Peraih Penghargaan Kepala Desa Inovatif Nasional

Majukan Pertanian dengan Budi Daya Burung Hantu

SM/Hasan Hamid : BERSAMA BURUNG HANTU : Kepala Desa Tlogoweru Soetedjo bersama burung hantu yang sudah jinak di dekat rumahnya. (55)
SM/Hasan Hamid : BERSAMA BURUNG HANTU : Kepala Desa Tlogoweru Soetedjo bersama burung hantu yang sudah jinak di dekat rumahnya. (55)

TAK pernah terbesit dalam benak Soetedjo (59) bahwa Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur yang dia pimpin akan menjadi desa eduwisata. Apalagi desanya dijadikan jujukan para peneliti untuk belajar dan melakukan riset.

Alumnus Universitas Sultan Fatah (Unisfat) Demak yang pernah mengenyam pendidikan 4 tahun di UKSWSalatiga tersebut mengaku tidak pernah memimpikan desa berpenduduk 6.000 jiwa tersebut jadi magnet kunjungan wisatawan.

Menurutnya, impian seperti itu terasa teramat mustahil. Pasalnya, desa tempat kelahirannya itu sejak dulu tergolong daerah miskin. Selain pendapatan perekonomian masyarakatnya rendah, infrastruktur jalan dan fasilitas umum tak mendukung. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana cara mengatasi ancaman gagal panen dan potensi kerugian besar yang selalu mengancam sektor pertanian. Hambatan paling berat yang dihadapi petani di Tlogoweru adalah hama tikus. Hewan yang perkebangbiakannya sangat cepat tersebut menjadi musuh utama. Meski berulang kali dilakukan upaya pembasmian, baik dengan pengobatan dan gropyokan, tak juga memberi efek berarti. “Saya selalu mendapat keluhan dari warga, karena panen merugi. Semua tanaman, padi, jagung, kacang-kacangan dan ketela selalu merugi karena dirusak tikus,” katanya.

Untuk mengatasi persoalan itu, berbagai pertemuan yang melibatkan petani, pegawai dari dinas, dan instansi terkait digelar. Akan tetapi semua langkah tak memberi hasil optimal. Tak sedikit warga yang putus atas melawan keganasan tikus, sehingga membiarkan sawah tanpa ditanam. “Kondisi seperti itu seperti menjadi tantangan bagi pemerintah desa. Saya pun beberapa hari berpikir mencari solusi pemecahan,” ungkap bapak tiga anak ini.

Dalam hati kecilnya mengatakan, tidak ada kesulitan yang tak bisa diatasi. Sebab, Tuhan menciptakan persoalan sekaligus solusi. Untuk itu jika masalah yang muncul terkait dengan sesuatu yang alamiah, maka penyelesaiannya pun bisa dengan cara alamiah. Dia kemudian mencari hewan predator yang bisa menekan populasi tikus. Mula-mula menggunakan kucing yang ia datangkan dari beberapa teman. Ternyata, kucing tak bisa memburu tikus dalam jumlah banyak.

Pilihan berikutnya adalah burung hantu atau tyto alba. Pada mulanya ide mendatangkan burung tersebut kurang mendapat respons warga. Mereka berpikir sulit melakukan karena burung tersebut bisa terbang ke mana saja bahkan pindah daerah. “Tetapi saya yakinkan di hadapan para petani, bahwa burung hantu tidak akan pergi jauh jika dibuatkan tempat dan keberadaanya tidak terusik. Sebab, tikus yang menjadi makanan utama tyto alba di sini jumlahnya banyak,” katanya.

Dia kemudian membuatkan 4 rumah burung hantu yang ditempatkan tengah sawah. Rumah berupa bangunan kotak dari kayu di atas tiang penyangga. Pada minggu pertama ternyata telah menunjukkan hasilnya. Banyak tikus yang ditemukan mati di tengah sawah dengan luka di bagian kepala. Juga terdapat sisa tikus di sangkar burung hantu. Warga pun menyaksikan sendiri saat malam, burungburung itu melakukan perburuan terhadap tikus yang keluar dari sarangnya. Dari situlah kemudian para petani mendukung agar dilakukan pembudidayaan burung hantu. Mereka menyambut gembira dengan ikut membuat sangkar atau rumah burung hantu di sawahnya masing-masing. Sekarang ini tidak kurang dari 200 rumah burung hantu dibuat oleh warga.

Bahkan, pemerintah desa memfasilitasi dengan membangun penangkaran burung hantu. Seiring bersamaan, para petani tak lagi merugi karena hasil panenanya berlimpah. Perekonomian masyarakat bergeser menjadi lebih baik.

Keberhasilan itu membuat desa yang dulu miskin mengalami perubahan signifikan. Deretan rumah burung hantu di sawah seluas 229 hektare menjadi pemandangan menarik. Belum lagi saat sore tiba, burungburung itu beterbangan melakukan perburuan. Jerih payah Kepala Desa Tlogoweru Soetedjo mampu membuat banyak warga daerah lain tertarik untuk datang dan melihat secara langsung keberhasilan desanya. Di samping itu mereka juga datang untuk belajar dan melakukan riset. Mereka bukan hanya perwakilan lembaga pemerintahan, kelompok masyarakat dan pelajar, tetapi juga wisatawan dari manca negara. Di desa tersebut sedikitnya terdapat sekitar 800 ekor burung hantu yang hidup di alam bebas.

Untuk mendukung kelangsungan burung itu, pemerintah desa bersama warga membuat aturan yang melindungi keberadaan. Yaitu Peraturan Desa (Perdes) nomor 04 Tahun 2011 tentang Burung Hantu (Tyto Alba). Dalam perdes tersebut disebutkan semua warga dilarang membunuh burung hantu dan dianjurkan menciptakan lingkungan yang nyaman untuk pengembangbiakannya. Kedatangan para wisatawan selalu disambut warga dengan tangan terbuka penuh keakraban. Warga juga menyediakan rumah mereka menjadi tempat penginapan bagi wisatawan.

Atas hasil itu Soetedjo dinobatkan sebagai kepala desa inovatif tingkat nasional. Dia pun harus meluangkan waktunya untuk menjadi narasumber dalam berbagai pertemuan yang digelar kementerian pertanian dan kementerian pariwisata. (Hasan Hamid-40)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar