedang berseteru dengan Polri yang terkenal dengan ''cicak melawan buaya''.

Dua pimpinan KPK menjadi tersangka. Untuk melancarkan acara pelantikan, polisi mengalihkan sejumlah arus lalu lintas di Jakarta. Setelah pengucapan sumpah dan janji di gedung DPR/MPR, SBY bertolak ke Istana yang disambut staf rumah tangga kepresidenan.

Kemudian menerima ucapan langsung dari beberapa kepala negara sahabat, seperti PM Malaysia, PM Australia, PM Singapura, Sultan Brunei Darussalam, dan Presiden Timor Leste. Juga utusan khusus dari negara sahabat lainnya. Para pimpinan lembaga negara dan seluruh anggota Kabinet Indonesia Bersatu jilid satu juga hadir memberi tahniah.

Pada hari pelantikan, SBY langsung bekerja termasuk bertemu PM Australia Kevin Rudd membahas kerja sama penanganan terorisme dan gempa di Sumatera Barat yang terjadi 20 hari sebelumnya. Untuk pengumuman kabinet dilakukan beberapa hari setelah pelantikan, tak seperti tahun 2004 pada malam hari setelah pengucapan sumpah.

Presiden Terakhir Pilihan MPR

Sebelum Jokowi dan SBY menjalani prosesi pelantikan presiden pilihan rakyat secara langsung, Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri, menjadi presiden terakhir hasil pemilihan anggota MPR atau mandataris MPR. Mega diangkat menjadi pemimpin negara setelah Sidang Istimewa MPR yang dipimpin Amien Rais menjatuhkan Gus Dur. Petang tanggal 23 Juli 2011, Mega mengucap sumpah dan janji sebagai presiden.

Dalam pidato pertamanya di depan MPR, putri presiden pertama Indonesia, Soekarno itu, mengajak semua komponen masyarakat untuk membangun bangsa dan negara bersama-sama. Keterpurukan ekonomi dan krisis multidimensi yang berlarut-larut menjadi perhatian Mega dalam pidato singkatnya. Hampir tak ada perayaan menyambut pelantikan tersebut.

Pendukungnya mengikuti Sidang Istimewa dari televisi dan radio. Saking ''sunyinya'', bahkan di kantor DPP PDI Perjuangan saat itu nyaris tak ada kegiatan. Begitu juga di posko-posko PDIP lainnya. Hal ini di antaranya karena Mega telah berpesan agar kegembiraan pendukung tak ditunjukkan secara berlebihan.

Sesaat setelah dilantik, sejumlah karangan bunga menghiasi kediaman Mega di Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, serta rumah dinas di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. Beberapa karangan bunga dikirim sebelum pelantikan berlangsung. Pelantikan Mega dibayangi suasana politik yang panas. Pendukung Gus Dur yang dilengserkan MPR, dikabarkan bergerak.

Mega melanjutkan sisa periode pemerintahan Abdurrahman Wahid yang sebelumnya dipilih dan dilantik MPR tanggal 20 Oktober 1999. Secara tak terduga, lewat manuver koalisi partai-partai Islam, Poros Tengah bentukan Amien Rais, ia mengalahkan Mega pemimpin PDI Perjuangan yang memenangi Pemilu 1999.

Tak ada suka cita atau perayaan berlebihan menyikapi pelantikan tersebut. Apalagi pendukung Mega di beberapa daerah tidak menerima ketua partai mereka dikalahkan dalam pemilihan presiden meski PDI Perjuangan mendapat suara paling banyak, hampir 34 persen.

Sama sebagaimana pelantikan Mega dan Gus Dur, pelantikan presiden sebelumnya, Bacharuddin Jusuf Habibie juga dalam suasana politik yang panas. Mantan Wakil Presiden RI ini dilantik menjadi presiden tanggal 21 Mei 1998. Pada hari yang sama saat Soeharto meletakkan jabatan yang diembannya selama 32 tahun. (Wahyu Wijayanto-54)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar