Munas Kriwikan Dadi Grojogan

SM/kapanlagi
SM/kapanlagi

SUDAH lewat pukul 19.00. Rumah Blogger Indonesia (RBI) di Kerten, Solo, mulai didatangi anak-anak muda. Makin malam kian banyak yang datang. Itu di luar dugaan. ”Waduh, bagaimana kalau yang datang ternyata sangat buanyak? Terus acaranya harus dikemas seperti itu?

Bagaimana kalau mereka berharap Didi Kempot juga hadir? Sungguh, itu pertanyaan-pertanyaan yang membuat kami khawatir,” kata Kobar Nindradewa. Ternyata dugaan anak muda dari RBI itu benar. Kriwikan dadi grojogan, karena yang datang ratusan orang. Namun Kobar dan kawan-kawan tak perlu khawatir.

Sebab, akhirnya Musyawarah Nasional (Munas) Lara Ati berlangsung lancar dan sukses. Bahkan sang idola, Didi Kempot, benar-benar hadir. ”Sungguh tadi kami bermaksud gojekan saja. Namun ternyata diseriusi ratusan penggemar Mas Didi Kempot,” katanya. Itulah antara lain kondisi menarik Munas Lara Ati di RBI, beberapa waktu lalu.

Namun apakah itu Munas Lara Ati? Itulah acara yang digagas anak-anak muda dari RBI. Sebuah acara unik yang melahirkan komunitas Sadboys dan Sadgirls yang kini kondang bersama Didi Kempot yang juga makin masyhur. Semua bermula dari kecintaan anak-anak muda RBI terhadap lagu-lagu Didi Kempot.

Selain Kobar, sebutlah juga ada Fajar Romadona, Sehat Tri Handoyo, Mohammad Ridwan Niransyah, Alan Bona Sukarno, Bryan Barcelona, Kurniawan Niko, Erwin Widianto, Adimas Imanuel, dan Aziz Prasetyo Aji.

Kecintaan itu membuat mereka mengidolakan sang penyanyi, Didi Kempot. ”Awal Juni lalu, sepulang melihat konser Mas Didi Kempot di Balekambang, teman kami Fajar Romadona meng-apload video lagu ‘Cidra’ di Instagram @jarkiyo.

Oleh orang lain, rekaman itu diunggah lagi di media sosial dan ternyata menjadi viral,” tutur Sehat Tri Handoyo. Keviralan video itu membuat Sehat dan kawan-kawan tidak hanya kaget. Karena di RBI, dunia maya adalah juga dunia mereka. Jadi keviralan video itu membuat mereka justru gelisah dan berpikir ulang.

Mereka gelisah karena digoda pertanyaan: bagaimana agar keviralan itu terus terjaga. ”Dari situlah kemudian kami menggagas acara Munas Lara Ati. Lalu melalui Twitter kami umumkan agenda acara munas. Ternyata yang hadir ratusan orang dari berbagai daerah. Padahal, kami berjanji andai yang mengikuti munas hanya kami, tidak masalah,” tutur Kobar.

Cinta Tragis

Munas Lara Ati lahir dari simpulan anak-anak muda RBI tentang sosok Didi Kempot. Dari riset kecil, mereka menyimpulkan kebanyakan lagu penyanyi Jawa itu berkisah tentang cinta tragik. Tentang perasan galau, sedih, patah hati, nelangsa, dan sakit hati. Dari sanalah, Lara Ati itu mereka jadikan label musyawarah nasional. ”Dalam benak kami, munas itu ya kayak acara deklarasi. Memang kami menginginkan ini menjadi acara deklarasi penggemar Didi Kempot.

Karena itu, kami juga sudah mempersiapkan beberapa hal, meskipun bisa dibilang serbamendadak, spontan, dan sangat-sangat sederhana,” kata Sehat. Mereka memasang backdrop 2-3 meter ke dinding. Di sana tertera tulisan, antara lain, Solo Sad Boys Club, Umat Lara Ati Lord Didi, dan Didi Kempot The Godfather of Brokenheart.

Mereka juga sudah menyiapkan deklarasi. Atas dasar kecintaan terhadap Didi Kempot dan karyanya, mereka bermaklumat. Pertama, mendeklarasikan sebagai fanas berat Didi Kempot Garis Lucu dengan nama Sad Boys Club. Kedua, menikmati lara ati melalui lagu-lagu Didi Kempot.

Ketiga, mendukung dan men-support semua kegiatan Didi Kempot. ”Tapi setelah kami kaget yang datang ratusan orang dan lebih kaget lagi Mas Didi Kempot benar-benar hadir, kami malah lupa semua yang kami siapkan.

Semua jadi ambyar. Ha-ha-ha,” ujar Kobar. Akhirnya, acara itu berubah menjadi dialog antara penggemar dan sang idola. Duduk di kursi kayu sederhana, Didi Kempot mendapat jawaban atas rasa penasaran saat konser di Balekambang. ”Saya kok melihat ada anak-anak muda akademis yang nonton konser saya.

Ternyata benar, saya membuktikan di sini,” katanya. Betapapun sederhana Munas Lara Ati, nyatanya kemudian menjadi torehan sejarah besar. Acara itu menjadi viral di dunia maya, sebelum dilanjut dengan konser Didi Kempot dalam Ngobam bersama Gofar Hilman. Kemasyhuran Didi Kempot pun menjadi-jadi ketika banyak stasiun televisi menyambut dalam berbagai acara. ”Bahwa kami penggemar lagu-lagu Mas Didi Kempot, itu sungguh benar.

Namun soal acara munas, sungguh semula hanya guyonan kami. Namun ternyata luar biasa jadinya,” ucap Kobar. Munas itu juga menjadi semacam perlawanan budaya atas pandangan Jakarta sebagai sumber segalanya, bahwa apa pun bisa menasional bila melalui Jakarta lebih dulu. Di tangan anak-anak muda RBI, pandangan itu terpangkas habis.

Semua itu bisa terjadi karena mereka memiliki senjata pemungkas: dunia maya dalam pangkuan teknologi internet. Tidak aneh jika anak-anak muda di RBI Solo bisa melakukan perlawanan budaya itu.

Di sana, dunia bisa menjadi terasa kecil. Jarak menjadi sedemikian pendek, ketika RBI menjadi semacam rumah bagi anak muda yang intens dalam perkembangan dunia maya, khususnya media sosial, baik Facebook, Instagram, maupun Twitter. ”Setelah ini kami masih ingin melakukan beberapa agenda lagi.

Antara lain memetakan sekaligus membuat jaringan Sadboys dan Sadgirls di seluruh Indonesia. Kami juga ingin membuat acara untuk merayakan 30 tahun Lord Didi berkarya,” kata Sehat, yang diamini Kobar.(Wisnu Kisawa-28)


Berita Terkait
Loading...
Komentar