TAJUK RENCANA

Ikhtiar Industri Mebel Merebut Pasar

Kalangan pengusaha dan perajin mebel berikhtiar untuk merebut kembali pasar lokal yang mulai dikuasai produk impor. Ancaman produk impor terasakan menembus pasar 45-60 persen. Ini menjadi ancaman sekaligus tantangan bagi industri mebel Tanah Air. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Kayu (Himki) terus berinovasi agar produk mereka lebih kompetitif. Termasuk menggelar roadshow pameran komponen furnitur dan permesinan kayu di Jakarta pada pekan kedua Oktober.

Pertumbuhan properti, ruang publik, industri, dan perkantoran merupakan peluang pasar yang bisa dijadikan target. Tepat sekali tekad Sekjen DPP Himki Abdul Sobur dan Ketua DPD Himki Soloraya Adi Dharma Santosa bahwa penguasaan pasar lokal menjadi keharusan. Bagaimana cara menguasai pasar tersebut? Tentu produk industri lokal harus mampu bersaing dengan produk luar negeri. Situs Kementerian Perindustrian mengambil contoh produk Informa (Swiss) dan Ikea (Swedia) menjadi tantangan.

Dua produk tersebut 90-95 persen berkomponen impor. Produk menyasar segmen properti menengah atas. Barang-barang yang diproduksi memiliki kualitas tinggi, desain bagus, dan unik. Harganya bisa dibilang tidak murah, namun memiliki segmen pasar jelas. Untuk itu, Himki mendorong anggotanya semakin berinovasi dan berkreasi dalam menghasilkan produk, desain, kualitas, pemasaran, dan harga. Kita yakin karya dalam negeri mampu bersaiang dengan produk luar negeri.

Banyak produk lokal mampu menembus pasar dunia meski jumlahnya belum signifikan. Ini menunjukkan kualitas produk kita tidak kalah. Bisa saja pasar baik lokal, nasional, maupun internasional belum banyak mengetahui produk kita. Pameran industri dan kerajinan mebel menjadi salah satu wahana untuk memamerkan produk. Selanjutnya, pameran ditindaklanjuti dengan penawaran ke dunia properti. Tentu akan menarik apabila pemerintah mendukung dengan mengeluarkan regulasi.

Katakanlah regulasi bahwa instansi negara, BUMN, dan institusi pemerintah wajib menggunakan produk lokal yang harganya lebih murah dibanding produk impor. Ya tidak mudah memang, karena serbuan produk terutama dari Tiongkok, telah membanjiri pasar. Produk itu dijual dengan harga sangat kompetitif dan pasokan melimpah. Nah di sinilah peran pemerintah untuk mengendalikan komponen bahan baku dan produk yang dipasarkan di dalam negeri harus memenuhi standar dan kualifikasi nasional.

Selain merebut pasar lokal, anggota Himki perlu melihat pula peluang pasar ekspor. Perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat memang membuat pasar internasional tidak stabil. Juga krisis ekonomi global belum pulih 100 persen. Tapi promosi dan ekspansi pasar bisa terus berjalan memanfatkan kecanggihan teknologi informasi. Tidak harus membuka pameran di luar negeri, tetapi produk bisa dipajang di etalase digital. Asal dikelola secara serius, merebut pasar lokal dan mengatrol ekspor akan jadi kenyataan.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar