ORGANISASI

PGRI Harus Komit Jaga NKRI

SEMARANG - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai organisasi guru atau pendidik berperan strategis dalam memajukan pembangunan, khususnya bidang pendidikan. Pembangunan bangsa ditentukan melalui pendidikan, salah satu komponen pentingnya adalah guru. Karena itu, PGRI harus jadi elemen penting dan mampu membangun kekuatan strategis, sebagai mitra pemerintah.

Tak kalah penting, PGRI sebagai organisasi harus komitmen mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pernyataan itu diungkapkan Ketua Umum PGRI, Prof Dr Unifah Rosyidi MPd saat memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Cabang (Muscab) XXII PGRI Jateng di Balairung, kampus Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Sabtu (19/10).

"Penting bagi organisasi guru untuk ikut mempertahankan NKRI. Musyawarah cabang ini penting dan strategis, karena diatur AD/ARTorganisasi, respons perubahan lima tahun kedepan dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik bangsa," kata Unifah.

Ia menegaskan, perkembangan teknologi tak terelakkan, guru harus mampu mengikuti perubahan tersebut. Guru pun diingatkan untuk bijak bermain media sosial (medsos), supaya tak salah langkah yang bisa berakibat urusan hukum. "Bijaksanalah main jari-jemari," ungkapnya.

Muscab yang dibuka Gubernur Ganjar Pranowo dihadiri Ketua PGRI Jateng Widadi SH, serta Rektor UPGRIS Dr Muhdi MHum yang juga Sekretaris Umum PGRI Jateng. Rektor Undip Prof Dr Yos Johan Utama dihadirkan jadi narasumber kegiatan itu, yang membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Guru Dosen dan Peserta Didik.

Tidak Voting

Konferensi PGRI Jateng yang berlangsung Jumat- Minggu (18-20/10), akan memilih ketua baru setelah Widadi tak ingin dicalonkan lagi dalam pemilihan ketua PGRI Jateng periode 2019-2024.

"Konferensi PGRI Jateng ini lebih banyak ditentukan oleh pengurus PGRI cabang di tingkat kecamatan," jelasnya. Menurut dia, 573 pengurus PGRI cabang kecamatan mendapatkan hak suara masing-masing minimal dua suara. Adapun, 35 kabupaten/kota hak suaranya diberikan masing-masing lima.

Di sisi lain, Ganjar menyoroti pemanfaatan gawai yang membuat perubahan perilaku dahsyat. Hal ini membuat tekanan eksternal luar biasa, karena guru harus bisa mewanti-wanti muridnya agar bijak memanfaatkan gawai.

Mengenai Muscab, mantan anggota DPR RI ini mendorong agar pelaksanaan tidak voting, tapi melalui musyawarah mufakat. "Saya bukan mengintervensi, tapi kalau boleh usul pemilihan melalui musyawarah mufakat. Ini demi kebaikan PGRI agar organisasi tidak pecah," tandas Ganjar. (J17-48)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar