Rupa-Rupa Masakan Ny Tatang Asia

Penasaran dengan masakan kuliner tahun 1933? Cobalah mampir ke Restoran Asia di Jalan Angkatan 45 Nomor 43 Wonosobo.

Nyonya Tatang adalah koki andal dari Wonosobo yang menjadi juri masak pada berbagai daerah di Nusantara. Dia telah puluhan tahun meracik makanan khas lokal dan dicicipi wisatawan asing dari berbagai belahan dunia. Salah satunya satai jamur dieng yang menjadi salah satu makanan khas di Wonosobo. Satai jamur biasanya disajikan dengan lontong atau nasi. Sekilas, rasanya mirip daging ayam, Namun bertekstur lebih lembut dengan rasa bumbu kacang yang kuat.

Ny Tatang meracik resep satai jamur itu. Meski dengan bahan dasar jamur, rasa satai itu tak kalah dari satai daging. Satai jamur dikenalkan kepada wisatawan di restoran dan hotel yang menawarkan jamur sebagai menu utama.

Di wilayah itu potensi jamur sangat melimpah. Harganya pun tak mahal. Lagipula sehat karena bernilai gizi cukup tinggi dengan kandungan protein tinggi dan asam amino lengkap. Sejak awal, jamur kancing menjadi pilihan bahan satai. Selain murah, jamur itu bertekstur mirip daging.

Meski kini sudah menjadi makanan khas, Ny Tatang menyatakan untuk mengenalkan kuliner itu tak semudah membalik telapak tangan. Awal memperkenalkan, satai jamur masih kurang diterima masyarakat.

Dia ingin terus merangkul semua lapisan masyarakat untuk mempertahankan menu khas Wonosobo itu menjadi salah satu ikon daerah. Karakter kota wisata, kata dia, harus pula didukung kuliner khas yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.”Saya ingin kekayaan kuliner daerah dipertahankan. Saya pun bikin menu pucuk daun labu untuk tamu hotel dan restoran,” katanya.

Diperkuat

Valentina Tatang menuturkan pelanggan restoran sudah pula datang dari luar negeri, sehingga ikon Wonosobo harus diperkuat. Tak hanya masyarakat umum, para pejabat pun lokal, luar daerah, dan nasional sering mampir ke restorannya.

Bahkan ada musim tertentu ketika turis mancanegara rutin berkunjungi. Misalnya, September hingga April kebanyakan yang datang turis Asia, misalnya Thailand. ”Saya berharap warga Wonosobo membuat menu khas lokal untuk oleh-oleh wisatawan, seperti keripik bayam dan daun talas. Kami akan membantu memasarkan ke wisatawan,” ujar dia.

Meski mengelola restoran yang sudah tua, masakannya berhasil membuat ketagihan pengunjung lokal dan luar negeri.

Salah satu keunikannya, restoran itu menyajikan masakan dari Kanton, salah satu daerah di Tiongkok. Di Restoran Asia, suasana tempo doloememang terpancar. Lampu ditata remang- remang dengan tambahan ornamen lukisan lawas serta meja dan kursi. ”Ayam kanton sudah populer sejak 1933,” kata Valentina Tatang.

Selain ayam kanton, menu khas lain adalah burung dara goreng, gurami saus asam manis, serta sop hipio atau sop gelembung ikan. Ia mengatakan, resep masakan Kanton itu tidak berubah sejak generasi pertama. Ayam goreng, misalnya, tetap renyah dan selalu terhidang dengan garam wangi Tiongkok serta campuran rempah-rempah. ”Garam wangi itu kami tumbuk. Itu yang tidak ada di restoran lain,” katanya.

Restoran itu didirikan oleh tukang masak asal Tiongkok yang bekerja di kapal Chicalengka, Tam Hong. Tam Hong menetap di Wonosobo dan membuka warung makan yang khusus menyediakan masakan Kanton. Waktu itu, konsumen adalah orang Belanda, Jepang, dan Tionghoa. Valentina menuturkan pengelola Restoran Asia kini merupakan generasi ketiga dari Tam Hong. Sang suami, mendiang Tatang Harijanto, adalah cucu Tam Hong. Sejak kecil sang suami sudah mendapatkan ilmu dari ibunya, Tam Jailing, anak semata wayang Tam Hong. (Edy Purnomo-53)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar