Mengenal Teknologi Sel Punca

Oleh Irma Mutiara Manggia

ISTILAH stem cell atau sel punca, mungkin sudah pernah Anda dengar. Namun secara lebih spesifik, mungkin belum terlalu puas dengan penjelasannya secara lebih mendetail. Apalagi, teknologi penggunaan sel punca pun mengalami pro dan kontra.

Apa itu sel punca? Stem cell alias sel punca merupakan sekelompok sel tubuh manusia yang memiliki kemampuan istimewa, yang mempunyai tiga ciri utama.

Yakni sel yang mampu membelah diri sendiri (self regenerate/self renewal) secara terusmenerus, spesialisasi pembelahan yang belum terarah dengan induksi yang spesifik, serta dapat membelah menjadi sel bentuk lain sesuai dengan yang diinginkan, seperti sel jantung, syaraf, otot, dan lainnya.

Prof Dr Sultana MH Faradz PhD dari RSUPdr Kariadi Semarang menuturkan, pengetahuan mengenai sel punca sebenarnya sudah lama dikenal dalam dunia biologi sel.

Banyak riset dan penelitian yang dilakukan untuk menggali apa saja manfaatnya. Sel punca digunakan untuk terapi berbagai macam penyakit, dan tentunya potensi yang paling besar adalah penggunaannya untuk terapi klonasi (therapeutical cloning).

"Laporan dari para peneliti mengenai keberhasilan mendeferensiasi sel punca menjadi sel-sel dengan fungsi khusus, misalnya sel saraf, sel jantung, dan sebagainya, menimbulkan harapan masyarakat untuk menyimpan sel puncanya, antara lain yang berasal dari darah tali pusat," ujar Sultana.

Lebih lanjut, Anggota Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) tersebut menjelaskan, kemajuan yang terus terjadi dalam teknologi pemanfaatan sel punca, membuat berbagai penelitian dalam penggunaannya untuk mengobati beberapa penyakit non degeneratif seperti leukemia, maupun degeneratif seperti jantung koroner, diabetes mellitus, stroke, alzheimer, dan parkinson.

Yang mana awalnya sel punca digunakan untuk transplantasi sumsum tulang belakang terhadap penderita penyakit leukemia, seperti yang pernah dilakukan Fakultas Kedokteran Udip bekerja sama dengan RS Telogorejo Semarang pada 1987. Yang mana, penelitian-penelitian yang dilakukan tersebut terbukti berhasil. Di luar negeri, pemanfaatan sel punca sudah sering dilakukan.

Di Indonesia, penelitian tersebut dimulai dengan mengembangkan pemanfaatan sel punca yang berada di tali pusat (umbilical cord). Mengapa pemanfaatannya dianggap kontroversi? Sultana menjelaskan, dari segi pandangan budayawan dan ahli agama, terapi klonasi diaggap bisa dilaksanakan karena mempunyai manfaat yang sangat besar dibandingkan dengan kerugiannya.

Terutama bila digunakan dari sel bukan embrio. "Masalah etikanya, dalam arti kesesuaian atau pengabaian norma atau prinsip bioetika yang sudah disepakati, boleh disetujui selama dilakukan dengan baik dan benar oleh para ahli yang sesuai dengan dukungan infrastruktur penelitian dan laboratorium yang layak," jelasnya.

Jenis-Jenisnya

Berdasarkan sumbernya, sel punca dibedakan menjadi dua macam, yakni sel punca embrionik dan non embrionik (adult stem cells).Sel punca embrionik biasanya didapatkan dari sisa embrio yang tidak terpakai pada in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung.

"Namun saat ini telah dikembangkan teknik sel punca sejenis sel yang unspesialized (tidak terspesifikasi), yang punya kemampuan unik, yaitu "self renewal".

Bentuknya tetap menjadi sel punca atau berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel 'khusus" (specialized) itu tadi, misalnya sel darah, otot, dan lainnya," papar dosen Fakultas Kedokteran Undip tersebut.

Kemudian sel punca non embrionik, berasal dari darah tali pusat, sumsum tulang, darah tepi, dan berbagai jaringan lainnya. Sel darah tali pusat diambil dari darah plasenta dan tali pusat segera setelah bayi lahir.

Pengobatan

Sultana memaparkan, terdapat tiga jenis pengobatan atau pencangkokan sel punca, yakni autologous, yang mana sel punca diperoleh dari tubuh pasien itu sendiri. Allogeneic, sel punca yang diperoleh dari orang lain. Dan xenotransplantasi, sel punca yang diperoleh dari makhluk lain atau hewan.

Pengobatan sel punca autologous memiliki kelebihan tidak ada risiko penolakan (dari tubuh), namun bila akan diberikan pada pasien dengan penyakit keganasan, maka sel tumornya harus dibasmi terlebih dahulu, baru kemudian sel punca dimasukkan kembali.

Adapun terapi sel punca allogeneic, pasien memang lebih nyaman karena tidak diambil sel puncanya dari tulang pinggul atau tulang perisai dada, namun harus mengatasi kemungkinan risiko penolakan terhadap sel punca dari orang lain.

Sedangkan xenotransplantasi atau terapi sel hewan, masih menimbulkan perdebatan di Indonesia. Sel berasal dari hewan yang digunakan mungkin bukan sel punca yang mampu terus menerus berkembang biak dan membentuk sel khusus, sehingga terapi sel hewan tidak bisa disebut sebagai pengobatan sel punca, tapi pengobatan sel (cell-therapy).

"Efek samping pengobatan sel punca harus diwaspadai karena mungkin bisa terjadi teratoma atau sel kanker, apalagi kalau yang diberikan sel binatang karena mungkin bisa terjadi chimeric (ikatan) antara sel manusia dan sel binatang, membentuk sel baru yang mempunyai fungsi berbeda," ujar Sultana. Bagaimana dengan penggunaan sel punca dewasa untuk tujuan terapi penyakit? Sultana menjelaskan, ada beberapa hal yang patut diketahui.

Pertama, penggunaan untuk tujuan terapeutik harus ditujukan untuk penyakit-penyakit yang telah diketahui pasti penyebabnya sebagai kelainan genetika. Kedua, harus diperhitungkan dengan matang, tidak mengubah sifat-sifat baik manusia yang diwariskan pada keturunannya.

Selanjutnya, pelayanan sel punca juga harus mempertimbangkan agar bisa diakses sebagian besar masyarakat yang membutuhkannya secara murah, alias tidak diskriminatif, tidak menimbulkan stigmatisasi, dan bukan ditujukan semata-mata untuk golongan masyarakat tertentu.

"Harus ada rasa tanggung jawab kemanusiaan. Tiap ilmuwan harus mematuhi standar terbaik, dan memperhatikan adanya transfer teknologi dari negara maju untuk memberdayakan negara terbelakang, menghormati hak-hak asasi manusia secara demokratis, tidak hanya bertujuan komersial saja," imbuhnya. (49)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar