Inspirator

Empati untuk Hewan

SM/Eko Edi N : Lukas Ryan Christyanto
SM/Eko Edi N : Lukas Ryan Christyanto

Sejak kecil, pemilik Steam & Brew Kafe ini menyukai hewan. Berawal dari rasa sayang itulah, dia beranjak untuk melindungi dan menyelamatkan binatang-binatang yang kurang beruntung.

LUKAS Ryan Christyanto bergaul dengan hewan peliharaan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Keluarganya memelihara seekor anjing. Hanya, saat itu dia belum diperbolehkan berdekatan dengan si anjing. ”Tak pernah pegang. Saya dianggap belum cukup umur. Orangtua khawatir kalau anjing itu melawan,” ujar Lukas di kafenya yang terletak di Jalan Depok, Kota Semarang.

Tetapi kemudian dia mengalami pengalaman yang menyedihkan dengan anjing kesayangan keluarganya itu. ”Anjing saya mati diracun. Kondisinya mengenaskan. Saya berpikir, orang kok jahat begitu. Anjing tidak ngapa-ngapain kok dibunuh,” tutur Lukas.Peristiwa itu membuat rasa kasihnya terhadap hewan semakin besar. Suatu hari, keluarganya membeli anjing lagi. ”Kami pelihara jenis golden retriever. Cukup lama, sampai saya SMA. Ia mati tua. Saat itu saya merasa sangat kehilangan, sampai stres memikirkannya,” ujar lelaki kelahiran Semarang 26 Januari 1991 itu.

Lukas lantas memelihara anjing lagi, jenis beagle. Kedekatannya dengan hewan tak berubah saat dia kuliah di Universitas Petra Surabaya. Bahkan di kos harus ada hewan. Di Kota Pahlawan, dia menyelamatkan anjing beagle yang tak diurus pemiliknya. ”Anjing itu sakit. Tempat tinggalnya tak layak, di tumpukan koran. Saya beli, tapi hanya bertahan lima bulan. Dia mati karena sakit,” sambung Lukas yang juga pernah mendapat kepercayaan dari seorang teman untuk merawat anjing peliharaannya.

Di Surabaya pula dia berkenalan dengan pengelola shelteratau tempat penampungan dan perlindungan hewan telantar. Berbagai perjalanan hidup itu membuat Lukas yang merupakan anak tunggal itu tak bisa lepas dari hewan. Begitu dekatnya dengan binatang, Lukas kadang lebih memilih bercerita pada mereka dibanding kepada orang. Dia merasa, hewan lebih mengerti, walau tidak bisa menjawab atau menanggapi perkataan manusia. ”Dari mata dan sikapnya, saya tahu kalau hewan berempati pada kita.” Dewasa ini, menurut Lukas, banyak manusia tidak punya welas asih kepada hewan. Padahal, manusia dan binatang sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.

Membuang Bayi Kucing

Dia mencontohkan, banyak kejadian orang memisahkan bayi kucing yang masih menyusui induknya, lalu membuangnya ke tempat sampah atau pasar. Bahkan terkadang ada anak kucing yang dilempar begitu saja ke sungai hingga akhirnya hanyut dan mati. Ada pula yang kaki atau lehernya diikat karet gelang atau tali. Padahal tindakan iseng itu membawa penderitaan panjang, karena lama kelamaan tali itu menjerat daging dan tulang si kucing.

Baru-baru ini ada pula orang yang menyundut cicak dengan rokok menyala, lalu dengan enteng merekam dan mengunggah videonya ke media sosial. ”Saya heran, orang-orang ini kenapa kok melampiaskan emosi ke hewan. Mereka tidak mengganggu kita. Mengapa emosi kita tumpahkan kepada hewan?” ujar Lukas memprotes.

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, imbuhnya, semestinya manusia tidak berkelakuan seperti itu. ”Bukankah manusia diciptakan paling sempurna, punya akal budi, bukan akal bodho. Tapi mengapa menyiksa makhluk hidup lain. Padahal hewan itu sejatinya sangat bisa mengerti manusia,” papar dia.

Misalnya, kata Lukas, kalau kita bertemu hewan di jalan, kemudian jongkok dan mengulurkan tangan, menatap mata mereka, hewan akan tahu kalau kita ramah pada mereka. ”Orang (yang tidak suka hewan) ada dua macam. Ada yang memilih menghindar karena jijik. Ada pula yang tidak suka, tidak menghindari, tapi malah menyiksa. Kalau nggak suka, lebih baik tinggalkan, jangan siksa!” tandasnya. Lebih lanjut dia menuturkan, di Semarang sebetulnya banyak orang yang menyelamatkan (rescue) hewan telantar. Namun, kebanyakan diam-diam. Sebab, kalau diketahui umum, biasanya rumah atau shelter mereka justru menjadi sasaran atau tempat pembuangan hewan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. ”Kasus rescue di sini (Semarang) biasanya tidak berat. Paling anjing lupa rumah atau lupa jalan. Beda dari kota lain seperti Jakarta, Pontianak, dan Medan,” ungkap Lukas yang membebaskan pengunjung membawa hewan peliharaan ke kafenya. (Eko Edi N-19)


Berita Terkait
Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar