Romi Sebut Nama Khofifah

JAKARTA-Tersangka kasus jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag), Romahurmuziy (Romi) membantah terlibat dalam kasus tersebut.

Justru, mantan Ketua Umum PPP itu menyeret nama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dan Pimpinan Pondok Pesantren bernama Asep Saifuddin Halim. Romi mengatakan, dirinya hanya meneruskan aspirasi terkait dengan kelayakan Haris Hasanuddin untuk dijadikan sebagai Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur. “Memang dari awal saya menerima aspirasi itu dari ulama, Kiai Asep Saifuddin Halim. Dia seorang pemimpin pondok pesantren besar disana, dan kemudian Ibu Khofifah Indar Parawansa, misalnya,” ujar Romi di Gedung KPK.

Menurutnya, dalam memberikan aspirasi, Khofifah berpandangan bahwa Haris merupakan sosok yang memiliki kinerja baik dan dapat bersinergi dengan Pemprov nantinya. “Sebagai gubernur terpilih beliau mengatakan, kalau Mas Haris sudah kenal kinerjanya sehingga kedepan sinergi dengan Pemprov akan lebih baik,” jelasnya.

Romi berdalih bahwa rekomendasi atau referensi tersebut bukan merupakan upaya intervensi untuk memposisikan seseorang menduduki jabatan.

Menurutnya, seleksi yang ada berjalan sesuai koridor. “Proses seleksi mengikuti koridor. Misalnya yang dilakukan saudara Haris Kakanwil, apa yang saya terima referensi dari orang-orang tokoh masyarakat dan tokoh agama yang sangat qualified, dan tentu itu menjadi dukungan moral,” imbuhnya.

Dirinya mengatakan kepada pihak yangberkompeten untuk tidak menghilangkan proses seleksinya. “Proses seleksi tidak saya intervensi. Proses seleksi dilakukan panitia yang sangat profesional,” ujar Romi.

Dirinya berdalih apa yang dilakukan hanyalah meneruskan aspirasi. Sebagai anggota DPR dan Ketum PPP, banyak yang menganggap dirinya bisa menyampaikan aspirasi ke pihak yang mempunyai kewenangan.

Pemberkasan Kasus

Namun demikian, dirinya mengaku siap untuk bekerja sama serta memberikan penjelasan terkait dengan kasus yang membelitnya. “Sehingga mereka mendapatkan persepektif yang terang dan tidak ada yang ditutup-tutupi, dan mereka juga akan permudah untuk segera menyelesaikan pemberkasan kasus,” pungkasnya.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, bahwa Romi dapat menjelaskan keterkaitan pihak-pihak yang disebutkan dalam perkara tersebut. “Nama atau informasi atau hal lain itu sebenarnya bisa disampaikan langsung kepada penyidik, kalau memang relevan,” kata Febri. Nantinya, KPK akan melihat relevansi antara orang-orang yang disebut dengan pokok perkara. “Relevansinya harus kami lihat. Bisa saja orang menyebut nama siapapun. Namun tentu KPK punya tanggung jawab untuk melihat ada atau tidaknya relevansinya dengan pokok perkara,” jelasnya.

KPK menetapkan Romi sebagai tersangka karena diduga menerima uang senilai Rp 300 juta dari Kepala Kantor Kemenag Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kakanwil Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin.

Rinciannya, Rp 50 juta dari Muafaq dan Rp 250 juta dari Haris. Uang itu diduga ditujukan agar Romi membantu proses seleksi kedua orang tersebut. Namun KPK menduga Romi bekerja sama dengan aktor internal dari Kemenag mengingat posisi Romi adalah anggota Komisi XI DPR, yang tidak punya kewenangan dalam pengisian jabatan di Kemenag. (K32-64)


Loading...
Komentar