Melantunkan Doa di Makam Syekh Selomanik

Sejumlah situs wisata religi yang ada di Wonosobo yaitu antara lain makam Kiai Walik di kompleks Masjid Kauman dan makam Kiai Wanusaba yang terletak di Desa Plobangan.

BERWISATA ke dataran tinggi Dieng yang terletak antara Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah tak hanya menengok keindahan alam. Ada juga wisata religi di tempat yang dikenal dengan cuaca dingin menggigit itu. Salah satunya ke makam Syekh Ngabdullah Selomanik yang juga merupakan penyebar Islam di tanah Dieng.

Menurut penduduk Dieng, dahulu kawasan Dieng ini dihuni dan ditinggali para penganut Hindu. Namun Syekh Selomanik datang dan menyebarkan agama Islam."Syekh ini disebut keturunan Sunan Ampel, dulu semasa hidup Gus Dur juga suka ziarah," terang Alif Ajisaka, tokoh pemuda Dieng Amat mudah bagi yang ingin berziarah ke makam Syekh Selomanik yang terletak di Desa Sembungan.

Di pinggir jalan tampak gapura besar bertuliskan lokasi makam. Atau paling mudah tanya saja para penduduk Dieng, mereka pasti tahu makam ini. Setiap awal Januari, saat haul sang sykeh, lokasi pemakaman ini sangat ramai. Banyak yang berziarah dan memanjatkan doa. Rupa-rupa doa yang dipanjatkan, bergantung dari niatan masing-masing. Dahulu saat musim pencalegan, makam syekh juga ramai dikunjungi. Banyak legenda soal mitos sang syekh ini, mengingat Dieng dikenal wilayah suci.

Suasana tampak sepi. Beberapa anak-anak tampak bermain di bawah tangga makam. Untuk menuju makam ini memang mesti naik beberapa anak tangga. Makam terletak di dalam sebuah rumah di area pemakaman umum.

Pengunjung yang datang akan mendapati karpet di dalam rumah seperti mushola itu. Para pengunjung perempuan dan pria dipisah bila ingin berdoa. Makam ditutup tirai dan sebuah karpet berwarna hijau. Tak ada penunggu makam yang khusus berjaga, para peziarah dipersilakan saja untuk berdoa. "Kalau wisata ke Dieng jarang yang ke ziarah ke makam, biasanya lihat pemandangan alam sama lihat candi," terang Slamet penduduk Dieng. Tak hanya mempunyai destinasi wisata alam yang mempesona, Wonosobo juga memiliki destinasi wisata religi, yaitu masjid tertua. Konon, masjid ini adalah masjid yang menjadi saksi bisu penyebaran Islam di Wonosobo yang sudah lama dibangun, bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia.

Adalah Masjid Al Manshur Wonosobo, yang masih menjadi magnet yang kuat baik bagi kehidupan sosial-kemasyarakatan maupun kunjungan berziarah di Kabupaten Wonosobo. Terbukti tempat ibadah di Jalan Masjid Nomor 13 Kauman Utara Wonosobo itu selalu ramai pengunjung baik pada hari-hari biasa, pengajian selapanan hingga hari-hari besar keagamaan. Tak hanya sebagai tempat beribadah saja, Masjid yang berdiri sejak tahun 1800-an itu juga menjadi saksi bisu penyebaran ajaran agama Islam di bumi Wonosobo, serta saksi pendirian cikal bakal Kabupaten Wonosobo.

Masjid tersebut juga lokasi referensi masyarakat dari sejumlah penjuru tanah air. Karena di kompleks masjid tersebut terdapat makam salah satu tokoh penyebar agama Islam di wilayah Wonosobo, yakni Kiai Walik. Konon, Kiai Walik merupakan satu di antara tiga tokoh pendiri Kabupaten Wonosobo. Yaitu; Kiyai Walik, Kiai Kolodete dan Kiai Karim.

Ceritanya, mereka membuka hutan belantara hingga menjadi pemukiman dan menyebarluaskan ajaran Islam bagi penduduk. Dari sisi bangunan, Masjid Al Manshur ini terdiri dari dua ruang besar. Memasuki masjid tampak bangunan kuno dengan tiang-tiang kayu tinggi yang dihiasai ukir-ukiran. Tidak ada kesan mewah, namun memasuki ruangan masjid, terasa adem, sejuk dan nyaman. Di sebelah kanan bangunan utama masjid, berderet ruang-ruang kelas sekolah dan pondok pesantren. Selanjutnya, di halamannya yang luas dibangun lapangan basket. Banyak orang mengakui masuk ke masjid akan terasa dingin, dan tenang.

