Awal Musim Kemarau Diprakirakan Mei

SM/Antara : CURAH HUJAN: Warga mengevakuasi barang dan membersihkan lumpur sisa banjir bandang di Ujungberung, Bandung, Senin (1/4). Banjir tersebut terjadi karena meluapnya Kali Cicalobak saat intensitas curah hujan yang tinggi.(24)
SM/Antara : CURAH HUJAN: Warga mengevakuasi barang dan membersihkan lumpur sisa banjir bandang di Ujungberung, Bandung, Senin (1/4). Banjir tersebut terjadi karena meluapnya Kali Cicalobak saat intensitas curah hujan yang tinggi.(24)

SEMARANG - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jateng memprakirakan awal musim kemarau di wilayah Jateng secara umum akan terjadi pada Mei mendatang. Meski demikian, sejumlah daerah diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih awal atau mulai April. Daerah yang dimaksud yakni sebagian besar wilayah Blora, Rembang dan Wonogiri. Lalu, sebagian wilayah Pati, Jepara serta Grobogan.

Kepala Seksi Data dan Informasi, Stasiun Klimatologi Semarang, Iis Widya Harmoko menyatakan, untuk Kota Semarang, musim kemarau akan berlangsung mulai akhir Mei. Adapun musim kemarau paling akhir terjadi pada akhir Juni (sebagian Kabupaten Cilacap bagian selatan).

”Awal musim kemarau tahun ini kami prakirakan mundur atau lebih lambat satu dasarian (sepuluh hari) dari normalnya, sedangkan puncak kemarau kami prediksi terjadi pada Agustus 2019,” kata Iis di stan BMKG dalam Pameran Inavest 2019 di DPMall Semarang, kemarin.

Terkait datangnya awal musim kemarau tersebut, pihaknya mengimbau kepada masyarakat, terutama petani untuk memperhatikan pola tanam. Iis menjelaskan, ada beberapa fenomena yang bisa memengaruhi atau menambah curah hujan, walaupun dalam kurun waktu yang singkat, semisal adanya badai/siklon yang dekat dengan wilayah Indonesia.

Intensitas Ringan

Menurutnya, pada musim kemarau nanti, bukan berarti tidak akan terjadi hujan. Peluang terjadinya hujan tetap ada, meskipun dengan intensitas ringan. BMKG memiliki definisi mengenai musim hujan dan kemarau.

Musim kemarau apabila curah hujan dalam 10 hari kurang dari 50 milimeter dan diikuti 20 hari berikutnya. Artinya dalam sebulan, curah hujannya kurang dari 150 milimeter. Sementara itu, Kepala Seksi Observasi dan Informasi, Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo menambahkan, pada masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau akan memunculkan fenomena cuaca yang bersifat ekstrem dan bisa terjadi di hampir semua daerah.

”Masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya biasanya disertai dengan cuaca ekstrem, sebagai contoh hujan lebat yang disertai dengan petir. Namun berlangsung dalam waktu yang singkat,” ujarnya. (ftp-64)


Berita Terkait
Loading...
Komentar