Serangan Drone ke Saudi

Oleh Andi Purwono

SEPULUH pesawat nirawak (drone) menyerang kilang Abqaiq dan Khurais yang dikelola perusahaan minyak Aramco milik Arab Saudi pada Sabtu lalu (13/9). Akibatnya, produksi minyak negara itu anjlok dan pasokannya ke pasar dunia berkurang. Kejadian ini membuat para pemimpin dunia khawatir. Apa makna perkembangan ini bagi politik global?

Perang seringkali kehilangan nalar logisnya. Kaum idealis hubungan internasional menyebut perang sebagai tindakan irrasional. Norman Angel dalam karya klasiknya The Great Illusion: A Study of the Relationships of Military Power in Nations to Their Economic and Social Advantage (1910) bahkan menyebutnya sebagai ilusi besar karena gambaran keuntungan yang bakal diraih dari perang sebenarnya semu belaka.

Dalam konteks itu, sejumlah makna dari kejadian ini bisa kita baca. Pertama, dalam perspektif konflik, serangan bisa dibaca sebagai political sabotage (sabotase bermuatan politik) yang dimaksudkan melemahkan Saudi. Pilar ekonomi Saudi yang masih ditopang sumber minyak dicoba digoyahkan dengan menghancurkan kilangnya. Tentu harapannya agar kekuatan nasionalnya melemah-berkurang. Hanya saja belum jelas siapa di balik sabotase ini.

Serangan terhadap pabrik minyak Arab Saudi diklaim kelompok Houthi dilakukan ìorang Yamanî sebagai balasan terhadap serangan koalisi militer pimpinan Saudi dalam perang di Yaman. Namun koalisi Saudi yang bertempur di Yaman menyatakan temuan awal bahwa serangan tidak datang dari Yaman dan sedang diselidiki. Di sisi lain Iran juga menolak semua tudingan yang diarahkan pada Teheran.

Jika pernyataan pihak Houthi benar, maka hal ini menegaskan kompleksitas konflik. Konflik Yaman telah lama menyeret banyak aktor luar. Akibatnya, tentu konflik menjadi makin susah terurai. Karenanya serangan menjadi eskalasi yang berbahaya dan Indonesia secara resmi telah menyatakan kecaman terhadapnya.

Kedua, dalam perspektif ekologi, perkembangan ini menyedihkan dan menambah panjang daftar penyerangan sekaligus penggunaan elemen lingkungan untuk tujuan perang. Meski belum ada laporan resmi, kerusakan lingkungan akibat pencemarannya tidak bisa diabaikan. Apalagi, melihat besarnya jumlah minyak yang terbakar.

Kita bisa menyebut contoh senada dari kejadian yang fenomenal pada masa lalu.

Dalam Pe r a n g Teluk II tahun 1991, pasukan Irak pimpinan Presiden Saddam Hussein melakukan bumi hangus terhadap ladang minyak Kuwait. Bahkan karena mereka mulai terdesak oleh pasukan multinasional pimpinan Amerika Serikat, mereka juga me n ump a h - kannya. Angkasa menghitam akibat pembakaran ladang minyak dan puluhan kilometer pantai tercemar tumpahan minyak yang sengaja dibuang untuk memperlambat pergerakan pasukan multinasional. Ribuan biota mati dan degradasi lingkungan luar biasa terjadi.

Ketiga, dalam perpektif ekonomi global, dampak negatif serangan terhadap pasokan supply minyak dunia sangat dikhawatirkan. Ketakutan ini sangat beralasan karena meski sumber energi alternatif mulai dikembangkan, namun bahan bakar fosil belum tergantikan peran dominannya. Ekonomi dan industri global masih sangat tergantung padanya.

Saudi Arabia adalah eksportir minyak terbesar di dunia. Serangan mengurangi 5,7 juta barel per hari (bph) atau 50% produksi minyak mentah Saudi dan lebih dari 5% dari pasokan dunia. Akibatnya, harga minyak mentah dunia sempat melonjak 10 dollar AS menembus level 60 dollar AS per barrel. Banyak negara termasuk Indonesia sangat mengkhawatirkan hal ini karena dampak buruknya bagi sektor-sektor pembangunan nasional. Amerika bahkan menggelontorkan cadangan minyaknya untuk mengamankan situasi.

Kejahatan Luar Biasa

Mencermati arti pentingnya serta bahaya serangan pada minyak dunia, sejumlah pemikiran layak diajukan. Pertama, mengategorisasikan kejadian sebagai kejahatan luar biasa dan menghukum pelakunya. Dalam Hukum Perang, kompleks produksi minyak seperti itu tentu bukanlah fasilitas militer yang boleh diserang. Karenanya, serangan merupakan pelanggaran yang tidak sejalan dengan prinsip pembedaan (distinction) sasaran serangan.

Lebih lanjut untuk mencegah berulangnya kasus, diperlukan penguatan sanksi. Bagi pelaku kejahatan perang terhadap kemanusiaan (crime against humanity), mekanisme pengadilan nasional dan internasional telah beberapa kali dilakukan. Karenanya, perlu dirumuskan konsep senada bagi kejahatan perang luar biasa yang menya s a r aset y a n g sangat vital perannya bagi masyarakat luas semacam itu.

Kedua, sebagai antisipasi peningkatan keamanan industri vital mutlak diperlukan. Kejadian Sabtu lalu bukanlah serangan yang pertama karena Abqaiq pernah diserang oleh militan Al-Qaida pada 2006. Saudi juga sudah diberi masukan untuk meningkatkan keamanannya. Seharusnya, sebagai fasilitas paling kritis, ladang minyak bisa diberi perlindungan super bahkan dari serangan drone sekalipun. Apalagi menurut Stockholm International Peace Research Institute, negara itu menggelontorkan banyak dana hingga US$ 67,7 juta pada 2018 untuk keamanan negaranya.

Di dunia yang makin saling tergantung, kita tidak menginginkan ada faktor yang tidak terduga dan ketidakpastian yang membahayakan ekonomi dunia. Karenanya, selain hukuman yang berat antisipasi memadai sangat dinanti.(34)

Dr Andi Purwono, dosen Hubungan Internasional FISIP dan Wakil Rektor III Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar