Suarakan Perubahan Iklim

Aktivis Remaja Berlayar Lintasi Atlantik

SM/milwaukeindependent.com - Greta Thunberg
SM/milwaukeindependent.com - Greta Thunberg

Greta Thunberg (16), aktivis lingkungan belia Swedia, memilih berlayar ke New York, AS guna menghadiri pertemuan yang diselenggarakan PBB serta mengikuti demonstrasi perubahan iklim di AS.

PILIHAN Greta sengaja berlayar karena ia ingin perjalanannya tak meninggalkan jejak karbon yang dapat memicu naiknya suhu bumi di atmosfer. Melintasi Samudera Atlantik, ia berlayar dengan Kapal Malizia II, yang digerakkan oleh turbin dan panel surya.

Lewat media sosial Twitter, Greta mengunggah foto dirinya berada di atas kapal bersama sang kapten. ”Uji coba berlayar ke pesisir Inggris hari ini!” cuit Greta sebagaimana diberitakan Antara. Awal bulan ini, kapten kapal yang akan berlayar bersama Greta mengatakan, perjalanan menembus Atlantik tak akan nyaman karena Maliza II didesain untuk bergerak cepat memotong ombak.

”Greta akan menghadapi tantangan berlayar dengan kurang nyaman, tetapi pilihan itu menunjukkan dia memegang teguh prinsipnya terhadap isu yang dibela. Komitmen itu terlihat dari seberapa jauh ia mendorong dirinya,” kata kapten kapal, Boris Hermann.

Greta akan berlayar pada pekan ini dari pelabuhan yang belum diketahui lokasi pastinya di Inggris. Aktivis yang jadi corong pegiat lingkungan muda dunia itu akan ditemani oleh ayahnya, Svante dan seorang kameramen untuk mendokumentasikan perjalanannya melintasi Samudera Atlantik. ”Situasi tidak akan berubah walaupun saya berbicara di markas PBB.

Namun, jika itu dapat membantu meningkatkan kepedulian, maka saya pikir kita harus bersama-sama mencoba membuat perubahan,” kata Greta saat mengunjungi kamp massa antitambang batu bara di Jerman, Jumat lalu. Remaja putri tersebut akan mengikuti Pertemuan PBB untuk Aksi Perubahan Iklim (UN Climate Action Summit) di New York, September mendatang. Dilanjutkan dengan Konferensi Antarpihak (COP) untuk Dampak Perubahan Iklim ke-25 di Santiago, Cile, Desember.

Bertengkar

Sepak terjang Greta membawa isu tentang lingkungan bukan yang pertama. April lalu, ia menemui Paus Francis saat misa mingguan di Lapangan Santo Peter di Vatikan, juga dengan membawa isu lingkungan. Selanjutnya, ia mendesak para politisi Eropa untuk fokus pada krisis iklim ketimbang ‘’bertengkar”. Ketika para politikus tersebut ribut, anak-anak di banyak pelosok dunia tidak masuk sekolah guna mendukung tuntutantuntutan mengatasi emisi karbon.

Greta menuturkan, ancaman akibat perubahan iklim terhadap kehidupan bermasyarakat seharusnya menaungi setiap masalah kampanye lainnya, dalam pemilihanpemilihan parlemen di Uni Eropa. ”Jika Uni Eropa memutuskan memerangi secara serius krisis iklim, hal itu akan berarti perubahan global yang menentukan. Pemilihan UE semestinya hanya mengenai ini.

Tapi ini tidak,” katanya kepada ribuan orang yang berkumpul di Alun-alun Kungstradgarden, Stockholm. Saat itu, lebih 1,8 juta orang di 2.350 kota di 125 negara berpartisipasi dalam pemogokan untuk tidak masuk sekolah. Mereka menyuarakan gerakan Fridays for Future pada halaman Facebookmasing-masing. Kelompok itu merupakan jejaring para pengunjuk rasa muda yang memberikan perhatian pada iklim. Sekitar 1,5 juta anak muda ikut serta dalam pemogokan global sebelumnya tanggal 15 Maret lalu.

Di New York, ratusan anak-anak dan remaja berpawai dari Columbus Circle ke Times Square, meneriakkan dukungan bagi ”Perjanjian Baru Hijau” yang diusulkan di Kongres yang menyerukan antara lain bagi 100 persen kebutuhan tenaga listrik di AS dipenuhi melalui sumber-sumber energi terbarukan dalam kurun 10 tahun.

Para pengunjuk rasa beraksi purapura ”mati” di Times Square, terbujur di tanah selama 11 menit untuk mewakili para ilmuwan yang telah mengatakan suhu udara bumi akan naik jika emisi karbon tidak dipangkas secara substansial.

Perubahan iklim sudah menjadi agenda politik tahun ini, khususnya di kalangan anak-anak muda, para pemilih pertama yang takut mereka akan menanggung akibat dari pemanasan global. Mereka memberikan dukungan kepada calon-calon dari partai Hijau.

Tetapi banyak perdebatan dalam kampanye di Eropa berfokus pada isu-isu seperti imigrasi dan penghematan. Greta muncul sebagai tokoh terkemuka dalam gerakan itu sejak ia pertama kali memprotes aksi iklim sendirian pada Agustus silam di luar Parlemen Swedia. Ia dinominasikan meraih Hadiah Nobel Perdamaian.

Fotonya menghiasi halaman muka majalah Time dan pergi ke berbagai bagian Eropa dengan kereta api untuk menegur tokoh-tokoh senior di pemerintahan dan industri. Anak-anak, remaja dan orangorang dewasa yang merasa tak berkuasa menghadapi krisis iklim berpawai dengan harapan mendesak para politikus dan pemimpin bisnis memperhatikan peringatan-peringatan para ilmuwan.

”Kami menekan pemerintahpemerintah dan inginkan mereka bertindak cepat sekarang” kata David Wicker, 14 tahun, yang ikut bergabung bersama sekitar 7.500 pemuda yang berunjuk rasa di Brussel. (ant-54)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar