TAJUK RENCANA

Pesan Perdamaian dari Abiy Ahmed

Nobel Perdamaian 2019 dianugerahkan kepada Abiy Ahmed. Perdana Menteri Ethiopia berusia 43 tahun itu disebut telah menginspirasi upaya perdamaian di Afrika.

Abiy memberikan harapan baru di benua yang tak kunjung padam diguncang konflik perang dan kekerasan. Ethiopia selama lebih dari dua dekade terlibat perang saudara dengan tetangganya Eritrea. Dua bulan setelah menjabat perdana menteri, Abiy membuat langkahlangkah untuk menumbuhkan persahabatan dan perdamaian di Afrika. Ia meneken kesepakatan damai dengan Eritrea. Selanjutnya, ia memulai langah-langkah besar: membebaskan tahanan politik, memberikan tempat bagi perempuan untuk menduduki jabatan strategis di pemerintahan, dan mendeklarasikan perdamaian.

Meski perang kedua negara “cuma” dua tahun pada 1998-2000, dampaknya terasakan hingga 20 tahun kemudian. Kedua negara samasama menutup diri dari pergaulan. Anggota keluarga yang terpisah di dua negara akibat perang sulit untuk bertemu kembali. Tak ada pula rute transportasi udara yang menghubungkan kedua negara. Eritrea, negara tetangga yang secara geografis “hanya secuil” dari Ethiopia, adalah saudara sendiri. Namun akibat perang itu pula hubungan persaudaran penduduk kedua negara itu terkoyak. Sama seperti halnya nasib negara-negara di belahan benua itu. Katakanlah Sudan Selatan yang kerap dilanda konflik internal dan kekerasan etnis, Somalia juga mengalami situasi konflik antaretnis untuk berebut kuasa di pemerintahan.

Kita juga kerap terdengar kecamuk perang saudara di Sudan. Juga perang sipil di Kongo, bahkan pasukan TNI pernah bergabung dalam pasukan perdamaian. Isu sosial memicu konflik sering kali pecah di Nigeria. Atau di Sierra Leone yang menjadi latar cerita film “Blood Diamond” tentang gesekan warga sipil.

Kisah-kisah konflik negara Afrika seperti tidak habis, jauh dari perdamaian dan persabahatan. Maka, hadirnya Abiy memberi secercah harapan tak ada yang tidak mungkin untuk perdamaian. Proses rekonsiliasi Ethiopia dan Eritrea tentu tak terlepas dari peran pemimpin kedua negara. Namun kebijakan dalam negeri Ethiopia mendapat apresiasi dari dunia, termasuk dari Komite Nobel. Perang dengan Eritrea yang merupakan bekas wilayah Ethiopia itu mengakibatkan sekitar 70.000 orang tewas. Perang dua negara miskin itu diduga menghabiskan miliaran dolar hanya untuk membeli senjata. Abiy mengambil langkah sangat bermakna dengan rekonsiliasi, solidaritas, dan keadilan sosial.

Kisah Abiy ini bisa menjadi inspirasi, tidak hanya bagi masyarakat Ethiopia dan Eritrea, tetapi juga negara-negara di Afrika, serta bangsa-bangsa di dunia yang tengah berkecamuk perang saudara. Tidak ada yang lebih berharga selain perdamaian di muka bumi. Peperangan hanya mengakibatkan kerugian besar. Korban jiwa berjatuhan, menimbulkan luka dan trauma, menderita kerugian ekonomi, dan terisolasi dari kemajuan ekonomi dan politik dunia. Perdamaian setidaknya menjadi bekal masa depan lebih baik.


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar