Membuka Pintu-Pintu Langit

Kitab Futuhat ar-Rabbaniyah
Kitab Futuhat ar-Rabbaniyah

ZIKIR adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus membersihkan hati dari segala penyakit dan kotoran dunia. Dalam pelembagaan aktivitas itu, muncul yang namanya thariqah.

Tujuannya agar umat Islam dapat menempuh jalanjalan menuju Allah dengan berjamaah dibimbing oleh seorang guru (mursyid), tidak melalui pencarian nafsi-nafsi yang trial-error-nya tinggi. Sebab, seorang mursyid wajib menyayangi, membimbing, dan membantu membersihkan hati muridmuridnya dari kotoran dunia. Tarekat atau thariqah artinya adalah jalan.

Dalam Muroqil Ubudiyah fi Syarhi Bidayatil Hidayah, para ulama menjelaskan arti kata thariqah dalam kalimat aktif, yakni melaksanakan kewajiban dan kesunatan atau keutamaan, meninggalkan larangan, menghindari perbuatan mubah (yang diperbolehkan) namun tidak bermanfaat, sangat berhati-hati dalam menjaga diri dari hal-hal yang tidak disenangi Allah dan yang meragukan (subhat), sebagaimana orang-orang yang mengasingkan diri dari persoalan dunia dengan memperbanyak ibadah sunat pada malam hari, berpuasa sunah, dan tidak mengucapkan kata-kata yang tidak beguna.

Bagi kaum thariqah di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muslih Abdurrahman Mranggen tentu sudah sangat masyhur. Kiai Muslih sering disebut sebagai Abul Masyayekh dan Syeikhul Mursyidin. Sebab selain sebagai salah seorang mursyid TQN yang memiliki kedalaman ilmu dan kejernihan hati, Kiai Muslih aktif mengembangkan dan membesarkan Jam’iyah Ahlit Thariqah Al- Muktabarah An-Nahdliyah (Jatman) hingga akhir hayat pada 1981. Salah satu kitab yang ditulis oleh Kiai Muslih yang berhubungan dunia thariqah adalah Futuhat Rabbaniyah wa al- Fuyudlatu al-Ilahiyyah: Fi Thariqah al- Qadiriyah wa al-Naqasyabandiyah. Sebuah kitab yang menguraikan doktrin sufistik menuju tersingkapnya ma’rifat ilahiyah.

Kitab ini ditulis dengan menggunakan huruf Arab pegon. Kiai Muslih menjelaskan, kitab tersebut ditulis dengan bahasa Jawa ngoko, supaya mudah dipahami, dihafalkan, dan diamalkan oleh orang yang telah berbaiat Thariqah Qadiriyah dan Naqasyabandiyah di depan guru, mursyid, atau khalifah yang sahih.

Dalam Futuhat ar-Rabbaniyah, Syeikh Muslih secara detail menjelaskan tentang tata cara santri dalam menjalankan thariqah, terutama doktrin yang ia sebut sebagai ”Mabadi Ilmi Ath Thariqah” yang membahas landasan thariqah qadiriyah wa naqsyabandiyah. Salah satu untaian hikmahnya adalah ber-fiqh harus dibarengi dengan tasawuf. Barang siapa yang semata berpegang pada formalitas fiqh, tanpa praktik tasawuf, maka seorang itu bisa terjatuh pada perilaku fasik. Dan barang siapa mencoba-coba bertasawuf tanpa tuntunan syara’, maka ia bisa jatuh dalam kafir zindiq. Dan barang siapa bertasawuf dan menjalankan tuntunan syara’ (fiqh) maka ia akan sampai pada hakikat dan kesejatian. Menurut Kiai Muslih, kegunaan ilmu thariqah adalah untuk mengetahui hal ihwal nafsu dan sifat-sifatnya. Mana yang madmumah supaya dijauhi. Mana yang mahmudah supaya dikerjakan. Menurutnya, buah dari ilmu thariqah adalah bisa sampai kepada menghindarkan hati dari sifat-sifat aghyar (tipuan dunia, yang berupa hal-hal selain Allah) dan menghiasi hati dengan zikir, muraqabah, ma’rifat, dan musyahadah kepada Allah SWT. Dengan demikian, manusia diharapakan akan menemukan hakikat hidup yang sesungguhnya. Wallahu a’lam bi al-shawaab. (41)

Mokhamad Abdul Aziz, Direktur Eksekutif Monash Institute dan dosen Fakultas Dakwah IAIN Salatiga, Alumnus Pondok Pesantren Al-Barkah Sulang Rembang.


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar