Seluk Beluk Enzim

Oleh : Irma Mutiara Manggia

SALAH satu jenis diet atau mengatur pola makan adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung enzim. Karena yang paling utama dari menjaga kesehatan adalah memelihara saluran cerna. Kesehatan usus merupakan dasar dari kesehatan seluruh organ.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai enzim, perlu Anda ketahui bahwa enzim itu dibentuk atau diproduksi oleh tubuh kita. Adapun makanan atau asupan dari luar berfungsi sebagai koenzim, yang mendukung terbentuknya enzim. Dengan kata lain, enzim baru bisa bekerja apabila ada koenzim. Enzim terdapat pada seluruh organ tubuh dan tentunya pada saluran cerna. Enzim merupakan senyawa protein yang tersusun dari komponen protein dan juga katalitik. Bekerja untuk mengubah sel dari satu bentuk menjadi bentuk lain.

Semua proses dalam tubuh membutuhkannya untuk mempercepat proses metabolisme. Antara lain memecah protein menjadi asam amino (enzim proteolitik), memecah lemak menjadi asam lemak dan glisenol (enzim lipolitik), memecah karbohidrat dan pati menjadi gula sederhana (enzim amilotik), dan memecah asam nukleat ke nukleotida (enzim nukleotik). Secara sederhana, Prof dr Siti Fatimah Muis MSc SpGK, pakar gizi klinis RSUP dr Kariadi Semarang menjelaskan, misalnya kita mengonsumsi makanan yang mengandung gula, maka gula yang diserap tubuh masuk ke dalam sel akan diubah menjadi energi.

Untuk mengubahnya menjadi energi, diperlukan enzim (pyruvat) dan juga vitamin. Begitu juga dengan lemak dan protein, diperlukan enzim untuk dipecah dan diserap oleh tubuh.

Pada sistem pencernaan kita, enzim dibutuhkan untuk memecah nutrisi yang kita makan dan mengubahnya menjadi bentuk sederhana yang digunakan sel, jaringan, dan organ sebagai bahan bakar serta berbagai fungsi metabolisme. Mulai dari mulut, rongga mulut mengandung kelenjar saliva (air liur) yang mengeluarkan enzim lisozim, betain, bromelain, dan amilase. Masing-masing bekerja sebagai antibakteri, menjaga keseimbangan cairan, antiradang, dan bekerja pada pati dalam makanan; memecahnya menjadi maltosa atau bentuk karbohidrat yang lebih kecil.

Karena itu, ketika Anda memakan makanan bertepung seperti nasi putih atau kentang, ada sedikit rasa manis yang terdeteksi lidah, karena pada saat itu maltosa dilepaskan. Berikutnya lambung. Lambung mengeluarkan asam hidroklorik (HCl) yang dapat membunuh bakteri dan menyediakan lingkungan asam untuk aktivitas enzim protease, yakni enzim yang memecah protein menjadi molekul yang lebih kecil seperti asam amino. Saluran pencernaan kita selain memproduksi enzim protease, sel-sel khususnya juga menghasilkan enzim yang tidak aktif seperti pepsinogen, yang berubah menjadi pepsin ketika suasana asam terjadi dalam perut. Selain itu sel lambung juga memproduksi enzim renin, gelatinase, dan lipase.

Di mana masingmasing fungsinya mengubah protein dalam susu menjadi molekul yang lebih kecil atau peptida. Mencerna gelatin dan kolagen menjadi senyawa berukuran sedang dan mencerna lemak mentega. Kemudian pankreas, yang merupakan sumber utama enzim lipase, yang bekerja pada usus halus. Sel di pankreas juga memproduksi jenis amilase lain, yang disebut amilase pankreas; yang melewati saluran untuk mencapai usus halus. Amilase pankreas berfungsi sebagai pelengkap pencernaan karbohidrat, menghasilkan glukosa, molekul kecil yang diserap darah, dan dibawa ke seluruh tubuh. Pankreas pun membuat kelompok enzim protease lainnya (tripsin dan kimotripsin), yang dilepaskan ke usus halus melalui saluran pankreas. Pankreas juga memproduksi sekelompok enzim lainnya, seperti yang telah disebutkan pada awal tulisan. Berikutnya adalah usus halus. Usus halus membentuk sekelompok enzim yang memecah produk yang telah dicerna pankreas. Sel yang melapisi usus memproduksi enzim maltase, sukrase, dan laktase, yang mana masing-masing mengubah jenis gula tertentu menjadi glukosa.

Makanan sebagai Koenzim

Fatimah menjelaskan, makanan yang mengandung vitamin, mineral, selenium, dan zinc berfungsi sebagai koenzim. Misalnya pada saluran cerna (perut) kekurangan produksi enzim, maka koenzim berupa probiotik dan prebiotik berfungsi untuk memelihara vili usus (tonjolan-tonjolan kecil pada bagian dalam usus kecil), supaya bisa menghasilkan enzim dalam jumlah yang cukup dibutuhkan tubuh untuk memelihara bakteri baik pada saluran cerna. Vili usus juga memproduksi antibodi atau kekebalan tubuh.

Atau apabila Anda sedang mengalami diare, di mana produksi enzim menjadi kacau atau berkurang. Maka kekurangan enzim tersebut dibantu oleh koenzim. Tak hanya pada saluran cerna, masing-masing organ yang juga memproduksi enzim, enzim yang diproduksi tersebut bisa mengalami kekurangan atau kelebihan (naik atau turun) pada saat tubuh dalam keadaan tidak sehat.

Mengapa tubuh bisa berlebihan dalam memproduksi enzim?

Contohnya pada saat Anda terlalu banyak mengonsumsi asupan karbohidrat, maka tubuh akan memproduksi enzim terlalu banyak. Untuk menghentikannya, dibutuhkan obat-obatan yang memotong produksi yang berlebihan tersebut. Atau dalam kasus lain, produksi enzim yang berlebihan itu bisa saja terjadi karena faktor genetik. Karena itu, kesehatan usus merupakan dasar dari kesehatan seluruh tubuh, di mana pada saluran cerna semua nutrisi diserap dan dipecah, lalu dikirim ke seluruh tubuh. (49)