Ki Ageng Selo, Cucu Kiageng Getas Pendawa

SM/Zulkifli Z Fahmi  -  BERZIARAH KUBUR : Sejumlah Anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Grobogan saat berziarah kubuh di Makam Ki Ageng Selo dalam rangka Hari Jadi Ke 293 Kabupaten Grobogan.
SM/Zulkifli Z Fahmi - BERZIARAH KUBUR : Sejumlah Anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Grobogan saat berziarah kubuh di Makam Ki Ageng Selo dalam rangka Hari Jadi Ke 293 Kabupaten Grobogan.

SETELAH Ki Ageng Selo wafat, Kiai Ageng Pemanahan berhijrah ke selatan, sekarang dikenal daerah Yogyakarta. Cucu dari Ki Ageng Selo dari anaknya yang bernama Kiai Ageng Henis berhijrah untuk menyebarkan agama Islam dan pepali dari kakeknya.

Usai mendirikan kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta, beberapa kerabat Kiai Ageng Pemanahan dari keturunan Ki Ageng Selo kemudian ikut berhijrah ke sana.

Namun, tak semuanya sanggup menyelesaikan perjalanan ke tempat Kiai Ageng Pemanahan. Beberapa bersinggah di daerah Kabupaten Klaten dan kemudian membangun wilayah di sana.

Menurut Abdul Rohim, di Desa Selo, sudah tak ada lagi trah keturunan dari Ki Ageng Selo. Semuanya, sudah berpindah pada masa boyongan Kiai Ageng Pemanahan tersebut. Ki Ageng Selo merupakan cucu dari Ki Ageng Getas Pendawa, cucu Ki Ageng Tarub dan Dewi Nawangwulan.

Beberapa raja-raja pada masa Mataram Islam merupakan keturanan dari Ki Ageng Tarub. Sultan Agung, Hamengku Buana, Paku Buana, Mangku Negara, hingga Mangkurat Agung merupakan keturanan dari Ki Ageng Selo.

Terutama raja-raja dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Di dalam kompleks makam, terdapat beberapa foto tokoh-tokoh penyebar agama Islam yang merupakan generasi dan keluarga Ki Ageng Selo. Beberapa nama itu, ada KH Ahmad Dahlan, Pangeran Diponegoro, dan Ki Hajar Dewantoro.

Bahkan istri Presiden Soeharto, Siti Hartinah atau Tien Soeharto juga tercatat sebagai keturunan Ki Ageng Selo. Sekitar 1972 lalu, Presiden Soeharto dan Tien Soeharto pernah secara tiba-tiba datang untuk berziarah di Makam Ki Ageng Selo.

Saat itu tidak ada protokoler dan pengawalan yang sangat ketat. Beberapa warga sekitar pun terkejut mengetahui kedatangan mendadak dari Presiden Soeharto tersebut.

”Sebelum momen Hari Jadi Grobogan menjadi agenda pemerintahan, beberapa bupati juga berziarah tanpa susunan acara atau protokoler yang ketat. Bahkan, beberapa warga juga ikut berziarah seperti biasanya waktu itu,” kata Abdul Rohim. (53)


Berita Terkait
Loading...
Komentar