KABUT ASAP

Bandara Tetap Beroperasi

SM/Antara  -  KABUT ASAP : Petugas membantu penumpang pesawat udara menuju terminal kedatangan di Bandara Sultan Thaha, Jambi yang diselimuti kabut asap, Rabu (18/9) malam. Kota Jambi dan sejumlah daerah di provinsi itu masih terpapar kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bertambah pekat pada malam hingga pagi hari. (24)
SM/Antara - KABUT ASAP : Petugas membantu penumpang pesawat udara menuju terminal kedatangan di Bandara Sultan Thaha, Jambi yang diselimuti kabut asap, Rabu (18/9) malam. Kota Jambi dan sejumlah daerah di provinsi itu masih terpapar kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bertambah pekat pada malam hingga pagi hari. (24)

JAKARTA - Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah di Tanah Air, tidak membuta pengoperasian bandara terhenti. Merujuk publikasi Notice to Airmen (Notam) yang dikeluarkan Airnav, Kamis (19/9) sore, beberapa bandara di Sumatera dan Kalimantan masih terdampak kabut asap sehingga jarak pandang pilot berkurang. Meskipun demikian, semua bandara tetap beroperasi normal.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana B Pramesti menjelaskan, kabut asap dalam beberapa minggu terakhir, membuat sejumlah penerbangan terlambat, rute beralih, bahkan dibatalkan. ”Keterlambatan, pengaligan rute maupun pembatalan penerbangan terpaksa dilakukan karena mengutamakan keselamatan dan keamanan penerbangan,” katanya.

Berdasar Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan penerbangan dalam keadaan darurat (force majuro), maskapai harus menyusun dan melaksanakan prosedur rencana kontigensi penerbangan dan pelayanan penumpang.

Paling tidak, rencana memuat ketentuan yang memudahkan penumpang untuk menyusun ulang rencana perjalanan, di antaranya penjadwalan ulang, pengalihan rute, pemindahan ke penerbangan lain, dan kemudahan dalam pengembalian uang tiket sesuai PM No 185 Tahun 2015.

Berdasar publikasi Notam, sejumlah bandara terganggu akibat terdampak kabut asap, yakni Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Bandara Beringin Muara Teweh, Bandara Malikus Saleh, Lhokseumawe, Bandara Nunukan, Bandara Kalimarau, Berau Tanjung Redep, Bandara H Asan Sampit, Bandara Pangsuma, Putussibau, Bandara APT Pranoto Samarinda, Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Bandara Letung, dan Bandara Sintang.

Polana menambahkan, sampai saat ini Ditjen Hubud terus memantau penyelenggara bandar udara, maskapai serta para pihak penerbangan yang wilayahnya terdampak kabut asap melalui Kantor Otoritas Bandar Udara (OBU), Airnav.

”Personel di bandara agar terus siaga dan waspada,” tandasnya. Sementara itu, Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara APT Pranoto Samarinda Dodi Dharma mengatakan, belum ada penerbangan maupun pendaratan di bandara tersebut karena kabut asap.

”Kami sudah menginformasikan kepada penumpang tentang dampak kabut asap berdasarkan status Notam dan meskipun operasional penerbangan belum normal, namun layanan di Bandara APTPranoto tetap dibuka,” jelas Dodi.

Di sisi lain, dampak kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia dan Malaysia juga menyelimuti Thailand bagian selatan. Penduduk mengeluhkan kondisi udara yang tidak sehat dan harus menggunakan masker sepanjang hari.

Lembaga penelitian Pemantau Kabut Asap Selatan Thailand telah menerbitkan peringatan bagi warga setempat. Mereka menyatakan penduduk di wilayah Songkhla, Satun, Yala, dan Pattani untuk sementara waktu disarankan tidak berkegiatan atau mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Menurut Direktur Biro Lingkungan Wilayah 16 di Songkhla, Thananchai Wannasuk, kandungan polutan di udara akibat kabut mencapai 100 mikrogram per meter kubik. Jumlah itu dua kali lipat dari batas yang ditetapkan Thailand. (bn,cnn-41)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar