Solusi Permanen Kekeringan

OlehHadi Santoso

"Aliran air sungai bawah yang terdapat di dalam Gua Seropan yang terletak di Dusun Ketonggo, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta mampu dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum penduduk di sekitar Semanu, Ponjong dan beberapa wilayah Wonogiri."

NEGARA kita, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan sumber daya air (SDA), karena menyimpan 6% potensi air dunia. Tetapi rupanya ada hal yang cukup memprihatinkan saat ini terkait SDA tersebut. Berdasarkan kajian, pemerintah pernah memprediksi Jawa bakal kehilangan hampir seluruh sumber air bersih tahun 2040. Dan salah satu daerah di Jawa, sebagai contoh di Kabupaten Wonogiri, mengalami kekeringan yang cukup parah tahun 2019 ini.

Bahkan sampai pertengahan Oktober 2019 ini, hujan juga tak kunjung tiba. Setidaknya, ada delapan kecamatan yang rawan kekeringan di Wonogiri, yakni Kecamatan Paranggupito, Kecamatan Pracimantoro, Kecamatan Giritontro, Kecamatan Giriwoyo, Kecamatan Eromoko, Kecamatan Nguntoronadi, Kecamatan Manyaran dan Kecamatan Selogiri.

Di delapan kecamatan tersebut, ada 36 desa yang terdiri atas 12.361 keluarga dan 45.627 jiwa terdampak kekeringan dan krisis air bersih. Merujuk pendapat dari peneliti senior di Pusat Geoteknologi LIPI, Rachmat Fajar Lubis, krisis air terjadi saat kebutuhan air lebih tinggi dibandingkan tingkat ketersediaan air.

Lalu, yang menjadi masalah air selalu dipersepsikan sebagai sumber daya terbarukan karena Indonesia mengalami musim hujan setiap tahun, padahal curah hujan cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Tentu ancaman ada ancaman krisis air di Jawa akibat perubahan iklim yang diperparah dengan pengambilan air secara besar-besaran untuk rumah tangga dan industri maupun alih fungsi lahan yang marak terjadi.

Khususnya di Jateng, salah satunya di Wonogiri, solusi sementara sekaligus selemahlemahnya amal, melalui agenda pengedropan air bersih untuk wilayah kekeringan di Jateng terus dilaksanakan berbagai kalangan. Oleh pemerintah dan para sukarelawan yang peduli. Pengedropan air ini, adalah solusi sementara, ibaratnya selemah-lemahnya amal pemerintah dalam melayani masyarakatnya yang mengalami krisis air bersih. Lalu, apakah agenda pengedropan air ini hanya satu-satunya solusi mengatasi kekeringan dan krisis air bersih? Ternyata tidak.

Masyarakat membutuhkan solusi permanen, baik melalui sumber air atau jaringan distribusi. Untuk mengatasi hal itu, ada beberapa solusi permanen yang bisa dilakukan. Yang pertama adalah mencari sumber air. Ini bisa dilakukan di sumur dalam, Luweng, air bawah tanah. Tentu prosesnya bisa melakukan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) lainnya, seperti misalnya Jateng, dalam hal ini Kabupaten Wonogiri bekerja sama dengan Kabupaten Gunungkidul.

Aliran air sungai bawah yang terdapat di dalam Gua Seropan yang terletak di Dusun Ketonggo, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta mampu dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum penduduk di sekitar Semanu, Ponjong dan beberapa wilayah Wonogiri.

Pada tahun 2018, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Giri Tirta Sari Wonogiri juga sudah mengupayakan hal ini, yakni memastikan air dari sumber Seropan mengalir ke pipa utama. Air itu bisa dimanfaatkan ratusan keluarga di Desa Watengrejo dan Desa Gambirmanis, Kecamatan Pracimantoro, sehingga mereka bisa terbebas dari krisis air bersih.

