Mengenal Leluhur Raja-Raja Kerajaan Islam Jawa

Berziarah di Makam Ki Ageng Selo

SM/Zulkifli Z Fahmi
SM/Zulkifli Z Fahmi

BERDIRINYA Kerajaan Mataram Islam tak lepas dari tanah Masjid Jami Ki Ageng Selo. Masjid yang dibangun pada abad ke-16 itu menjadi salah satu tempat ditempanya para penyebar Islam di Tanah Jawa. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Zulkifli Zainudin Fahmi.

Ki Ageng Selo merupakan cucu dari Ki Ageng Getas Pendawa, cucu Ki Ageng Tarub dan Dewi Nawangwulan. Beberapa raja-raja pada masa Mataram Islam merupakan keturanan dari Ki Ageng Tarub.

Sultan Agung, Hamengku Buana, Paku Buana, Mangku Negara, hingga Mangkurat Agung merupakan keturanan dari Ki Ageng Selo. Terutama raja-raja dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Masjid Jami Ki Ageng Selo ini berada di Dusun Kebondalem, Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan.

Sekitar 13 km jarak yang ditempuh dari Alunalun Purwodadi. Di sekitar masjid, terdapat beberapa pondok pesantren, salah satunya Pondok Pesantren Al Hidayah Selo.

Juru Kunci Makam Ki Ageng Selo Abdul Rohim (55) mengatakan dinamakan Masjid Jami Ki Ageng Selo, lantaran dulunya merupakan tempat belajarnya ilmu para pengikut Ki Ageng Selo dan anakanaknya.

Ada tujuh ujuh nasehat atau pepali itu selalu diingat dan diajarkan warga serta santrisantri pondok pesantren di sekitar kompleks masjid dan makam Ki Ageng Selo juga warga Grobogan.

Isi nasehat itu, jangan angkuh, jangan bengis dan jahil, jangan serakah, jangan panjang tangan, jangan mengejar pujian, jangan kasar karena orang kasar cepat mati, jangan cenderung ke kiri atau melawan aturan. Nasehat itu selalu diingat dan diajarkan turun temurun.

Tak sekadar nasehat, namun pepali itu sudah menjadi tuntunan hidup untuk bermasyarakat dan tak pernah diingkari bagi pengikut Ki Ageng Selo dan warga sekitar sini,” katanya.

Rohim menjelaskan Masjid Jami Ki Ageng Selo pernah luluh lantak digempur Belanda sekitar abad 17. Pada masa itu, para pengikut dan tokoh agama di Desa Selo, tetap menjalankan kegiatan keagamaan.

Meskipun itu dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Masjid Jami Ki Ageng Selo kembali dibangun setelah Paku Buana I perintah pembangunan itu. Namun, persoalan tak berhenti di sana. Pemerintah Belanda, kembali datang untuk menguasai tanah di wilayah Desa Selo.

Kemudian muncullah Perjanjian Giyanti sebagai upaya untuk menjaga kompleks Makam dan Masjid Jami Ki Ageng Selo. ”Akhirnya masjid ini masih berdiri hingga kini. Pengembangan masjid ini terus maju pesat sejak masa Paku Buana X,” jelas Abdul Rohim. (53)


Berita Terkait
Loading...
Komentar