Bank Genetika Sayuran UGM

Simpan Ribuan Jenis Sayur dari Berbagai Daerah

SM/dok  -  HASIL PERTANIAN : Berbagai jenis sayur langka dipamerkan di UGM termasuk hasil pertanian dari Bank Sayuran. (24)
SM/dok - HASIL PERTANIAN : Berbagai jenis sayur langka dipamerkan di UGM termasuk hasil pertanian dari Bank Sayuran. (24)

Pusat Inovasi Agroteknologi Universitas Gajah Mada (UGM) mengoleksi 1.111 jenis sayuran yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Koleksi tersebut disimpan dalam Bank Genetika Sayuran sebagai penyimpanan plasma nutfah sayuran pertama di Indonesia. 

BANK Genetika Sayuran menyimpan berbagai jenis tanaman sayur seperti kacang panjang, cabai, timun. Bahkan ada juga jenis sayuran yang hampir punah seperti kecipir dan kenikir.

Lembaga yang berada di bawah naungan Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM tersebut juga ingin mengumpulkan sayuran tropis khas daerah. Sayuran-sayuran itu, selain disimpan juga untuk disilangkan.

Peneliti dari PIAT UGM Siwi Indarti mengungkapkan, langkah mengoleksi berbagai jenis tanaman sayuran akan terus dilakukan dengan melilbatkan mahasiswa yang mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kepada mereka yang dikirim ke seluruh pelosok Indonesia, ia berpesan untuk mengumpulkan berbagai jenis sayur di setiap lokasi dalam bentuk benih.

''Kami sortir di sini, diperbanyak dan dikarakterisasi untuk memilih keungggulannya masing-masing,'' ungkap Siwi. Ia mencontohkan untuk tanaman cabai, setiap daerah memiliki karakter dan keunggulan masing-masing, dari yang tahan hama dan penyakit hingga tingkat produktivitas.

Sayuran tersebut disilangkan dengan jenis sayuran yang sama dari daerah lain untuk mendapatkan varietas baru. Meski baru didirikan, koleksi Bank Genetik Sayuran selama setahun ini sudah cukup banyak. Ia merencanakan pada 2022 bisa meluncurkan varietas tanaman sayuran baru dari hasil persilangan berbagai koleksi genetik.

Expo Sayuran

Selain disimpan, secara berkala PIAT menggelar UGM Vegetable Expo sebagai upaya mempromosikan gerakan masyarakat mengkonsumsi sayuran dari benih sayur yang bermutu tinggi. Ini sekaligus sebagai kampanye pentingnya makan sayur.

Pasalnya, banyak orang terutama anak muda yang tak menyukai sayuran. Pegiat Warung Petani DIY Asti Irwandiyah mengatakan, pihaknya menggandeng sekitar 300-an petani untuk memproduksi tanaman sayuran bermutu tinggi melalui kegiatan pengolahan pertanian berkelanjutan.

Hasil panen dari petani dibeli dan dipasarkan langsung oleh kelompok Warung Tani dengan harga tinggi. ''Kami ingin memangkas rantai distribusi hasil panen petani. Kami pasarkan secara onlinedan offline lewat komunitas,'' ungkap Asti.

Meski baru berjalan selama satu tahun, setiap hari omzet penjualan hasil panen petani pada angka Rp 1-2 juta. Sebelumnya, petani diikutkan pada kegiatan sekolah tani agar bisa megolah sayuran dan buah-buahan hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Ia mengajari mereka mengolah pascapanen dengan sekaligus menanam sayuran yang sudah langka seperti jus daun kelor, jus buah bit, jus daun pegagan, manisan jahe, dan aneka salad. (Agung PW-56)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar