Menyambut Festival Diplomasi

Oleh Andi Purwono

PERHELATAN akbar Diplomacy Festival (Diplofest) akan digelar Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berkolaborasi dengan Pemprov Jateng dan Pemkot Semarang pada 29-30 Agustus. Selain dihadiri duta besar, pejabat teras Kemlu, sekitar 12.000 pelajar SMAdan 6.000 mahasiswa, puncak acara bakal diisi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Mencermati globalisasi dan tantangan eksternal yang kian kompleks, apa makna penting Diplofest ini? Diplomasi ibarat "ruang mesin" hubungan internasional (Raymond Cohen: 1998) yang posisinya sangat vital. Sebagai proses komunikasi antarentitas yang diatur, ruang lingkupnya kian meluas dari urusan high politics keamanan nasional hingga low politics seperti ekonomi, kesehatan, lingkungan, agama, olahraga, dan sosial budaya.

Kita juga bisa melihat pertalian dan hubungan simbiosis yang makin tumbuh antara pemerintah dan aktor swasta, termasuk kelompok dan individu, seperti disebut Brian Hocking (1999) sebagai diplomasi katalistik. Dalam konteks seperti itulah, kegiatan Diplofest ini menemukan arti pentingnya.

Pertama, untuk membumikan diplomasi di tengah masyarakat sebagaimana dikatakan Menlu. Posisi diplomasi beserta peran penting dan aktornya akan dikenalkan. Pemahaman tentang diplomasi ini menjadi keniscayaan agar kita paham hak, kewajiban, posisi, dan peran yang bisa dilakukan dalam dunia yang kian saling bergantung. Pada gilirannya, seluruh anggota masyarakat diharapkan bisa berpartisipasi sesuai porsi.

Diplomasi jalur pertama (first track) oleh negara dan jalur kedua (second track) akan saling menguatkan melengkapi. Konsep total diplomacy yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam mengejar kepentingan nasional juga bisa menjadi kekuatan pasti. Kedua, sebagai media transfer pengalaman dan kemahiran diplomasi. Hal ini tercermin dari kehadiran praktisi dan agenda yang tersaji.

Selain public lecture di beberapa universitas, ada agenda berbincang dengan para diplomat tentang pengalamannya (Diplomates), pelatihan soft skills diplomasi dari simulasi sidang hingga public speaking (Talking Points) belajar keprotokoleran pergaulan internasional (Protocol 101), mengenal negara sahabat (Friends of Indonesia), serta informasi beasiswa dan tes bahasa asing (Edufair). Pembekalan secara langsung oleh para diplomat ini menjadi pemantik motivasi untuk menekuni dunia diplomasi.

Diplomasi Milenial

Karena itu, target sasaran Diplofest kepada pelajar dan mahasiswa milenial juga tepat. Alasannya, persoalan politik luar negeri tidak selalu populer, kadang sulit dipahami dan tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat umum sehingga akan lebih mudah disampaikan kepada kaum terpelajar seusia mereka. Selain itu, mengenalkan wawasan dan praktik diplomasi kepada penggiat diplomasi masa depan adalah investasi berarti.

Hal ini bisa dilanjutkan dengan kunjungan, magang, hingga riset dan kajian bersama. Sejumlah jurusan hubungan internasional yang telah tumbuh di Jateng, termasuk yang tertua di Unwahas sejak tahun 2000, tentu membutuhkan kolaborasi dengan Kemlu demi sinergi. Ketiga, dalam perspektif sistem politik, Diplofest sangat positif untuk meraih dukungan dan masukan (support and demand) domestik.

Keberhasilan diplomasi selalu dimulai di dalam negeri. Karena itu, informasi tentang langkah, prestasi, dan kontribusi diplomasi perlu dipublikasikan. Sebaliknya, masyarakat juga bisa memberi masukan karena politik luar negeri hakikatnya ditujukan untuk memperjuangkan aspirasi rakyat.

Proses ini dipastikan turut menguatkan legitimasi Kemlu dalam upaya terus melindungi dan mempromosikan kepentingan bangsa serta aktif menjaga perdamaian dunia. Karena itu, informasi tentang perlindungan WNI di luar negeri, peran RI di ASEAN, PBB, dan organisasi internasional lain, posisi di tengah perang dagang, dan persoalan keseharian seperti aplikasi safe travel untuk bepergian ke luar negeri juga menjadi agenda menarik.

Informasi rencana Presiden Jokowi memperluas kewenangan Kemlu di bidang diplomasi ekonomi juga pasti dinanti. Keempat, bagi Jateng, kegiatan ini bisa dijadikan momentum menguatkan diplomasi perdagangan, investasi, pariwisata, agama, hingga seni budaya yang dilakukan selama ini.

Selain persatuan warganya yang lintasagama dan gayeng, provinsi ini juga memiliki aset diplomasi seperti Borobudur, Prambanan, Karimunjawa, produk ukir, batik, kerajinan, knalpot, rambut, hasil pertanianperikanan, serta aneka potensi unggulan lain yang mendunia. Beberapa kerja sama Sister Province dan Sister City juga telah dimiliki dan tinggal diefektifkan.

Ke depan, kebijakan perekrutan diplomat muda yang cakap di bagian kerja sama internasional tampaknya menjadi strategi yang juga diperlukan. Sejarah mencatat, kemerdekaan Ibu Pertiwi juga ditopang oleh perjuangan diplomasi. Melalui Diplofest kita berharap akan muncul putra-putri terbaik Jawa Tengah yang memperjuangkan kepentingan nasional di kancah global dengan mumpuni dan percaya diri. (40)

––Dr Andi Purwono, dosen Hubungan Internasional FISIP dan Wakil Rektor III Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar