Urgensi Promosi Toleransi

Oleh Ahmad Rofiq

AKSI teror keji dan biadab di Masjid An-Noor Cristchurch, Jumat (15/3/2019) yang menewaskan lima puluh orang, menyentak kesadaran dan menyedot perhatian masyarakat dunia. Semua menyampaikan keprihatinan yang sangat mendalam, mengutuk pelaku teror, dan meminta pemerintah New Zealand segera mengusut dan menjatuhi hukuman yang seberat-beratnya. Di Utrecht Belanda (19/3/2019) di Kereta, terjadi penembakan yang diduga dilakukan oleh warga kelahiran Turki, Gokmen Tanis (37) yang menewaskan tiga orang.

Islam—dan juga agama-agama lainnya—pada hakikatnya mengajarkan kasih sayang, saling menyayangi, saling menghormati, dan saling menolong antara satu sama lain. Islam kitab sucinya berdasar Alquran yang isinya disarikan salam surat al-Fatihah—sering disebut Umm Alquran—dan Al-Fatihah disarikan lagi dalam basmalah atau bacaan Bi ismi Allah al-Rahman al-Rahim. Artinya ìDengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayangî.

Lebih dari itu, detail tata cara (kaifiyat) shalat saja, juga tidak diatur secara detail di dalam Aquran. Cukup dijelaskan oleh Rasulullah saw, mulai dari syarat, rukun, dan tata cara pelaksanaannya, yang disebut dengan hadis atau sunnah. Sementara tata cara berhubungan, bersaudara, bertetangga, dan saling menolong diperintahkan secara eksplisit dalam Alquran. QS. Al-Hujurat 10-13 menjelaskan secara detail, bahwa pertama, sesungguhnya antara orang-orang yang beriman— apapun agamanya—adalah bersaudara, maka damaikanlah.

Rasulullah saw memberi contoh dan teladan sangat kongkret, ketika dia meletakkan fondasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara tahun kedua hijriah kala menyiapkan Risalah /Mitsaq/ Dustur Madinah. Bahkan saat draf tersebut dikirim kepada para pimmpinan kabilah dan Yahudi, di mana di bawahnya tertulis Muhammad Rasulullah, mereka meminta kata Rasulullah dihapus, beliau pun menghapus dan menggantinya dengan Muhammad bin Abdillah (Montgomery Watt, 1961).

Kedua, seluruh warga Yatsrib—nama ini diganti Madinah artinya peradaban dengan misi, agar mereka menjadi masyarakat yang berperadaban—disatukan dalam wadah umat. Kata Ummah (bahasa Arab, bahasa Indonesia: umat) adalah sebuah kata dan frasa dari bahasa Arab yang berarti: “masyarakat” atau “bangsa”. Kata tersebut berasal dari kata amma-yaummu, yang dapat berarti: “menuju”, “menumpu”, atau “meneladani” (id.wikipedia dan KBBI).

Ketiga, melalui konsep umat tersebut, mereka dipersatukan dalam posisi yang setara (egual atau musawah), tidak ada lagi strata baik berdasar kelas, etnis, maupun warna kulit, dan suku bangsa. Semua mempunyai kedudukan, kewajiban, dan hak yang sama. Adanya pemahaman bahwa agama adalah candu atau aslinya ditulis dalam Bahasa Jerman, Die Religion ... ist das Opium des Volkes (terjemahan langsung: “Agama... adalah opium bagi masyarakat”), adalah kutipan terkenal sekaligus sepotong-sepotong dari tulisan Karl Marx yang sering disalahartikan, ini akibat dari kesalahpahaman dalam mengartikan agama.

Di sinilah urgensi promosi toleransi dalam kehidupan beragama mutlak dilakukan oleh siapa saja, di mana saja. Islam meletakkan fondasi dasar toleransi (tasamuh) ini dengan tiga model persaudaraan (ukhuwah) : Islamiyah (sesama pemeluk Islam), wathaniyah (sesama anak bangsa), dan insaniyah/basyariyah (sesama anak manusia). Apa pun warga negaranya, hakikatnya adalah saudara.

Keempat, perlu diletakkan fondasi bangunan kesadaran (awareness) dari usia kanak-kanak adanya keyakinan terhadap kebenaran pada agama yang dianutnya, tetap harus menghormati pilihan agama orang lain. Kelima, perlu dikembangkan dialog secara rutin dan berkala antara para pemimpin umat beragama, untuk mencari dan membangun persamaan, sementara terhadap perbedaan dipromosikan untuk bisa saling memahami dan menghormati.

Keenam, masih perlu terus dilakukan adanya kegiatan bersama, misalnya gerak jalan kebangsaan, senam bersama kerukunan, dan aksi sosial bersama, tanpa diembel- embeli misi dan egoisme kelompok, yang ada adalah membangun kemanusian dan peradaban toleran atau tasamuh.

Semoga kejadian di New Zealand dan Utrech merupakan tragedi kemanusiaan yang terakhir. Apalagi di negeri kita selama masa-masa kampanye yang terlalu lama, enam setengah bulan, dan masih menunggu saat-saat cukup menegangkan, Pemilu 17/4/2019, semoga kita makin dewasa. Dewasa dalam beragama, berpolitik, bermasyarakat, lebihlebih mengedepankan kasih sayang, menghormati perbedaan, dan mampu menjalankan pesan suci agama, untuk saling mengenal (taaruf), saling menghormati, saling menyayangi, dan saling menolong.(34)

Prof Dr Ahmad Rofiq MA,Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar