TAJUK RENCANA

Kabinet Digital Segera Tiba

Presiden Joko Widodo agaknya kian memahami betapa saat ini manusia tidak bisa lagi dipisahkan dari dunia digital atau virtual. Presiden tampak kian yakin betapa rakyat telah hidup dalam posrealitas atau telah memasuki zaman "the net and the next", zaman internet dan zaman orang-orang yang berpikir untuk masa depan. Karena itulah, tidak salah ketika Presiden bilang, "Ini era revolusi digital. Kami akan memberikan pos-pos kepada anak-anak muda yang paham dunia digital, bahkan native digitalÖ Sejak lahir otaknya, budayanya sudah digital."

Tak hanya itu. Jokowi juga akan melirik orang-orang tak muda yang paham dunia digital. Ini berarti Presiden benar-benar berkeinginan membentuk "kabinet digital". Kabinet semacam ini diperlukan untuk menghadapi kehidupan yang serbadigital pula. Sangat tak masuk akal menghadapi dunia serbadigital dengan cara-cara yang sangat konvensional. Sangat tak masuk akal pula memasuki dunia virtual dengan menteri-menteri berpikiran zadul. Menteri-menteri harus khatam dunia digital atau virtual.

Tentu tidak mudah bagi siapa memasuki dunia serbadigital secara mendadak. Karena itulah para menteri, terutama yang berkait dengan ekonomi, segera memahami potensi ekonomi digital. Pemahaman itu akan bermanfaat sekali untuk mengajak publik hijrah dari cara-cara berekonomi secara konvensional ke ekonomi digital. Jika warga dan pemerintah sudah sejalan dalam ekonomi digital, maka perjalanan menempuh revolusi industri berbasis dunia digital dengan cepat bukanlah hal yang mustahil.

Jadi, yang perlu segera dilakukan, Presiden tidak boleh hanya mengkreasi "kabinet digital". Pemahaman baru berdigital juga perlu dikonstruksi. Jangan sampai masyarakat memanfaatkan internet sebatas untuk main games. Masyarakat di sebuah republik yang sadar digital haruslah bisa juga memanfaatkan internet sebagai pemenuhan kebutuhan- kebutuhan bisnis dan lebih luas lagi kepentingan-kepentingan ekonomi. Tak pelak lagi, harus ada edukasi serius menuju dunia serbadigital yang menyejahterakan.

Apakah "kabinet digital" bisa menyejahterakan masyarakat digital? Harus bisa dan mampu mewujudkannya dengan cepat. Hanya, jangan sampai "kabinet digital" melahirkan masyarakat digital yang liar dan barbar. Dalam banyak kasus, dunia digital masih kerap digunakan untuk memproduksi hoaks. Hoaks jelas menghancurkan apa pun yang sedang ditegakkan oleh pemerintah. "Kabinet digital" justru harus mampu melahirkan pembangunan yang adil dan beradab yang bisa dikontrol secara virtual dan transparan.

Hanya, upaya Jokowi tak sepenuhnya didukung. Ada sebagian dari kita yang sudah nyinyir ketika Jokowi hendak melibatkan anak-anak muda yang paham dunia digital ke dalam kabinet. Presiden harus berani melawan pendapat- pendapat yang meremehkan anak-anak muda itu. Melawan dengan apa? Tentu saja melawan dengan bukti. Melawan dengan benar-benar memberi kesempatan kepada anak-anak muda dan segera menunjukkan betapa dengan melibatkan anak-anak muda yang paham dunia digital di dalam kabinet, Indonesia akan lebih maju dan kompetitif dalam persaingan global.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar