Belajar soal Hubungan Batin di Sendang Kaliancar

Oleh : Pamungkas Suci Ashadi

SM/Pamungkas Suci Ashadi : Warga mandi di Sendang Panguripan : Warga membersihkan Sendang Pengasihan
SM/Pamungkas Suci Ashadi : Warga mandi di Sendang Panguripan : Warga membersihkan Sendang Pengasihan

MASIH banyak destinasi wisata religi di Kota Semarang yang belum dikenal banyak orang. Padahal, tempat-tempat itu punya kisah menarik. Entah benar atau tidak, hal-hal mistis pun jadi cerita turun-menurun di masyarakat sekitar.

Salah satunya kompleks Sendang Kaliancar di Jalan Kaliancar, Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan. Berjarak sekitar 200 meter dari permukiman, kompleks itu punya dua sendang, Sendang Panguripan dan Sendang Pengasihan. Setiap malam Jumat Kliwon, kompleks sendang itu dikunjungi banyak orang.

Ada warga sekitar, ada juga dari beberapa daerah, bahkan luar Semarang. Banyak aktivitas mereka lakukan. Misalnya, ada yang mandi kembang. Menurut cerita warga, Sendang Kaliancar dahulu bernama Bubak Kertiyoso. Dulu ada seorang pendatang diutus dari Kudus bernama Mbah Bubak Kertiyoso. Kedatangan Mbah Kertiyoso ke Kaliancar untuk mengajarkan ilmu batin (ketuhanan) dan lahir (dunia). Seiring waktu, dia lebih sering dipanggil Mbah Mublak. Penjaga kompleks Sendang Kaliancar, Mbah Sapuan (70), mengatakan saat Mbah Mublak singgah di hutan Bubak Kaliancar menemukan dua sumber air.

Dua sumber air itu berjarak sekitar 50 meter. Mbah Mublak menamakan sumber air itu Sendang Penguripan dan Sendang Pengasihan. Air sendang itu tidak pernah surut, walau musim kemarau panjang. "Jadi yang diajarkan, manusia harus memperhatikan dua hal. Pertama, harus saling menghargai, menghormati, serta bekerja sama. Kedua, hubungan dengan Sang Pencipta," ujarnya.

Mbah Mublak juga membuat permukiman berdekatan dengan dua sendang itu. Permukiman berada di sekitar kali yang orang Kaliancar biasanya sebut Kali Mberang. Karena dulu masih berupa hutan dan banyak harimau, membuat kehidupan jadi tidak nyaman. "Mbah Mublak memindahkan kampung itu di daerah atas agak jauh dari sendang. Jarak antara sendang dan permukiman berkisar 200 meter dan diberi nama Kampung Kaliancar," ujar Mbah Sapuan, kemarin.

Bukti sejarah pun membuktikan dengan kemiripan nama kelurahan. Kampung Kaliancar termasuk Kelurahan Podorejo. Nama Podorejo mirip nama daerah di Kabupaten Kudus, Samirejo. Makna "sami" sama dengan "podo" (padha) dan belakangnya "rejo". "Bukti sejarah lain dengan penemuan nisan makam Mbah Mublak. Di nisan itu tertulis tahun 1437 makam Mbah Mublak," ujarnya.

Namun Sapuan tidak mengerti apakah penemuan tahun itu awal pendirian Kampung Kaliancar atau mungkin meninggalnya Mbah Mublak. Sebab, makam Mbah Mublak jauh dari sekitar sendang berjarak sekitar 500 meter. Makam itu berada tepat di tepi jalan. Sapuan menyebut makam itu dengan nama Makam Bubakan. Antara makam dan perkampungan ada hutan dan sawah. Makam Mbah Mublak berada di tengah berupa rumah. Bangunan itu sumbangan pengunjung.

Dahulu, Sendang Kaliancar masih berupa kali biasa dan belum ada bangunan seperti gapura, mushala, toilet, dan pagar sendang. Pada 1970-an dari Proyek Malu, yaitu Perhutani, Mantri, dan Lurah, menginisiasi menyediakan bangunan. Kini, bangunan itu dimanfaatkan warga sebagai sendang. (Pamungkas Suci Ashadi, Hendra Setiawan-53)


Berita Terkait
Loading...
Komentar