Saat itu, air dari Seropan yang dialirkan ke Watangrejo dan Gambirmanis dapat menjangkau lebih dari 800 keluarga di Watangrejo lebih kurang 500 sambungan rumah (SR) di Dusun Masan dan Dusun Klancing, sedangkan potensi di Gambirmanis lebih kurang 300 SR di Dusun Gambiranom, Dusun Suruhan, dan Dusun Karang. Tetapi upaya ini mesti ditingkatkan lagi.

Solusi yang kedua, adalah pembangunan embung dan waduk di Jateng. Menurut laporan Bank Dunia tahun 2005 yang dikutip pemerintah, tampungan air per kapita di Indonesia sebesar 52 meter kubik setiap tahun. Sebagai perbandingan, salah satu negara dengan tampungan air terendah adalah Ethiopia (38 meter kubik per kapita setiap tahun).

Adapun, Thailand memiliki 1.277 meter kubik sementara Amerika Utara mencapai 5.961 meter kubik. Pemerintah RI sendiri telah menargetkan 65 bendungan baru di seluruh Indonesia selama 2014-2024. Dari total itu, 12 bendungan anyar dibangun di Jawa. Dan ada lima waduk besar di Jateng yang dibangun, yakni Logung Kudus, Gondang Karanganyar, Pidekso Wonogiri, Bener Purworejo dan Matenggeng Cilacap.

Khusus di Wonogiri, bendungan Pidekso merupakan satu dari 49 bendungan baru yang dibangun pemerintah melalui Kementerian PUPR pada tahun 2015-2019 untuk mewujudkan ketahanan air dan pangan nasional. Bendungan multifungsi ini direncanakan mampu mengairi area irigasi seluas 1.500 hektare. Air irigasi dari bendungan akan meningkatkan intensitas tanam dari 133 % (2.000 Ha) ke 240% (3.600 Ha).

Sehingga dengan harapan bendungan ini juga sebagai sumber air baku 300 liter/detik untuk Wonogiri, Sukoharjo, Solo dan sekitarnya. Selain itu, bendungan ini juga bermanfaat untuk pengendali banjir dan sebagai lahan konservasi serta pariwisata sehingga dapat membantu kesejahteraan masyarakat sekitar. Daya tampung Bendungan Pidekso sebesar 25 juta meter kubik, dengan ketinggian 44 meter dari dasar sungai.

Menurut data dari Dinas PU SDA TARU Provinsi Jawa Tengah, data ketersediaan air waduk besar Wonogiri memiliki waduk dengan luas 28,109 hektar memiliki volume 440 juta meter kubik. Pemprov Jateng sendiri, saat ini telah mengupayakan pembuatan sumur dalam, embung tampungan dan pemasangan saluran air bersih di perumahan. Tercatat lebih dari Rp 12 miliar proyek pemerintah propinsi yang ada di Wonogiri tahun ini untuk penyediaan air bersih.

Solusi yang ketiga, adalah pembangunan Sisten Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional dan pemeretaan pembangunan pipa distribusi. Untuk diketahui, alah satu kendala dalam penyediaan air minum adalah ketidak merataan ketersediaan air baku di daerah. Salah satu program prioritas nasional bidang air minum saat ini adalah pengembangan Sistem SPAM regional, yaitu terbangunnya 31 SPAM Regional seluruh Indonesia pada tahun 2019 ini.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015, dimana salah satu sasaran pembangunan kawasan permukiman dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 adalah meningkatkan akses penduduk terhadap air minum layak sebesar 100 persen pada tingkat kebutuhan dasar di tahun 2019.

Untuk itu, pelaksanaan SPAM Regional ini memerlukan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait, termasuk dari sisi pendanaan. Pendanaan sektor air minum yang dibutuhkan untuk tahun 2015- 2019 mencapai Rp 253,85 triliun, yang terdiri atas pemerintah pusat yang mengontribusi sebesar Rp 52,09 triliun, pemda sebesar Rp 119,29 triliun, dan Rp 82,46 triliun dari investor lain.

Hadi Santoso ST MSi, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Dapil Wonogiri, Sragen, Karanganyar Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS).


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar