Syekh Subakir dan Kiai Semar Masih Jadi Magnet

Potensi Lain Kiai Duda dan Kiai Tuk Songo

ZIARAH makam Syekh Subakir di puncak Gunung Tidar masih menjadi andalan wisata religi di Kota Magelang. Meskipun ada pula makam ulama atau tokoh berpengaruh lain yang tak kalah menariknya, seperti makam Kiai Duda, Kiai Tuk Songo, dan Kiai Langgeng.

Menuju makam Syekh Subakir tidaklah susah. Wisatawan langsung menuju Gunung Tidar yang ada di wilayah Kelurahan Magersari, Kecamatan Magelang Selatan. Dari kaki gunung, peziarah menaiki ratusan anak tangga menuju area makam yang sudah diperbaiki oleh Pemkot Magelang. Sampai di area makam, peziarah disambut gapura melengkung bertuliskan ”Maqom Syekh Subakir”. Masuk ke dalam sudah bisa menemui makam sang ulama besar yang dilindungi dengan tembok melingkar. Di dekat makam, terdapat pendopo untuk tempat istirahan peziarah dan masjid. Akhir pekan menjadi waktu yang paling ramai peziarah mendatangi makam sang syekh.

Puluhan bus wisata kerap memadati area parkir Gunung Tidar yang tak cukup luas di hari Sabtu dan Minggu. Ratusan peziarah pun naik ke puncak gunung yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah. ”Kita memang masih mengunggulkan makam Syekh Subakir untuk wisata religi. Tapi tidak menutup mata potensi lain, seperti Kiai Duda, Kiai Tuk Songo, Kiai Langgeng, dan lainnya,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Magelang, Jarwadi.

Karena jadi unggulan, pihaknya pun masih fokus penataan di area Gunung Tidar berupa ketersediaan parkir dan penataan kawasan. Ketersediaan parkir masih menjadi PR pemerintah setelah sebelumnya sudah memperbaiki area makam, tangga menuju puncak, dan kantor UPT Gunung Tidar. ”Di tahun 2019 ini kita akan menyediakan toilet di area parkir (samping kantor Gapensi). Juga menyediakan kios-kios untuk jualan cinderamata dan fasilitas lainnya.

Biaya dari Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 1 miliar,” katanya yang menyebut, tingkat kunjungan ke Gunung Tidar tahun 2018 lalu mencapai 96.992 orang. Untuk potensi ziarah di makam lainnya, Jarwadi mengaku, potensi itu masih harus terus dipromosikan. Utamanya komplek makam Kiai Duda di Kampung Tidar Dudan, Kelurahan Tidar Utara yang sudah direnovasi pada tahun 2018 dengan APBN sebesar Rp 1.770.500.000.

Akses Sulit

Hanya saja, lokasi makam ini dinilai agak susah untuk dimasuki bus berukuran besar. Jalan yang sempit, berbelok, dan naik-turun menjadi penyebab bus wisata susah masuk sampai lokasi.

Meskipun solusinya bisa disiasati dengan pemerintah menyediakan bus shuttle. ”Makam ini memang potensial untuk menarik wisatawan, tapi saat ini masih sebatas peziarah lokalan Magelang. Kalau luar daerah agak susah, karena rombongan naik bus besar,” jelasnya. Terpisah, penyair Gunung Tidar sekaligus seniman dan budayawan ES Wibowo mengaku, Syekh Subakir memang masih menjadi magnet utama orang dari luar daerah untuk berziarah ke Kota Sejuta Bunga. Tidak sedikit pula yang bertapa selama beberapa hari dengan tujuan tertentu. Menurut bapak yang tinggal di Kampung Potrosaran Kota Magelang ini, Syekh Subakir memiliki kharisma tersendiri bagi orang-orang yang percaya. Orang-orang yang sudah ziarah atau bertapa ke berbagai makam di penjuru nusantara hingga dunia kalau belum ke Syaik Subakir belum sempurna.

”Itulah kepercayaan yang masih kuat di tengah masyarakat sampai saat ini. Selain Syekh Subakir yang masih dikagumi, juga karena adanya makam Kiai Semar dan Pangeran Purboyo di Gunung Tidar ini yang makin membuat kesan kuat kepercayaan itu,” jelasnya.

Kiai Semar, kata ES Wibowo, dalam dunia pewayangan dan jagat Jawa, Kiai Semar turun ke jagat raya sebagai pamomong wiji ratu tanah Jawa, nusantara, dan jagat. Kiai Semar juga sebagai pusakaning tanah Jawa, nusantara, dan jagat. ”Sekitar tahun 1985 saya pernah satu minggu tinggal di area makam Syekh Subakir dan Kiai Semar.

Saya mendengar unen-unen yang berbunyi mboten prayogi nguri-nguri angkoro murko sainggilin gunung tidar, amargi ken bodroyono sampun mandap hargo nglampahi darmo semesta,” urainya. Makna dari apa yang didengarnya ini, katanya, tidak baik memelihara angkara murka atau keburukan, karena Semar turun ke jagat untuk menyelematkan semesta. Ia pun menangkap pesan ini agar manusia tidak berbuat keburukan. ”Maka, kalau saya sebaiknya bagi peziarah yang akan naik Gunung Tidar harus dengan hati bersih. Sebab, di puncak akan menjiwai semangat kebenaran dan filosofi Syekh Subakir dan Kiai Semar. Jangan naik ke puncak dengan membawa angkara murka,” ungkapnya. (Asef FAmani-53)


Berita Terkait
Loading...
Komentar