Bowo Sidik Didakwa Terima Suap Rp 2,6 Miliar

JAKARTA- Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa Bowo Sidik menerima suap Rp 2,6 miliar karena membantu PT HTK mendapatkan kerja sama pekerjaan pengangkutan atau sewa kapal dari PT Pilog. Uang suap itu disebut diberikan Asty, perwakilan PTHTK.

Semula, Bowo Sidik Pangarso meminta jatah dari perusahaan pemilik kapal yang mengangkut amoniak. Jatah yang diminta anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar itu dianggap terlalu besar.

Akhirnya terjadi tawar-menawar. Sebelumnya, terjadi pemutusan kontrak kerja antara PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) dan PT Kopindo Cipta Sejahtera (KCS) untuk pengangkutan amoniak. PTKCS merupakan cucu perusahaan PT Petrokimia Gresik.

Dalam kerja sama tersebut, PTHTK sebagai pengelola kapal MT Griya Borneo mengangkut amoniak bagi PT KCS untuk lima tahun, yakni 2013- 2018. Kontrak putus pada 2015 ketika PTPupuk Indonesia Holding Company (PIHC) sebagai BUMN didirikan. Urusan pengangkutan dialihkan ke PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) sebagai anak usaha dari PTPIHC.

PT HTK memutar otak agar kapal bisa digunakan PTPilog, meskipun PT Pilog memiliki kapal sendiri. Asty Winasti sebagai General Manager Komersial PT HTK dikenalkan ke Bowo yang saat itu bertugas di Komisi VI DPR.

Minta Fee

Perkenalan Asty dengan Bowo disebut jaksa atas peran rekannya, yaitu Steven Wang, Komisaris Utama PT Tiga Macan.

“Dalam Berita Acara Pemeriksaan No 53, ‘Bahwa sekitar bulan Desember 2018, Steven Wang mengatakan kepada saya apabila mendapatkan kontrak dengan Pilog, Bowo meminta fee pribadi 2 dolar AS/metrik ton dari volume amoniak yang diangkut MT Griya Borneo yang disewa PTPilog,” ungkap jaksa membacakan BAP Asty dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (21/8).

Menurut Jaksa, selain itu Steven Wang juga meminta fee 3% dari penyewaan kapal Borneo karena fee tersebut diminta Bowo dan Steven sudah berjasa membantu mediasi. hwa ada permintaan fee dari Bowo dan Steven, saya laporkan ke Taufik Agustono, Direktur PT HTK. Taufik mengatakan kepada saya agar dihitunghitung dulu yang diperoleh. Maka saya diminta negosiasi dengan Steven.

Setelah dibicarakan internal PT HTK fee 2 dolar AS terlalu tinggi. Saya diminta menghubungi Steven dan menyampaikan ke Bowo fee 1,5 dolar AS/metrik ton’,” ungkap jaksa yang masih membacakan BAPtersebut.

Asty yang duduk di kursi saksi dalam sidang itu, mengiyakan BAP yang dibacakan jaksa. Permintaan uang itu, disebut Asty terjadi sebelum PT HTK menjalin kontrak dengan PT Pilog. “Iya benar,” kata Asty. Dia menandaskan, informasinya apabila kontrak berjalan maka akan ada komersial fee untuk manajemen 2 dolar AS/metrik.

Selanjutnya kami evaluasi,” tegas Asty. Bowo juga disebut meminta uang lebih dulu ke Asty Rp 1 miliar. Internal PT HTK awalnya merasa permintaan itu tidak mungkin diberikan karena kontrak belum berjalan. Namun akhirnya, uang diberikan meski oleh Asty disebut sebagai pinjaman. “Akhirnya saya tidak punya kapasitas bicara internal.

Hasil pertemuan agar advance payment bukan operasional beliau (Bowo) namun merupakan pinjaman. Nanti kontrak berjalan, akan dipotong dari komersial manajemen. Realisasi sudah berjalan dalam setiap pembayaran,” kata Asty. (D3-41)


Loading...
Komentar