Tiongkok Kecam Tawaran Taiwan

SM/Antara : MEMBERSIHKAN MESIN : Pendukung anti uu ekstradisi membersihkan mesin tiket di stasiun Sham Shui Po sebagai bentuk Kampanye Pembersihan di Hong Kong, China, Senin (19/8). (55)
SM/Antara : MEMBERSIHKAN MESIN : Pendukung anti uu ekstradisi membersihkan mesin tiket di stasiun Sham Shui Po sebagai bentuk Kampanye Pembersihan di Hong Kong, China, Senin (19/8). (55)

HONG KONG - Ketegangan antara Hong Kong dan Tiongkok merembet hingga Taiwan.

Beijing mengecam langkah Taiwan yang menawarkan suaka bagi warga Hong Kong yang terancam diadili karena terlibat dalam unjuk rasa antipemerintah. Sebelumnya Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pada bulan lalu telah menyatakan dukungan dengan menawarkan suaka untuk sejumlah demonstran Hong Kong yang terus menggelar protes menuntut dicabutnya rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi dan menuntut reformasi demokrasi. Menanggapi hal itu, juru bicara kabinet Tiongkok pada Kantor Urusan Taiwan, Ma Xiaoguang, melontarkan peringatan untuk Taiwan. ”Berhenti merusak penegakan hukum di Wilayah Administratif Khusus Hong Kong, berhenti mencampuri urusan Hong Kong, dan berhenti memanjakan pelaku kriminal dengan cara apapun,” tegas Ma dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, Ma menyebut Taiwan telah ”mengabaikan fakta dan membalikkan hitam dan putih, tidak hanya menutupi kejahatan yang dilakukan sejumlah kecil militan Hong Kong, tapi juga mengobarkan arogansi mereka untuk menghancurkan Hong Kong”. Bulan lalu, puluhan aktivis Hong Kong yang dilaporkan terlibat aksi penyerbuan ke gedung parlemen setempat, melarikan diri ke Taiwan.

Otoritas Taiwan lantas menyatakan pihaknya akan memberikan bantuan bagi mereka yang mencari perlindungan. ”Mereka (Taiwan) secara terang-terangan mengklaim akan memberikan suaka (kepada para demonstran), membuat Taiwan menjadi ‘tempat berlindung yang menampung para kriminal’, lantas bagaimana dengan keselamatan dan kesejahteraan rakyat Taiwan?” tanya Ma. Hingga kini, otoritas Tiongkok menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang menunggu reunifikasi. Namun Taiwan memiliki pemerintahan demokrasi sendiri.

Taipan Tentang Demo

Unjuk rasa besar-besaran di Hong Kong diawali oleh penentangan terhadap RUU Ekstradisi yang tengah dibahas oleh parlemen. Aturan itu dinilai akan menggerus kebebasan yang kini berlaku di Hong Kong yang memiliki sistem pemerintahan sendiri. Taiwan belum mengakui konsep legal untuk suaka. Namun seringkali membiarkan para pembangkang Tiongkok untuk tinggal di wilayahnya dengan visa jangka panjang. Terpisah, Dewan Negara Tiongkok menyerukan pengembangan yang lebih besar dari Kota Shenzhen Selatan dan integrasi budaya dan ekonominya dengan negara bagian tetangga Hong Kong dan Makau. Pengarahan tersebut muncul ketika protes antipemerintah di Hong Kong mengancam status pusat keuangan Asia itu.

Hong Kong, salah satu pelabuhan tersibuk di dunia, berada di ambang resesi pertamanya dalam satu dasawarsa ketika protes antipemerintah yang keras membuat wisatawan takut dan menjepit penjualan ritel dan investasi. Meski perang dagang AS-Tiongkok memicu beberapa kerugian ini, unjuk rasa bermingguminggu telah mendatangkan malapetaka bagi investor dan menyebabkan kerusakan reputasi besar terhadap wilayah semi-otonom ini sebagai kekuatan ekonomi. Saat aksi unjuk rasa memasuki minggu ke-11 tanpa tanda-tanda melambat, analis memperkirakan Hong Kong akan mengalami resesi. Sekarang para miliarder di sana menyerukan agar protes berakhir. Menurut Indeks Miliarder Bloomberg, kekayaan bersih dari 10 taipan terkaya, yang mendapatkan kekayaan mereka dari perusahaanperusahaan yang terdaftar di Hong Kong, telah merosot miliaran sejak protes dimulai pada Juni. Orang terkaya Hong Kong, raja bisnis berusia 91 tahun Li Ka-shing, menjadi miliarder terbaru yang bergabung dengan kelompok pemrotes aksi unjuk rasa. Li, yang dijuluki ”Superman” di Hong Kong, mengeluarkan iklan satu halaman penuh di sebagian besar surat kabar lokal, mendesak penghentian kerusuhan ”atas nama cinta”. Iklan itu menampilkan kata dalam bahasa Tiongkok untuk ”kekerasan” dengan hiasan palang merah, diapit oleh slogan-slogan tentang mencintai Tiongkok dan mencintai Hong Kong.

Pengusaha, yang memiliki kekayaan sekitar 39 miliar dolar AS (atau setara Rp 390 triliun), ini mengakhiri iklan tersebut dengan ucapan ”dari seorang warga Hong Kong, Li Ka-shing”. Ketika gerakan unjuk rasa berlangsung berlarut-larut, ada kekhawatiran bahwa sektor properti, yang merupakan kunci utama ekonomi lokal, bisa berada dalam bahaya. Dikendalikan oleh miliarder mega-kaya, Hong Kong adalah rumah bagi real estat paling mahal di dunia, membuatnya jauh dari jangkauan banyak warganya. Rata-rata, sebuah apartemen nano yang seukuran tempat parkir, berharga sekitar Rp 14,75 juta per bulan untuk disewa. Sebagian besar pengunjuk rasa yang turun ke jalan adalah mahasiswa dan profesional muda.

Mereka memiliki sedikit harapan untuk bisa memiliki rumah sendiri, sehingga mengusik orang kaya dan berkuasa telah menjadi tujuan dari gerakan ini. ”Di Hong Kong, taipan properti mengendalikan pasokan tanah,” kata analis yang berpusat di Shanghai, Andy Xie. ”Beijing mengandalkan para taipan di Hong Kong untuk memerintah tempat itu, sehingga Pemerintah tak benar-benar bertanggung jawab. Semua taipan memiliki hubungan langsung ke Beijing,” kata Xie. (afp,abc-mn-44)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar