Lalapan Trancam Simbol Kesederhanaan dan Menyehatkan

Satu Jam di Dapur Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Hj Hindun

SM/Agus Setiawan : MENGULEK REMPAH : Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Hj Hindun mengulek bumbu rempah makanan lalapan trancam timun.
SM/Agus Setiawan : MENGULEK REMPAH : Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Hj Hindun mengulek bumbu rempah makanan lalapan trancam timun.

Memasak. Bergelut dengan asap dapur, memegang peralatan alat masak serta mengolah bumbu rempah-rempah untuk dijadikan masakan yang siap disantap sudah menjadi pekerjaan sehari-hari dari Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, Hj Hindun. Hal itu dilakukan sejak remaja, ketika mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren di Lebaksiu, Tegal.

Sebagai politisi perempuan yang menjadi orang nomor satu di lingkungan DPRD Kabupaten Pekalongan tidak meninggalkan kodratnya sebagai perempuan dan istri serta ibu. Setiap hari pasti meyiapkan sarapan.

SM/Agus Setiawan : SIAP DISANTAP: Lalapan trancam timun dengan lauk pendamping pindang goreng dan tempe goreng siap disantap.

Makanan yang disiapkan pun bukan dari membeli di warung atau pesan melalui aplikasi ponsel pintar yang sekarang lagi trend. Ketua DPC Perempuan Bangsa Kabupaten Pekalongan yakni sebuah organisasi sayap dari PKB itu senantiasa menyempatkan diri untuk memasak serta makan pagi bersama dengan keluarga. Tradisi sarapan atau makan pagi bersama menjadi penting sebagai sarana kumpul dan berkomunikasi antaranggota keluarga. Sehubungan dengan masakan. Ada satu jenis makanan yang paling disukai oleh mantan aktivis perempuan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini.

Makanan itu adalah trancam. Kenapa trancam dan pindang atau ikan asin. Sebab jenis makanan tersebut merupakan simbol kesederhanaan dan menyehatkan. ”Dari dulu memang saya suka trancam dan pindang. Lalapan Trancam merupakan hasil budaya dalam hal makanan dari nenek moyang yang secara turun temurun dihidangkan untuk menggugah selera makan. Trancam yang dimasak kali ini adalah tracam timun, adapun lauk favorit saya adalah Pindang atau ikan asin.

Lalapan Trancam juga cocok disajikan dengan lauk lainnya seperti ayam goreng, tempe dan tahu gorang,” kata dia.

Mengapa dua jenis makanan itu disukainya. Sebab pindang atau ikan asin mudah didapat, di warung di kampungkampung juga banyak dijual. Menurutnya, gerakan kampanye gemar makan ikan, semestinya ikan tersebut adalah pindang, kalau ikan tawar seperti guramai, dan lainnya harga mahal.

Kaya Vitamin

Kemudian untuk membuat trancam juga bukan pekerjaan yang sulit. Bahan-bahannya seperti kelapa, garam dan timun mudah diperoleh di warung. Cara membuatnya timun dipotong kecil-kecil, kelapa diparut, dikasih sedikit garam, terasi, cabai merah dan hijau, kemudian bahan-bahan tersebut dicampur, selanjutnya diulek dicobek air. Rempah dan bumbu hasil ulekan tersebut dicampur. Sudah makanan lalapan siap disajikan dan disantap. Lalapan ini bisa disajikan bersama ayam goreng, tempe dan tahu goreng. Namun paling sedap, lanjut dia, disajikan dengan ikan asin atau pindang. ”Ikan asin kaya dengan vitamin A, omega-3 dan protein. Rasanya pun tak terlalu asin. Timun banyak sumber menyebutkan baik untuk kesehatan tubuh,” ujarnya.

Namun demikian, pihaknya menyayangkan anak-anak zaman sekarang tidak akrab dengan makanan lalapan trancam. Padahal, di berbagai restoran besar saat ini mulai menyediakan makanan tradisi atau kampung ini. ”Setiap saya menuju ke Semarang, kalau waktunya sempat pasti saya sempatkan mampir ke sebuah restoran di daerah Kendal yang menyediakan trancam,” ucapnya.

Ketika Suara Merdeka menyambangi kediamannya, Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan itu sedang sibuk di dapur mempersiapkan masakan lalapan trancam, pindang dan ayam goreng. Usai masakan siap saji.

Makanan yang menurut mantan Ketua Fatayat NU Kabupaten Pekalongan itu memiliki filosofi simbol kesederhanaan dan menyehatkan tersebut langsung disajikan untuk santap petang bersama dengan sang suami, yaki H Imron yang mejabat sebagai Wakil Ketua di kepengurusan PC NU Kabupaten Pekalongan. Satu jam bersama Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan Hj Hindun di dapur dan meja makan. Keharmonisan dan romantisme tampak mewujud dengan melestarikan menyiapkan makanan untuk makan bersama dengan anggota keluarga. Setiap pagi, kata dia, hukumnya wajib sarapan bersama dengan keluarga. ”Kalau sekarang anak-anak sedang belajar di luar kota. Jadi nyaris setiap pagi saya bersama suami yang makan bersama,” kata dia.(Agus Setiawan-53)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar