Menziarahi Makam Syekh Jumadil Kubro

Melacak Jejak Dakwah Bapak Para Wali

SM/Eko Edi Nuryanto - Makam Syekh Jumadil Kubro
SM/Eko Edi Nuryanto - Makam Syekh Jumadil Kubro

Sampai akhir dekade 1990-an, tak banyak khalayak ramai yang mengunjungi makam Syekh Jumadil Kubro yang berada di jalan arteri Yos Sudarso No 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk Kota Semarang, tepatnya dekat ujung exit tol Gayamsari-Kaligawe, Kota Semarang. Berikut Laporan wartawan Suara Merdeka Eko Edi Nuryanto

SITUS bersejarah itu, masih menjadi perziarahan masyarakat sekitarnya. Padahal tokoh ini merupakan sosok penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Sebelum jalan arteri Yos Sudarso di bangun, makam yang diyakini masyarakat setempat sebagai peristirahatan terakhir Waliyullah Syekh Maulana Jumadil Kubro itu, berada di tengah pertambakan. Menurut cerita Ketua Yayasan Syekh Jumadil Kubro, Nur Ihsan, situs tersebut ditemukan oleh Mbah Muzakir.

Memang tak ada anasir sejarah yang pasti. Tetapi dari pandangan metafisisnya, tokoh sesepuh di kawasan Terboyo itu meyakininya sebagai makam penyiar agama Islam sebelum Walisongo. ”Dari cerita turun temurun, saat kawasan Terboyo dilanda banjir besar tahun 1970- an, semua kawasan terendam banjir.

Hanya makam ini yang tak terendam, bahkan seperti terangkat dan mengapung di atas air. Dari situlah warga semakin yakin bahwa itu bukan makam orang sembarangan,” cerita dia. Setelah jalan arteri dibuka, keberadaan makam yang menjadi persis berada ditepi jalan besar itu, semakin diketahui publik. Makam pun dipugar.

Pemugaran diresmikan Wali Kota Soetrisno Soeharto pada 26 Februari 1998. Selanjutnya, mushala kecil yang berada di sisi makam pun dipugar, dan dijadikan sebagai Masjid Syekh Jumadil Kubro. Pembangunan masjid dimulai saat kepemimpinan Wali Kota Soekawi Sutarip, dan diresmikan oleh Wali Kota Hendrar Prihadi 22 Agustus 2014.

Saat ini makam Syekh Jumadil Kubro ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Tiap Sabtu-Minggu tak kurang 50 bus rombongan datang berziarah. ”Sekarang kalau mau ziarah ke Demak, atau Kudus, biasanya mampir dulu ke sini. Karena tahu bahwa Syekh Jumadil Kubro lebih senior dari Walisongo,”ungkap Nur Ihsan.

Tokoh Kunci

Siapa Syekh Jumadil Kubro itu? Ia merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum Walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syekh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Cucu ke-18 Dia adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAWdari garis Sayyidah Fatimah Az Zahrah al- Battul.

Ayahnya bernama Syekh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Champa dengan rakyatnya. Sehingga, Syekh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Champa. Menurut cerita rakyat, sebagian besar Walisongo memiliki hubungan atau berasal dari keturunan Syekh Maulana Akbar ini.

Tiga putranya yang disebutkan meneruskan dakwah di Asia Tenggara; adalah Ibrahim Akbar (atau Ibrahim as- Samarkandi) ayah Sunan Ampel yang berdakwah di Champa dan Gresik, Ali Nuralam Akbar datuk Sunan Gunung Jati yang berdakwah di Pasai, dan Zainal Alam Barakat.

Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, dia mengembara ke negeri datuknya di Hadramaut. Di sana dia belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya.

Bahkan keilmuan yang dia pelajari meliputi Ilmu Syariah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain. Selanjutnya, ia meneruskan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif.

Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian dia pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah dia berjumpa dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa. Kemudian ia dakwah bersama para ulama termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa.

Mereka menggunakan tiga kapal, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syekh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit.

Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang hendak mendalami ilmu keislaman. Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Jaífar Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni MalikIbrahim menuju kota Gresik.

Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al- Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. Namanya masyhur dengan sebutan ”Pandhito Ratu” karena dia memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, dia diberi kelebihan memahaminya).

Perjalanan dakwah Syekh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Dia wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk).

Bermula dari usul yang diajukan Syekh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit. Pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci.

Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Islam melawan penguasa Majapahit sangatlah besar. Karena pengaruh Syekh Jumadil Kubro, ia dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan dia amat disegani.

Tak heran, bila pemakaman dia berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya.(53)


Berita Terkait
Loading...
Komentar