ANALISIS

Sehat-Bugar saat Lebaran

Oleh Prof. Anies

MENYAMBUT hari Lebaran, menyiapkan masakan khas telah menjadi tradisi masyarakat. Hidangan Lebaran yang demikian biasanya berupa makanan dan minuman istimewa. Pola menu yang hampir sama, dapat dijumpai di setiap rumah tangga yang merayakan Lebaran.

Belum lagi berbagai makanan ringan yang lezat dan manis. Begitu juga dengan minuman ringan yang manis-manis. Semua sajian itu mengandung kalori tinggi. Bagi para penderita kencing manis (diabetes mellitus), ginjal, jantung koroner, tekanan darah tinggi, mag, serta yang ingin menjaga berat badan seimbang, tentu harus mewaspadainya. Repotnya, banyak kegiatan silaturahmi, saling kunjung, bahkan rekreasi ke luar kota.

Olahraga yang semula dilakukan secara rutin, terpaksa tidak dilakoni. Sajian lain yang juga menggiurkan tapi ‘’berbahaya’’ adalah makanan lezat, gurih, dan manis yang mengandung banyak protein, lemak, serta gula. Sebut saja opor ayam lengkap dengan ketupatnya, lodeh dengan santan kental, sambal goreng, dan rendang.

Pola menu seperti ini bisa dikatakan disajikan oleh hampir setiap keluarga. Belum lagi aneka makanan kecil, cake, kue-kue kering dan berbagai minuman manis. Tidak mengherankan kalau dalam suasana seperti ini, bila tidak terkontrol, badan akan semakin gemuk, tekanan darah tinggi, dan kencing manis kumat kembali. Seringkali kadar kolesterol darah, LDL (low density lipoprotein) maupun trigliserida meningkat. Sementara itu, aktivitas fisik relatif lebih terbatas. Karena itu, pengidap penyakit jantung koroner perlu waspada. Salah satu yang sering terjadi, makanan yang disajikan tidak lagi mengandung cukup vitamin. Penyebabnya bukan hanya pola menunya, melainkan juga karena pengaruh kesibukan yang lazim di hari Lebaran.

Pada umumnya, para pembantu rumah tangga mudik, sementara para ibu lebih mencurahkan waktu untuk menerima tamu ataupun mengunjungi kerabat dan sanak saudara. Hal ini membuat ibu terlepas dari kegiatan rutin di dapur. Karena itu, makanan dibuat sekaligus dalam jumlah banyak untuk beberapa hari. Setiap kali akan menghidangkan, cukup dihangatkan. Cara itu memang praktis. Opor ayam atau sayur lodeh misalnya, sebelum disantap cukup dihangatkan. Bahkan makin lama rasanya makin lezat. Namun, hidangan itu sudah kehilangan sejumlah vitamin. Proses memasak lama dan berkali-kali, praktis membuat seluruh vitamin yang larut dalam air, vitamin B, dan vitamin C, akan hilang atau berkurang. Bagi yang tidak mengidap sesuatu penyakit, makanan semacam itu bisa mengakibatkan kekurangan vitamin.

Dampaknya, selaput lendir mulut pecahpecah dan terkadang gusi berdarah. Dampak lain dari konsumsi makanan dengan kandungan lemak tinggi tetapi tidak diimbangi dengan olahraga yang cukup, akan mengakibatkan sembelit. Bisa juga kolesterol dan tekanan darah meningkat dengan cepat. Bukan mustahil, muncul gejala stroke yang berujung pada lumpuh separuh serta gangguan bicara.

Menu Sehat

Apakah kita harus menjadi sakit saat Lebaran? Mestinya dalam suasana Lebaran, kesehatan tak perlu terganggu. Untuk melakukan itu, ada empat hal yang bisa dilakukan. Pertama, mengontrol atau mengurangi makanan yang kurang sehat. Agar tidak terserang asam urat, misalnya, secara umum pada hari Lebaran tidak langsung makan banyak, tetapi dianjurkan berangsur-angsur. Kurangi makanan berlemak tinggi seperti opor ayam, lodeh bersantan kental, rendang daging, atau sambal goreng hati. Begitu juga dengan membatasi atau menghindari makanan dengan kaldu daging.

Apabila menginginkan makanan tersebut, ambil saja isinya tetapi tidak menyantap kuahnya. Makanan ringan berupa goreng-gorengan juga dikurangi. Kita juga perlu menghindari minuman ringan berkarbonasi dan sebaiknya minum air putih lebih dari dua liter sehari. Hal kedua, kita perlu menghidangan menu Lebaran yang sehat dan lebih bervariasi.

Dengan kata lain, yang kita sajikan bukan hanya menu tradisional khas Lebaran, tetapi bisa ditambah gadogado lengkap atau sayuran segar sebagai lalapan. Sajian itu dapat mencukupi kebutuhan vitamin yang terbuang akibat proses penghangatan terus-menerus dan mencegah sembelit. Sekali-sekali juga perlu menghidangkan buah-buahan segar sebagai pengganti aneka kue. Jeruk atau apel bisa disajikan untuk pendamping sajian khas Lebaran.

Mangga yang baru dikupas dan langsung dihidangkan juga baik dikonsumsi setelah setelah makan besar. Sajian lainnya, sari buah (jus) sebagai pengganti minuman manis.Lalapan berupa irisan tomat, dan kacang panjang juga baik. sajian sayur dan buah segar juga sangat praktis dan cepat disajikan. Dengan demikian, sajian sehat itu dapat mencegah serangan-serangan penyakit dan di sisi lain ibu-ibu tidak kehilangan momen berlebaran bersama sanak saudara. Selain menu sajian Lebaran, hal ketiga yang perlu tetap dijaga adalah olahraga. Jika olahraga rutin dihentikan, otot-otot dan persendian akan menjadi kaku. Selain itu, konsumsi makanan dengan kalori tinggi perlu diimbangi dengan olahraga. Jika terlalu sibuk, kita bisa memilih olahraga yang lebih praktuis, misalnya dengan bekal seutas tali untuk lompat tali. Kita bisa melakukan itu di tempat sempit, baik di teras rumah atau di kamar hotel.

Pilihan lain, olahraga lari di tempat. Efeknya akan semakin baik jika frekuensi latihan dilakukan 4-5 kali dalam seminggu atau dua hari sekali. Hal terakhir dan tak kalah penting, yakni istirahat atau tidur dengan waktu cukup. Usahakan acara silaturahmi selesai siang hari, sehingga kita bisa tidur 1-2 jam. Silaturahmi dapat dilanjutkan sore dan malam hari. Namun pada pukul 22.00, usahakan agar kita telah berada di rumah untuk beristirahat. Dengan demikian, kita dapat melanjutkan acara esok hari dengan badan tetap sehat, segar, dan bugar. (41)

Prof Dr dr Anies MKes PKK, Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan FK Undip.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar