UGM Kembangkan Drone Amphibi

Permudah Pemetaan Gunung Berapi

SM/dok : UJI COBA : Tim UGM melakukan uji coba pesawat amphibi untuk memantau kondisi gunung berapi di Kali Opak.(55)
SM/dok : UJI COBA : Tim UGM melakukan uji coba pesawat amphibi untuk memantau kondisi gunung berapi di Kali Opak.(55)

Kondisi gunung api harus mendapat perhatian setiap saat apalagi yang masih terus aktif. Karena itulah tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan wahana yang memudahkan pemantauan.

NAMANYA Amphibi Gama V2. Drone unmanned aerial vehicle (UAV) berjenis fixed wings ini memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat di atas permukaan air maupun di darat.

Menurut Ketua Tim Pengem- Kondisi gunung api harus mendapat perhatian setiap saat apalagi yang masih terus aktif. Karena itulah tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan wahana yang memudahkan pemantauan.

tim melakukan pemotretan udara untuk menganalisis potensi dan risiko bahaya banjir di wilayah Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Ketika akan menjalankan misi, kami kesulitan mencari area yang datar dan cukup panjang saat akan melakukan take off dan landing,” ungkap Tri di kampus, kemarin.

Drone UAV Amphibi Gama V2 merupakan pesawat terbang tanpa awak amfibi generasi kedua dari pengembangan pesawat UAV Gama UX 628. Ketika susah mencari area yang bisa digunakan untuk take off dan landing, munculah pemikiran membuat pesawat UAV yang mampu tinggal landas dan mendarat di air.

Lebih Luwes

Dengan kemampuan itu, UAV Amphibi menjadi wahana yang luwes untuk monitoring berbagai jenis bencana termasuk banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran, dan angin ribut. Pesawat hasil pengembangan tim memiliki kemampun terbang selama sekitar 40 menit untuk jangkauan jelajah 40 kilometer dengan ketinggian jelajah maksimal 1.200 meter. Tak hanya itu, Amphibi Gama V2 juga mempunyai kecepatan maksimal pesawat 25 meter per detik, kecepatan jelajah pesawat 13 meter per detik, serta kecepatan minimal 8 meter per detik.

Amphibi Gama V2 memiliki panjang 1.350 mm dengan bentang sayap 2.000 mm. Adapun tubuh pesawat dibuat menggunakan bahan material komposit dengan kapasitas daya baterai LiPo 11.000 mAh. Pesawat berkapasitas muatan 1,5 kilogram dan beban muatan maksimal untuk take off 6 kilogram. ”Pesawat juga dilengkapi sensor akselerometer, sensor gyroscope, sensor barometer, sensor airspeed serta sistem navigasi GPS. Sistem penggerak menggunakan motor brushless dan kendali dengan motor servo. Pesawat juga dilengkapi mikroprosesor, kontrol manual berupa remote 2.4 Mhz, dan komunikasi telemetry 433 Mhz,” papar Tri.

Ia dan tim menambahkan sistem autopilot di dalamnya sehingga mampu terbang secara mandiri untuk monitoring maupun memetakan lingkungan sekitar gunung berapi. Apmhibi Gama V2 melibatkan banyak pihak selain Tri yakni Nur Achmad Sulistyo Putro SSi MCs, Ardi Puspa Kartika SSi MCs, Faisal Fajri Rahani SSi MCs, Prasetya Aditama SP SSi, Oktaf Agni Dewa SSi MCs serta Faris Yusuf Baktiar SSi. (Agung PW-56)


Berita Terkait
Loading...
Komentar