Tak Hanya Menerbangkan Layangan

One Sky One World di Pantai Bondo, Jepara

SM/dok : HARI LAYANG-LAYANG: Warga di Pantai Bondo, Jepara menyiapkan layang-layang untuk diterbangkan pada kegiatan One Sky One World yang juga disebut Hari Layang-layang Sedunia, Minggu (13/10). (55)
SM/dok : HARI LAYANG-LAYANG: Warga di Pantai Bondo, Jepara menyiapkan layang-layang untuk diterbangkan pada kegiatan One Sky One World yang juga disebut Hari Layang-layang Sedunia, Minggu (13/10). (55)

Setiap Hari Minggu pekan kedua Oktober, pecinta layang-layang di seluruh dunia menggelar kegiatan bertajuk One Sky One World. Kegiatan itu sering disebut pula sebagai Hari Layang-layang Sedunia. Di Jawa Tengah, acara tersebut dilangsungkan di Pantai Bondo, Kabupaten Jepara.

PANAS matahari terik terasa Minggu (13/10) lalu di salah satu pantai tepi Laut Jawa itu. Namun, hal itu tak membuat surut beberapa pengunjung untuk menikmati suasana di sana. Sebagian terlihat sibuk dengan benang dan layangan. Hari itu, langit yang biru bakal berhias layang-layang. Tak hanya satu, tapi beberapa.

Tak hanya layang-layang berbentuk wajik tapi juga beberapa. ”Masih menunggu angin. Biasanya sebentar lagi datang. Memang syarat utama untuk menggelar kegiatan menerbangkan layang-layang ya hanya angin,” ujar Swastika Tenny Ria, pemilik kedai serta homestay Omah Laut di Pantai Bondo yang menginisiasi acara tersebut. Tak lama berucap, angin benar-benar datang. Dia langsung sibuk menerbangkan layang-layang yang sudah disiapkan dibantu beberapa orang. Perempuan yang akrab disapa Tenny tersebut memang dikenal sebagai pecinta layang-layang.

Bersama sang suami Wieslaw Fwizdala, mereka kerap mengikuti festival di berbagai negara. Kemarin lusa, beberapa layang-layang yang diterbangkan antara lain berbentuk sosok pahlawan super, orang bersepeda, dan juga sederet layang-layang berwarna merah putih. Salah satu yang juga menarik perhatian adalah layang-layang berbentuk naga. Layang-layang itu buatan pemuda bernama Yohanes dari Jepara. Bagian kepala dibuat tiga dimensi persis seperti gambaran naga yang ada. Sementara buntutnya memanjang hingga belasan bahkan mungkin lebih dari 20 meter.

Bawa Pesan

Tenny menegaskan, kegiatan One Sky One World tak hanya berkisar tentang menerbangkan layang-layang. ”Jadi setiap Hari Minggu pada pekan kedua Oktober, disepakati untuk menerbangkan layang-layang di setiap daerah masing-masing di seluruh dunia. Maknanya bukan hanya pada menerbangkan layang-layang saja, tapi kami membawa pesan untuk perdamaian, persaudaraan, serta juga kepedulian pada lingkungan,” ujarnya. Dia mengungkapkan, lewat acara tersebut, diharap masyarakat mengerti bahwa kita semua hidup di bawah langit yang sama di atas bumi yang sama.

Situs oneskyoneworld.commenyebut, kegiatan tersebut mulai digelar pada 1985 oleh Jane Parker-Ambrose. Sejak itu, layang-layang mulai mendapat perhatian lebih di dunia ini. Layang-layang bukan hanya mainan anak yang kerap dimainkan untuk diadu tapi juga sebagai simbol dari kebaikan yang diingini masyarakat secara luas.Para pecintanya juga terus melakukan kampanye terutama menyuarakan nilainilai perdamaian, persaudaraan, serta cinta lingkungan. Pada 1989 misalnya, kampanye tersebut mendapat Peace Award di Italia. Sementara pada 1992, layang-layang juga diterbangkan pada aksi damai pertama di Tienamen Square, Beijing, China. Pada 2000, Unesco menyertakan acara tersebut pada aksi satu dekade antikekerasan. Ya, barangkali menerbangkan layanglayang memang hanya sebuah hobi. Tapi lewat hobi tersebut, ternyata banyak pesan yang bisa disampaikan. Setidaknya itu yang diinginkan Tenny serta beberapa pecinta layang-layang lain. ”Kami berharap masyarakat tak hanya menikmati layang-layang di langit tapi juga menyerap pesan tentang perdamaian, persaudaraan, dan cinta lingkungan. Semoga,” katanya seraya mengungkapkan keinginannya agar tahun depan kegiatan One Sky One World bisa digelar lebih meriah lagi. (Adhitia Armitrianto-56)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar