Kolaborasi Mengelola Sampah

Oleh Muna

"Nilai indeks ketidakpedulian pengelolaan sampah di Jateng cukup tinggi, bahkan mengalahkan angka nasional. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga di Jateng cukup banyak yang tidak peduli terhadap pengelolaan sampah"

Sampah akhir-akhir ini menjadi masalah momok yang dialami hampir semua wilayah di Indonesia. Aktor Hollywood, Leonardo di Caprio pun turut menyorot tumpukan sampah yang ada di tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Jakarta, melalui unggahan di Instagram pribadinya.

Tahun 2016 jumlah tumpukan sampah di Indonesia mencapai 65,2 juta ton per tahun, dengan penduduk sebanyak 261 juta orang. Seiring bertambahnya penduduk tentunya akan meningkatkan jumlah tumpukan sampah (2018, Statistik Lingkungan Hidup Indonesia).

Bagaimana dengan tahun 2019, 2020 dan seterusnya? Akankah kita terus dijajah (permasalahan) sampah? Miris melihat prediksi ke depan jika tidak ada perubahan dan pengelolaan sampah secara tepat. Kita pun terasa tidak sadar. Setiap hari kita terus memproduksi sampah dan hanya akan menumpuk di tempat pembuangan akhir, terutama sampah plastik yang tidak bisa terurai.

Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar menyampaikan bawa pada 1995 komposisi sampah plastik menyentuh angka 9 persen, lalu 2011 menjadi 11 persen, prediksi 10 tahun lagi tumbuh menjadi 16 persen (Suara Merdeka, 22 Agustus 2018). Permasalahan sampah ini tidak bisa dibilang mudah. Kita harus bersama-sama dan berkolaborasi untuk peduli terhadap lingkungan. Dimulai dari diri sendiri, ajak keluarga dan lingkungan sekitar. Apa yang bisa kita perbuat untuk lingkungan lakukanlah yang terbaik.

Jika setiap orang berpikiran selama tidak di halaman belakang saya silakan saja (aku tak peduli) maka apa yang akan terjadi tidak dapat saya bayangkan. Dari hasil Susenas Modul Hansos 2017 dapat diketahui Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup (IPKLH) sebesar 0,51 poin, semakin mendekati 1 menunjukkan makin tingginya tingkat ketidakpedulian di lingkungan wilayah tersebut.

Adapun makin kecil (mendekati 0) menunjukkan makin rendah tingkat ketidakpedulian atau makin peduli (2018, Laporan Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup Indonesia). IPKLH tersebut berdasarkan empat dimensi yaitu dimensi pengelolaan energi, dimensi penghematan air, dimensi transportasi pribadi, dan dimensi pengelolaan sampah. Dari empat dimensi di atas, dimensi pengelolaan sampah yang mempunyai nilai indeks paling besar yaitu sebesar 0,72.

Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpedulian terhadap pengelolaan sampah di Indonesia tergolong tinggi. Tingginya nilai indeks ketidakpedulian terhadap pengelolaan sampah ditunjukkan dari perilaku rumah tangga terhadap penanganan sampah seperti membakar sampah (53%), membuang sampah di sungai/got/selokan (5%), membuang sampah sembarangan (2,7%), dam menimbun sampah (2,1%). Selain itu juga sebanyak 81,4 persen rumah tangga tidak peduli sampah plastik.

Untuk Provinsi Jateng memiliki nilai IPKLH sebesar 0,51 poin, dimensi pengelolaan sampah menjadi nilai indeks tertinggi yakni sebesar 0,75 (melebihi angka nasional). Selanjutnya diikuti dimensi transportasi pribadi sebesar 0,65, dimensi penghematan air sebesar 0,51 dan dimensi pengelolaan energi sebesar 0,14.

Cukup Tinggi

Nilai indeks ketidakpedulian pengelolaan sampah di Jateng cukup tinggi, bahkan mengalahkan angka nasional. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga di Jateng cukup banyak yang tidak peduli terhadap pengelolaan sampah. Upaya pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun kita perlu bersama-sama dan bahumembahu antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah mengatasi permasalahan sampah ini. Dengan berkembangnya bisnis kuliner dari makanan siap saji sekarang ini menghasilkan sampah berupa wadah tempat makanan, wadah tempat minuman, sendok dan garpu sekali dan pembungkusnya.

Hal ini juga menyumbang timbunan sampah plastik khususnya di daerah perkotaan. Padahal dampak negatif lingkungan yang tercemar sampah ini tidak main-main luasnya, dimulai dari rusaknya lingkungan, bencana banjir, sumber penyakit, pencemaran air, udara dan tanah, meningkatkan gas rumah kaca, dan permasalahan lainnya. Tidak dapat dimungkiri makhluk hidup sangat bergantung pada alam.

Kita wajib melestarikan dan membuat bumi menjadi tempat layak huni dan nyaman ditempati sehingga kita bisa mewariskan lingkungan yang baik buat generasi penerus. Mulai berubah dari membawa tas belanja sendiri, tidak menggunakan botol plastik sekali pakai, memilah sampah, mendaur ulang sampah, mengurangi bahkan kalau bisa tidak menghasilkan sampah plastik.

Kolaborasi antara pemerintah daerah/lembaga terkait untuk membangun pengelolaan sampah yang tepat dan segera sangat diperlukan. Pengelolaan sampah secara menyeluruh meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan proses akhir perlu dikelola secara baik. (34)

Muna SSi, statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Demak.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar