TAJUK RENCANA

Budaya Mengurangi dan Menangani Sampah

Budaya mengelola sampah menjadi perhatian bersama. Tak cukup hanya menyerahkan tanggung jawab kepada pemerintah. Semua komponen masyarakat perlu bekerja sama untuk mengurangi volume, dan sekaligus menangani sampah menjadi barang lebih bernilai ekonomi. Kongres Sampah 2019 di Ungaran menegaskan betapa sampah perlu perhatian serius. Mengabaikan sampah, seperti halnya kita tidak memedulikan kelestarian lingkungan demi generasi penerus bangsa.

Pertanyaannya kemudian, masihkah kita membiarkan sampah di sekitar berserakan? Sudahkah kita membuang sampah pada tempat sampah? Seberapa intensif kita mengelola sampah? Seperti dituturkan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen yang mengaku malu ketika melihat banyak sampah, namun tidak ada usaha untuk pengolahan. Sampah yang semestinya dikelola senyatanya tidak bisa mencapai 100 persen. Wagub menyebutkan timbunan sampah terus naik dari tahun ke tahun.

Timbunan sampah pada 2018 mencapai 5 juta ton/tahun. Yang bisa ditangani 1,9 ton/tahun atau 39,57 persen. Artinya, lebih dari 60 persen sampah masih belum tertangani atau hanya menjadi gunungan di tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal 2019 pemerintah menargetkan penanganan sampah mencapai 80 persen, sedangkan pengurangan sebanyak 20 persen. Ini menunjukkan penanganan sampah masih jauh dari target, apalagi untuk menuju Indonesia Bebas Sampah pada 2025.

Kita mengapresiasi adanya lingkungan warga yang aktif mengelola sampah, baik di level keluarga, RT, RW, dasawisma, kampung, kelurahan, kecamatan, maupun kabupaten. Banyak komunitas di masyarakat aktif membuat ecobrick memanfaatkan botol plastik bekas minuman dan plastik pembungkus makanan untuk dijadikan barang kreatif dan multiguna. Adapula masyarakat yang mampu mengelola bank sampah, sehingga menjadi sumber penghasilan di perumahan.

Namun di sisi lain, kita juga kerap menyaksikan sampah berserakan di tepi-tepi jalan. Sepanjang aliran sungai dipenuhi sampah plastik, perkakas rumah tangga seperti kasur kapuk, meja, dan bahkan kulkas. Kita juga melihat sampah seolah menjadi pemandangan lazim di pantai yang menjadi jujugan wisata. Sampah di sungai dan lautan itu sebagian berasal dari aktivitas di daratan. Selain limbah rumah tangga, industri juga menjadi penyumbang pencemaran sungai dan laut kita.

Dibutuhkan gerak bersama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Komunitas itu perlu berkolaborasi untuk membudayakan program mengurangi dan menangani sampah. Kita bisa memulai dari hal kecil seperti membawa tas belanja sendiri, tak menggunakan botol minuman kemasan sekali pakai, memilah sampah organik dan nonorganik, mendaur ulang, serta mengurangi dan bahkan tak menghasilkan sampah plastik. Maka marilah membudayakan pengurangan dan penanganan sampah semampu kita.


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar