Memutus Mata Rantai Teror

Oleh Andi Purwono

SERANGAN terorisme terhadap jamaah masjid Al Noor dan Linwood di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3) lalu yang menyebabkan 50 korban meninggal dan puluhan terluka mengagetkan dunia. Selain kecaman terhadap pelaku dan simpati pada korban, banyak pihak mengkhawatirkan potensi teror balasan. Kemunculan seruan Al Qaeda dan ISIS kepada simpatisannya untuk menuntut balas dan mengimbau anggota dan simpatisannya menyiapkan serangan balasan, baik secara berkelompok maupun seorang diri, menguatkan kekhawatiran itu.

Bagaimana upaya masyarakat dunia agar rantai teror ini tidak berkembang berbalasan? The cycle of violence (siklus atau rantai kekerasan) menjadi satu hal yang membahayakan dalam kehidupan sosial yang majemuk. Ini terjadi ketika dua pihak yang bermusuhan bergantian saling balas kekerasan yang dilakukan pihak lain.

Dalam konteks global, situasi yang diwarnai siklus kekerasan ini tentu sangat berbahaya bagi keamanan dan perdamaian internasional. Meminjam pemikiran Janie Leatherman (eds.) dalam buku Memutus Siklus Kekerasan (2015), diperlukan setidaknya dua upaya bersama untuk memutus rantai kekerasan dan teror yang terjadi.

Pertama, melakukan rekonsiliasi sebagai proses pemulihan hubungan pada keadaan semula. Rekonsiliasi dalam konteks ini tentu harus dimulai dari sikap bijak untuk menempatkan secara proporsional dan tepat teror sebagai serangan terhadap kemanusiaan bukan sekadar terhadap muslim yang sedang beribadah.

Dalam kasus Selandia Baru, pernyataan pelaku lebih mencerminkan kebencian terhadap imigran yang kebetulan muslim. Artinya, ini harus menjadi tragedi bersama. Karena itu, kita bersyukur atas kemunculan berbagai respons yang menyikapi serangan sebagai tragedi kemanusiaan, bukan sekadar kebencian terhadap muslim.

Suara ini adalah respons mayoritas yang kita dengar dari berbagai penjuru dunia. Berbagai tokoh dan masyarakat lintas agama dan bangsa telah menyatakan keprihatinan dan duka yang sama. Ini artinya, tujuan teror untuk menebar rasa takut dan memisahkan mendapat perlawanan bersama.

Musuh Dunia

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyebut peristiwa mengerikan itu sebagai hari paling kelam karena negaranya selama ini dikenal sebagai negara yang paling aman. Ia menemui keluarga korban dan tegas menyatakan bahwa serangan terhadap satu kelompok adalah serangan kepada semua.

Pernyataan serupa disampaikan PM Australia Scott Morrison yang menemui komunitas muslim di negaranya dengan menegaskan bahwa musuh dunia sebenarnya adalah kebencian dan terorisme. Karena itu, ia menyebut serangan teroris yang dilakukan warga negaranya itu berdampak pada seluruh masyarakat dunia. Presiden Joko Widodo juga mengutuk keras serangan teror Selandia Baru. Presiden Amerika Donald Trump juga mengutuk dan menyampaikan simpati.

Dewan Keamanan PBB mengutuknya sebagai tindakan keji dan pengecut serta menegaskan bahwa terorisme dengan berbagai bentuk merupakan ancaman serius perdamaian dan keamanan internasional. Kedua, pembelajaran untuk bersedia hidup berdampingan dengan damai. Ini bukanlah pernyataan klise namun merupakan pekerjaan besar yang harus terus dilakukan dengan telaten.

Mengajarkan esensi agama yang menebar rahmat bukan kebencian menjadi hal mendesak untuk dilakukan. Demikian pula pembelajaran tentang hakikat dan nilai kemanusiaan. Karena itu, persaudaraan kemanusiaan yang dikampanyekan Al Azhar dan Vatikan beserta para tokoh agama beberapa waktu lalu melalui Deklarasi Dubai menjadi pekerjaan berat bersama yang harus terus dilakukan.

Persaudaraan kemanusiaan harus hadir melengkapi persaudaraan keagamaan dan kebangsaan. Kita bersyukur melihat ekspresi persaudaraan itu bermunculan merespons serangan teror. Di beberapa negara, komunitas Kristen dan Yahudi misalnya, tidak hanya menyampaikan simpati tetapi secara nyata turut menjaga masjid tempat jamaah muslim beribadah.

Ini tentu pemandangan yang sangat mengharukan dan menggembirakan tentang bagaimana kesadaran untuk hidup berdampingan secara damai menjadi kebutuhan bersama. Termasuk dalam kaitan hidup bersama itu, maka diperlukan pembelajaran bahwa teror dengan pembunuhan massal seperti itu tidak datang secara tiba-tiba. Namun ia adalah buah eskalasi dari hal-hal kecil yang kadang diremehkan.

Dalam piramida supremasi kulit putih yang dipublikasikan The Equality Institute misalnya, hal itu dimulai dari pengabaian dan minimalisasi terhadap pihak lain, rasisme terselubung, diskriminasi, ajakan kekerasan, kekerasan, hingga berpuncak pada pembunuhan massal. Oleh karena itu, bibit-bibit ajaran yang keliru dalam menyikapi pluralitas kehidupan harus diwaspadai.

Diperlukan juga penyelesaian hukum tegas bagi kasus terorisme. Penegakan hukum kita harapkan menimbulkan efek jera. Terakhir, kolaborasi dalam perang global terhadap terorisme harus terus dilakukan sembari deteksi dini aparat keamanan terhadap potensi teror terus dikuatkan. Dunia memerangi terorisme dalam berbagai bentuknya sebagai musuh bersama. (40)

Dr Andi Purwono, dosen Hubungan Internasional FISIP, Wakil Rektor III Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar