Sejarah Vihara Watugong

Sejarah vihara itu diawali tahun 1955. Saat itu, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita memimpin perayaan Waisak 2549 di Candi Borobudur. Semasa dengan itu, ada hartawan dari Semarang, Goei Thwan Ling.

Ia terkesan atas kepiawaian dan kepribadian Bhikku Ashin Jinarakkhita. Goei Thwan Ling pun menghibahkan sebagian tanahnya untuk digunakan sebagai pusat dan pengembangan Buddha Dhamma.

Tempat itulah yang kemudian diberi nama Vihara Buddhagaya. Pada 19 Oktober 1955 didirikan Yayasan Buddhagaya untuk menaungi aktivitas di vihara. Dari vihara itulah kemudian dijadikan pengembangan Buddha Dhamma di sekitar Semarang. Cikal-bakal vihara itu adalah gedung Vihara Avalokitesvara atau Dharmasala.

Di sinilah kali pertama semua persatuan buddhisme dihimpun. Gedung Dhammasala terdiri atas dua lantai. Lantai dasar digunakan untuk ruang aula serbaguna yang luas, sedangkan lantai atas untuk ruang keagamaan. Di lantai atas itu ada patung sang Buddha dengan posisi duduk, yang merupakan duplikasi dari Buddha rupang di Candi Mendut.

Lebih istimewa, saat pengembangan vihara beberapa waktu lalu, beberapa bahan bangunan sengaja didatangkan dari Tionkok, seperti railing tangga batu, dua tiang batu dengan ukiran menawan. Salah satu peninggalan vihara tua di Watugong adalah patung Buddha tidur di bawah pohon sala.

Kompleks vihara itu rapi dan asri. Dipadukan dengan keindahan arsitektur Tiongkok menjadikan tempat itu relatif menyenangkan untuk berziarah serta beribadah dan sekadar bersantai melepas penat. (Eko Edi N-28)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar