Inspirator

Wujudkan Mimpi Sentra Kerajinan Logam

SM/Hasan Hamid : Ershad Salam : Bersama Bupati Demak Muhammad Natsir
SM/Hasan Hamid : Ershad Salam : Bersama Bupati Demak Muhammad Natsir

KEPUTUSANNYA berhenti sebagai pilot maskapai penerbangan swasta dan BUMN ternyata bukan pilihan yang salah bagi Ershad Salam (34), warga Desa Mijen, RT1 RW 4 Kecamatan Kebonagung, Demak.

Pria kelahiran Kota Semarang pada 1985 tersebut kini telah berhasil mengangkat nama desa tempat tinggalnya yakni Desa Mijen, menjadi sentra industri logam bernilai tinggi yang produknya diminati sejumlah negara. Melalui rumah produksi Zem Silver karya seni logam buatannya berhasil memikat lembaga negara mulai dari pemerintah daerah, DPR RI, hingga Istana Kepresiden.

Bahkan 2017 lalu, perhiasan kreasinya dipakai pada ajang Miss Universe. Suami Nila Citra Prabastari yang dikaruniai dua anak tersebut mengaku tertarik untuk berwiraswasta karena ingin membantu mengembangkan perekonomian masyarakat.

Menurut penuturannya, seseorang akan lebih bermakna dan bermanfaat jika dapat membantu lingkungan sekitar serta mengangkat daerah tempat tinggalnya menjadi kawasan perekonomian berbasis masyarakat. Untuk itu, saat masih berprofesi sebagai pilot, ia berupaya mencari ide usaha yang dapat dikembangkan bersama warga. Pandangannya tertuju pada kerajinan batik dan logam. "Hampir semua tempat yang saya singgahi selalu ada dua produk tersebut," katanya.

Hanya saja setelah melakukan kunjungannya ke daerah sentra batik di Nusantara, semangatnya justru mengendor. Hal itu karena menyadari hampir semua daerah memiliki produk batik. Dalam benaknya, jika ia ikut mengembangkan usaha tersebut akan sulit berkembang lantaran ketatnya persaingan pasar.

Pilihannya kemudian jatuh pada logam. "Sebab klaster kerajinan logam dan perhiasan kuningan jumlahnya belum banyak, hanya ada di beberapa daerah. Itupun terkendala sumber daya manusia," ungkap alumnus Kingston University bergelar PhD ini.

Tidak Mudah

Merintis usaha kerajinan logam ternyata tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Apalagi ia tidak memiliki pengetahuan khusus pada kerajinan tersebut. Demikian pula masyarakat sekitar yang juga tidak pernah tergambar akan menggeluti perlogaman. Namun keinginan yang kuat dan kemauan yang tak mudah patah menjadikannya terus melangkah.

Dia pun memutuskan untuk mencari cara termudah dan tercepat agar bisa menggeluti usaha itu. Langkah yang diambil adalah dengan mendatangkan tenaga kerja terampil dari sentra logam di Yogyakarta dan Boyolali. "Mereka kami datangkan untuk melatih warga hingga benar-benar bisa menghasilkan karya," bebernya.

Gayung bersambut, semangat warga untuk berlatih membuat mimpimimpinya cepat terealisasi. Dari semula hanya 4 orang, kini lebih dari 40 warga memiliki rumah produksi yang menghasilkan kerajinan berbahan baku logam dan kuningan. Respons positif pasar menguatkan pertumbuhan UMKM logam. Terlebih untuk mendapatkan bahan baku tidak terlalu sulit. Salah satu bahan baku yang dipakai adalah limbah elektronik, termasuk tembaga pada kabel. Meski kini telah banyak perajin tersebut di desanya, namun tak pernah terbesit dalam benaknya merasa ada pesaing. Justru ia mengaku senang dan ikut berbangga. Bahkan dalam berbagai kesempatan pameran, dia membawa hasil produk warga untuk ikut dipromosikan. (Hasan Hamid-56)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar