Beri Warna Baru di Kampung Pelangi

SORE itu, belasan anak-anak asyik menyimak dongeng yang dibawakan Bonchie Yoska. Dengan nada menggemaskan, lalu kadang-kadang melengking, perempuan berkacamata itu mampu menghipnotis anak-anak untuk tertib tanpa menyela cerita.

Di akhir sesi, Bonchie membagi kertas lipat untuk kemudian membuat origami. Bocah-bocah tetap tenang dan secara berurutan menyebut warna kertas lipat yang mereka incar.

Mereka lantas mengikuti tahap demi tahap seni mengkreasikan kertas lipat. Dua tahun belakangan, pemandangan seperti itu mudah dijumpai di Masjid Nurul Hidayah di area Kampung Pelangi Semarang.

Adalah Kepak Project, sebuah gebrakan yang diproyeksikan bisa berjalan tanpa batas waktu, yang menyumbang warna baru di daerah yang penuh bangunan warnawarni itu. Bonchie, sang pendongeng yang sore itu mengisi “kelas”, bukanlah sukarelawan tetap.

Sedari awal berkegiatan, sukarelawan tetap Kepak Project memanfaatkan jejaring untuk menggaet para pengisi kelas. “Bonchie, misalnya, adalah kawannya Dian, salah satu relawan tetap Kepak Project.

Di lain kesempatan, kami kedatangan ‘temannya relawan lain’”, terang Apriliana Kurniasari, salah satu pencetus Kepak Project. Uniknya, hasil memanfaatkan jejaring itu menciptakan kolaborasi yang beraneka rupa.

Kepak Project tercatat pernah bekerja sama dengan Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (Kophi) Jateng dan menyukseskan “Geraku” pada pertengahan 2018. Geraku adalah gerakan untuk mencabut paku-paku yang ada di pohon.

Kegiatan yang dipusatkan di Jalan Pawiyatan Luhur itu punya misi mengajak anak-anak untuk tidak “menyakiti” makhluk hidup lain. Nilai-nilai cinta lingkungan kembali ditanamkan Kepak Project lewat duetnya bersama komunitas peduli lingkungan, Seangle Semarang.

Dengan program “Ecobrick Action for Children”, anak-anak Kampung Pelangi bisa menjajal membuat ecobrick. Sebagai informasi, ecobrick adalah bata ramah lingkungan yang berbahan dasar sampah atau botol plastik.

Positif

Pernah terlibat dalam program Indonesia Mengajar membuat April, sapaan Apriliana, menggandeng dua kawannya, Ika Rizqiyawati dan Ibda Fikrina Abda, untuk menginisiasi gerakan serupa.

Tepatnya pada Oktober 2017, tiga perempuan yang bekerja di Semarang ini melakukan survei kecilkecilan perihal lokasi yang pas sebagai sasaran proyek mereka.

“Kami pilih Kampung Pelangi karena dekat dengan domisili kami di Sampangan. Kecuali itu, warga juga memberi respons positif sehingga memudahkan kami merumuskan dan menjalankan kegiatan,” terang April.

Fokus pada kegiatan pemberdayaan masyarakat, Kepak Project menyasar lewat aktivitas bermain dan belajar anak, serta pengembangan ekonomi lokal. Seperti akronim nama Kepak, yakni Kecil Berdampak, gerakan ini memotori kegiatan-kegiatan sederhana, namun punya makna.

Tiap Jumat pukul 16.30-17.30, Kepak Project menghidupkan Taman Baca Masjid Nurul Hidayah dengan kegiatan literasi, pembekalan bahasa Inggris, juga kesenian dan keterampilan.

Total ada 50 anak yang mengikuti kegiatan itu, meski hanya separuhnya yang benar-benar rutin datang. Selain anak-anak, gerakan yang beroperasi per 10 November 2017 ini juga menyasar ke orang dewasa.

Ihwal ini Kepak Project mendampingi masyarakat dalam upaya mengembangkan Kampung Pelangi sebagai tempat wisata berbasis ecotourism. “Kami mendampingi ibu-ibu PKK Kampung Pelangi membuat prakarya dengan bahan bekas pakai untuk dijadikan sovenir di Kampung Pelangi,” ujar April.

Di luar itu, alih-alih sibuk merekrut anggota di sana-sini, Kepak Project fokus pada satu hal: konsistensi. April mengaku, berlaku konsisten lebih menantang ketimbang sekadar berlomba-lomba menggaet sukarelawan anyar.

Sebabnya, sukarelawan lantaran bersifat sukarela “berhak” datang dan pergi sesuka hati, sementara konsistensi membutuhkan tekad kuat dari mereka yang telah menyanggupi. (Sofie Dwi Rifayani-53)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar