Pagoda Avalokiteswara nan Cantik

Vihara di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang, menjadi salah satu tujuan wisata. Bangunan ikonik di vihara itu tentu Pagoda Avalokiteswara yang cantik, tinggi menjulang 45 meter. Rasanya belum lengkap menyusuri Kota Lunpia jika tak mampir ke kawasan seluas sekitar 2,5 hektare, tepat di seberang markas Kodam IV Diponegoro itu.

Nama Watugong diambil dari sebuah batu mirip alat musik gamelan, gong, yang dulu berada di depan lokasi vihara. Batu ini kemudian diletakkan lebih ke dalam, tepat di depan gerbang masuk. Dari gerbang kecil itu, pengunjung bisa melihat bagian dalam Vihara Buddhagaya.

Pada peta-jalan di gerbang, pengunjung diarahkan menuju ke Vihara Dhammasala. Bangunan itu merupakan cikap-bakal vihara di Watugong, yang berfungsi sebagai ruang peribadahan sekaligus merenungi proses kehidupan. Di dinding bangunan dua lantai itu ada relief yang bercerita tentang Pattica Samuppada. Itulah cerita tentang proses kehidupan manusia sejak lahir hingga meninggal dunia.

Dari Dhammasala, pengunjung bisa langsung menuju ikon cantik: Pagoda Avalokiteswara. Sebelum meniti anak tangga, Anda akan melewati pohon bodhi yang sangat rimbun. Rantingnya menjuntai berhias kertaskertas merah, seakan memayungi pelataran di depan pagoda. Pohon bodhi itu, menurut pengelola vihara, Juminto (33), ditanam pada 1955. Bibit pohon itu dibawa oleh Bante Narada Mahathera, bikhu keturunan India yang memiliki garis keturunan dengan sang Buddha Gautama.

Tepat di bawah pohon bodhi yang dipercaya sebagai tempat bersemedi sang Buddha, ada patung Sidharta Gautama dan patung Buddha yang diletakkan di sisi berlawanan. ”Biasanya aktivitas keagamaan dilakukan dari pohon bodhi, memulai doadoa khusus,”kata Juminto.

Beranjak dari pohon bodhi, kemegahan dan kecantikan Pagoda Avalokitesvara sudah di depan mata. Bangunan itu menjadi salah satu ikon andalan Vihara Buddhagaya. Pagoda itu juga dikenal dengan nama Pagoda Metakaruna, yang berarti pagoda cinta dan kasih sayang. Pagoda itu berbentuk persegi delapan dan menyempit ke atas.

Dari luar pagoda terlihat tujuh tingkat dan di empat penjuru di enam tingkatan terdapat beberapa patung Dewi Kwan Im yang dikenal sebagai dewi kasih sayang. Namun, sesungguhnya, jika dilihat dari dalam, hanya satu lantai dengan langitlangit tinggi hingga ke puncak bangunan. Lampion Kebahagiaan Di teras pagoda bergelantungan lampionlampion cantik warna merah. Jumlahnya sekitar 120 buah.

Di setiap lampion itu tertulis nama setiap donatur. Lampion-lampion itu, tutur Juminto, diganti setiap perayaan imlek. "Lampion itu simbol untuk meraih kebahagiaan, yang dipasang setiap imlek," kata lelaki asal Kaloran, Temanggung, itu. Di dalam pagoda ada patung Dewi Kwan Im.

Pagoda setinggi 45 meter itu memiliki tujuh tingkat. Tujuh tingkat memiliki makna seseorang akan mencapai kesucian. Pengunjung yang beragama Buddha bisa berdoa di sana. Pengelola menyediakan sarana berdoa berupa dupa dan lilin. Pengunjung hanya mengganti uang lilin dan dupa sesuai dengan jenis lilin yang mereka pilih.

Lokasi berdoa berada di lima sisi pagoda. Setiap tempat berdoa ada patung Dewi Kwan Im. Menurut pengelola, pertama untuk doa mendapat jodoh, mendapat anak wanita, yang menghadap ke selatan bagi orang terancam kejahatan, kemudian orang yang menginginkan anak lakilaki, dan untuk memohon badan kuat, sehat, dan panjang umur.

Pagoda Avalokitesvara merupakan tempat sembahyang, memanjatkan doa, kepada Dewi Kwan Im. Dewi Kwan Im merupakan calon Buddha yang bersumpah tidak akan mencapai nirwana selama masih ada orang menderita. Pagoda Avalokitesvara memiliki tinggi bangunan 45 meter dengan tujuh tingkat, yang bermakna seorang pertapa akan mencapai kesucian pada tingkat ketujuh.

Bagian dalam pagoda berbentuk segi delapan berukuran 15 x 15 meter. Di tingkat II hingga VI menampilkan patung Dewi Kwan Im. Dewi Kwan Im ditempatkan menghadap ke empat penjuru mata angin untuk memancarkan kasih sayang ke segala sudut arah mata angin. Selain itu sedikitnya ada 20 patung Kwan Im dipasang di sana.

Di tingkat ketujuh ada patung Amitaba, guru besar para dewa dan manusia. Di bagian puncak pagoda ada stupa untuk menyimpan relik (butirbutir mutiara) yang keluar dari sang Buddha. Sayang, tidak ada anak tangga menuju ke puncak vihara, sehingga keindahan patung itu hanya bisa dinikmati dari kejauhan.

Patung Buddha Tidur

Di sisi timur pagoda, pengunjung bisa melihat sebuah patung unik, yaitu patung Buddha tidur di bawah pohon sala. ”Buddha lahir dan meninggal di bawah pohon sala. Jadi patung itu diletakkan di bawah pohon sala,”ujar Juminto. Di depan patung Buddha tidur ada Tugu AriyaAattangika. Tugu itu berjumlah delapan, menjadi simbol dalam latihan menggapai kebahagiaan tertinggi. Di kompleks vihara itu juga ada replika Tugu Ashoka.

Tugu itu tercatat dalam Prasasti Batu Kalingga No XXII. Itulah prasasti peninggalan Raja Ashoka yang hidup pada abad keempat sebelum Masehi. Tak jauh dari Tugu Ashoka ada pelataran Mandala, yang dilihat dari atas menyerupai lanskap Candi Borobudur. Sekarang, Vihara Buddhagaya Watugong tidak hanya dikunjungi umat Buddha.

Vihara itu pun tidak khusus sebagai tempat peribadatan. Daya tarik Pagoda Avalokitesvara yang cantik, sanggup menarik minat wisatawan. Pengunjung yang datang pun dari berbagai kalangan.

"Setiap hari ratarata 50 orang datang mengunjungi vihara ini," ujar Juminto. Lebih menyenangkan lagi pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk. Cukup memberikan dana sumbangan parkir seikhlasnya. (Eko Edi N-28)


Berita Terkait
Loading...
Komentar