Merintis

Kota Wonosobo berdiri konon berkat jasa tokoh berpengaruh kala itu salah satunya Kiai Walik. Ketiganya merintis kawasan yang semula hutan belantara menjadi pemukiman. Bersama sanak keluarga mereka bahu-membahu membabat hutan, mengubah menjadi ladang pertanian. Masingmasing memiliki peran yang berlainan. Kiai Walik sebagai perancang kota. Kiai Walik dianggap paling dekat di hati rakyat.

Figur pemimpin yang merakyat, disukai sekaligus disegani pada zamannya. Namun ketiga tokoh itu menjalin hubungan yang erat. Kiai Walik tinggal di kawasan Wonosobo. Konon, sebelum meninggal dunia pada hari Kamis, Kiai Walik mengatakan bahwa di tempat ditumbuhi pohon bambu kelak akan menjadi tempat luas.

Menggambarkan kewibawaan negara, juga menggambarkan perbuataan buruk manusia. Ternyata ramalan tersebut ada benarnya. Kini di tempat yang ditunjuk Kiai Walik berdiri masjid, alun-alun dan lembaga pemasyarakatan. Diyakini masyarakat, makam tokoh terkenal itu berada di belakang Masjid Al Manshur Kauman. Sebelumnya tidak diketahui bila di belakang masjid terdapat makam Kiai Walik.

Saat ini, kegiatan keagamaan terus berlangsung di Masjid ini, seperti pengajian setoran, biasanya diisi dengan kajian tafsir, fiqih dan berbagai kajian Islam lainnya. Pengajian setoran bakal terus dilestasikan hingga masa mendatang. Tak hanya menjadi rekomendasi berziarah dan pengajian, Masjid Al Manshur juga menjadi pathokan waktu shalat masyarakat di Kabupaten Wonosobo. Banyak orang datang untuk mencocokkan jam, karena terdapat bencet atau jam matahari yang menjadi patokan waktu shalat. Selain itu ada pula wisata religi pendiri kota Ki Ageng Wonosobo, atau juga sering disebut dengan Raden Joko Dukuh, merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah berdirinya Kabupaten Wonosobo. ”Raden Joko Dukuh merupakan Putra dari Raden Bondan Kejawen dan Dewi Nawangsih,” jelas kata seniman Bambang Iskar.

Bondan Kejawen sendiri, disebut dia merupakan Putra Prabu Browijoyo V, Raja ke 10 Kerajaan Majapahit yang memerintah mulai Tahun 1468 sampai 1478 M. Ketika beranjak dewasa, Raden Joko Dukuh diperintahkan untuk berguru kepada Sunan Gunungjati di Cirebon. ”Setelah berguru itulah Joko Dukuh kemudian diminta untuk membuka lahan di sebuah tempat, yang akhirnya dinamakan Wanusaba, dan beliau dijuluki dengan Ki Ageng Wonosobo,” tandasnya.

Penjelasan Eko tersebut selaras dengan keterangan Kades Plobangan, Ismail. Pihak Desa, diakui Ismail bahkan telah membukukan sejarah tersebut dengan bantuan penelitian dari PMII Unsiq. ”Sejak 2009 sebenarnya kami telah berupaya mengusulkan agar Makam Ki Ageng Wonosobo ini agar masuk menjadi agenda ziarah bersama makam Tumenggung Jogonegoro di Pakuncen, Selomerto, makam Tumenggung Selomanik di Kaliwiro, makam Bupati Mangunkusumo, di Ketinggring, Kecamatan Wonosobo, makam KH Muntaha di Desa Deroduwur, Mojotengah, KH Asmorosufi di Sapuran, dan Makam H Abdul Fatah di Desa Tegalgot, Kepil, namun baru Tahun ini bisa terlaksana,” ujar Ismail. Dengan masuknya makam Ki Ageng Wonosobo tersebut, Ismail berharap warga masyarakat juga lebih memahami sejarah berdirinya Kabupaten Wonosobo.(Edy Purnomo-53)


Berita Terkait
Loading...
Komentar