Jaga Paru-paru dari Polusi Kota

Oleh Irma Mutiara Manggia

BUKAN hal baru apabila polusi udara kota besar seperti Jakarta bisa menjadi ancaman bagi kesehatan paru-paru kita. Meskipun kota-kota di Jawa Tengah tidak separah ibu kota, banyaknya kendaraan bermotor dan pabrik membuat kita harus bijak dengan tidak mengabaikan kesehatan paru-paru.

Dr Dwi Bambang WSpPdari SMC Telogorejo Semarang mengatakan, polusi kendaraan, industri, pembakaran hutan, pembakaran rumah tangga, termasuk rokok, efeknya akan terasa untuk jangka waktu yang lama. Baik berupa gas maupun partikel seperti karbon monoksida, karbon dioksida, abu vulkanik, sulfur, dan ozon, semuanya tentu saja menyumbang dampak negatif terhadap kesehatan.

Penyakit yang muncul bisa berupa penyakit akut ataupun kronik. Penyakit akut misalnya timbulnya masalah pada jalan nafas seperti asma. Adapun penyakit kronik yang bisa terjadi antara lain bronchitis, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), atau kanker paru. "Empat persen dari penyebab kanker paru berasal dari polusi udara," ujar Dwi.

Melindungi Diri

Meskipun polusi udara sangat berbahaya, kita bisa mencegah atau melindungi diri. Bagi para pekerja industri atau pabrik, tentu saja harus menggunakan alat pelindung diri berupa masker, helm, dan baju terstandar. Penting juga untuk bergantian shift kerja, supaya bisa meminimalisasi terpapar debu dan ketika sedang tidak bekerja, waktunya bisa dimanfaatkan untuk berada di lingkungan yang bersih atau jauh dari polusi.

Adapun bagi para pengendara kendaraan roda dua, wajib mengenakan masker. "Jenis masker yang paling bagus memang N95, tapi karena harganya mahal dan materialnya yang kaku, orang cenderung memilih jenis masker lainnya," tutur Dwi.

Ia menjelaskan, menggunakan masker bedah yang harganya jauh lebih murah dan mudah didapat bisa digunakan. Karena sifatnya yang sekali pakai, Anda tentu saja harus menggantinya setiap selesai digunakan. Banyak pertentangan atau kontroversi mengenai masker bedah, karena dikatakan kurang layak.

Namun, ada beberapa hal yang bisa Anda perhatikan ketika mengenakan masker bedah untuk melindungi diri dari debu atau asap. Yakni bagian yang berwarna putih dihadapkan pada sisi luar, sedangkan bagian yang berwarna (biasanya biru atau hijau) berada pada bagian dalam.

Hal tersebut karena bagian warna putih yang bekerja menyaring mikroorganisme, supaya debu tidak masuk ke pernafasan. Berbeda dari orang yang sedang flu atau batuk, sisi putih ditempatkan pada bagian dalam dan sisi berwarna pada bagian luarnya. Hal tersebut supaya virus-virus tidak menyebar ke luar.

Adapun untuk situasi tertentu seperti adanya bencana kabut asap dari gunung meletus, menggunakan masker bedah tidak dianjurkan karena air, udara, dan debu bisa masuk melalui pori-pori. Namun tentu saja, lebih baik menggunakan masker ini lebih baik daripada tidak mengenakan masker sama sekali.

Yang harus diperhatikan adalah pakai dengan rapat, pastikan kawat pada bagian hidung dibengkokan hingga tidak ada celah pada bagian pinggirnya dan gantilah masker tiap empat jam sekali.

Masker Kain

Bagaimana dengan masker kain? Masker kain sebenarnya tidak disarankan, karena memiliki pori-pori yang besar. Poriporinya tidak bisa menyaring partikel di bawah 10 mikron atau debu silika yang bersifat tajam, sehingga partikel tersebut bisa masuk ke jalan nafas. Sebagian orang gemar berolahraga di luar ruangan, seperti bersepeda atau lari.

Polusi udara tentu juga menjadi ancaman bagi para penggiat olahraga tersebut. Bagaimana supaya tetap bisa berolahraga tanpa terpapar polusinya? Pertama, pilihlah waktu berolahraga pada jam tidak sibuk, yakni pada pagi hari sebelum orang-orang mulai beraktivitas atau kendaraan belum banyak.

Misalnya pada pukul lima atau enam pagi. Apabila Anda lebih menyukai berolahraga pada sore hari, hindari pusat kota, jalanan padat atau daerah industri. Pilihlah daerah pinggiran.

Bisa yang mendekati pegunungan, daerah pinggir pantai atau tempat- tempat lainnya yang tidak dilalui banyak kendaraan bermotor atau orang yang merokok.

"Penumpukan polusi udara tidak cuma dari jalanan (asap kendaraan bermotor), tapi juga dari banyaknya asap rokok," jelas Dwi. Dwi mengatakan, hal yang tidak kalah penting adalah merawat kendaraan bermotor Anda.

Ganti kendaraan yang sudah lama dengan yang baru atau beralih pada motor bertenaga listrik. Bila mengganti kendaraan bukan opsi terbaik, maka Anda bisa merawat kendaraan dengan rutin dengan melakukan uji emisi untuk memastikan pembuangan atau pembakarannya rendah timbal dan tidak menimbulkan polusi.

Selain itu, gunakan bahan bakar yang berkualitas bagus. Harga yang sedikit lebih mahal tentu tidak masalah, karena selain membuat mesin kendaraan lebih awet, kadar timbal yang dikeluarkan pun lebih sedikit dibandingkan kendaraan yang menggunakan bahan bakar murah. (49)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar