Dugderan Segera Dimulai

Jalan Sekitar Pasar Johar Ditutup

SM/Irawan Aryanto : WANAHA BERMAIN : Wahana bermain di area dugderan, Jalan Agus Salim, mulai disiapkan, Rabu (24/4). (22)
SM/Irawan Aryanto : WANAHA BERMAIN : Wahana bermain di area dugderan, Jalan Agus Salim, mulai disiapkan, Rabu (24/4). (22)

Bulan Ramadan akan segera datang. Acara Dugderan yang menjadi tradisi menyambut Bulan Ramadan mulai terasa. Lapak-lapak pedagang, perlengkapan permainan seperti biang lala, tong setan, sudah mulai terpasang.

BAHKAN sudah ada pedagang yang mulai menjual berbagai macam gerabah, seperti celengan dan mainan anak. Mereka berkumpul di sekitar Pasar Johar, memadati Jalan Agus Salim, sebagian Jalan Pemuda, dan Jalan Kauman. Jalan-jalan yang dijadikan tempat berjualan pun sudah ditutup sejak, Rabu (24/4). ”Akan ada sekitar 400 pedagang kaki lima (PKL) yang ambil bagian dalam dugderan itu. Tahun ini akan lebih meriah, karena dipusatkan di sekitar Pasar Johar.

Kalau tahun lalu, juga diselenggarakan di MAJT yang menjadi tempat relokasi pedagang Pasar Johar,’’ ujar Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto.

Dugderan akan berlangsung 26 April sampai 5 Mei. Namun, beberapa pedagang ada yang sudah mulai berjualan. Tahun ini mengusung tema, ‘’Mempererat Kemajemukan Menuju Semarang Hebat’’. Selain mengadakan pasar dadakan, nanti akan ada beberapa prosesi dugderan. Pada Jumat (3/5) pukul 07.00-10.30, akan digelar Karnaval Budaya Dugderan.

Kegiatan itu diikuti ratusan anak sekolah di Kota Semarang dengan menggunakan kostum yang berbeda-beda di setiap kelompok. Rute karnaval dimulai dari Lapangan Simpanglima, Jalan Pahlawan ke Taman Indonesia Kaya. Adapun, Sabtu (4/5), prosesi dugderan dimulai pukul 12.00-17.30. Kegiatan ini diikuti sejumlah elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, seniman, dan masih banyak lagi. Untuk rutenya Balai Kota, Jl Pemuda, Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman), Jalan Jolotundo, kemudian menuju Masjid Agung Jawa Tengah.

Mempererat

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari menuturkan, sesuai tema yang diusung, dugderan tahun ini salah satu tujuannya mempererat kemajemukan.

Ada tiga etnis yang ikut ambil bagian dalam sejarah Kota Semarang, yakni Arab, Tiongkok, dan Jawa. Hal tersebut terwujud dalam kuliner dan kesenian.

Semarang juga memiliki makhluk mitologi yang menjadi identitas kota ini. Makhluk ini bukan makhluk biasa, karena ia mewakili keberagaman di Kota Semarang, yang bernama Warak Ngendog. ‘’Selain sejumlah Warak Ngendok yang berukuran kecil, nanti juga akan ada Warak Ngendok yang berukuran raksasa. Ini sumbangan dari warga untuk ikut meramaikan acara dugderan,’’ujar Indriysari.

Tradisi dugderan ini telah diadakan sejak 1882. Dipusatkan di Kawasan Masjid Kauman dan diselenggarakan tiap tahun. Indriyasari optimistis, tradisi ini bisa menarik wisatawan untuk datang. Tak hanya wisatawan lokal, namun juga mancanegara. (Hendra Setiawan-22)


Berita Terkait
Loading...
Komentar