Fenomena Geng 69 di Semarang

Hilangnya Empati dan Pengaruh Game

SM/Erry Budi Prasetyo : MINTA MAAF : Anggota Gengster 69 meminta maaf kepada orang tua mereka seusai gelar perkara di Mapolsek Tembalang, Semarang, baru-baru ini. (55)
SM/Erry Budi Prasetyo : MINTA MAAF : Anggota Gengster 69 meminta maaf kepada orang tua mereka seusai gelar perkara di Mapolsek Tembalang, Semarang, baru-baru ini. (55)

Tindak tanduk sekelompok remaja yang disebut Geng 69 sangat meresahkan warga Kota Semarang. Mereka dianggap sering membuat onar dengan membawa senjata tajam, sangat mengganggu ketertiban masyarakat.

TIDAK jarang, geng itu nekat melukai orang yang melintas di hadapannya. Padahal, tidak ada masalah sebelumnya dan korban tidak tahu apa-apa. Psikolog pendidikan dan anak, Dinar Wukitsari SPsi MPSi merasa prihatin dengan kejadian yang sempat menghebohkan Kota Semarang tersebut. Menurut dia, ada banyak faktor yang membuat remaja nekat melakukan perbuatan itu.

Beberapa hal bisa mempengaruhinya, seperti rasa ingin tahu remaja yang sulit dibendung, keinginan menunjukkan diri mereka sebagai seorang remaja keren dan pemberani. Kemudian, kurangnya pengawasan dari orang tua atau orang terdekatnya, dan yang paling berpengaruh adalah banyaknya contoh yang ada di sekitar mereka, yakni berita, tontonan, game yang mengangkat kekerasan, kekuasaan, dan kenakalan.

“Ya, kalau diketahui banyak sekali dampak yang bisa kita lihat dari game online yang mempertontonkan pertarungan dan kekerasan. Para gamers lebih banyak menghabiskan waktunya di depan gadget, yakni ponsel, komputer, dan laptop, sehingga ada kecenderungan tidak lagi mampu melihat secara realistis tentang kehidupan yang sebenarnya,” ungkap Dinar, lulusan Magister Psikolog Profesi Bidang Pendidikan dari UGM Yogyakarta kepada Suara Merdeka, Minggu (17/2).

Anak-anak remaja itu juga mulai minim interaksi dengan orang lain, sehingga rasa empatinya terhadap seseorang pun semakin memudar. Saat ini yang ada dipikiran mereka hanya menunjukkan sisi keren dan berani dalam hal apa pun.

Pengaruh ‘’Viral’’

Kondisi demikian juga dipengaruhi oleh istilah viral saat ini. Remaja sering kali mengikuti semua hal yang bisa dan sudah dianggap viral oleh masyarakat. Konsep benar dan salah, pantas dan tidak pantas sudah mulai memudar. Kalau sudah seperti ini, semua pihak harus bisa memperbaiki situasi.

Semua pihak yaitu orangtua, masyarakat, pemerintah, para pemerhati lingkungan, maupun praktisi. Kita harus mulai memunculkan kembali dan meningkatkan rasa empati anak maupun remaja terhadap orang lain. Selain itu perlu pula dilakukan pendampingan untuk membawa mereka jadi sosok yang lebih baik, beretika, dan mampu saling mendukung untuk suatu kebaikan.

Dia menegaskan, tidak ada salahnya mereka yang melakukan kekerasan itu diberi hukuman untuk memberi efek jera. “Secara psikologis, melakukan suatu kesalahan dan tidak ada hukuman sama sekali, maka tida pernah ada efek jeranya. Pemahaman mereka, toh saya melakukan itu kemarin tidak ada hukuman, jadi bisa melakukan lagi tapi harus lebih berhati-hati supaya tidak tertangkap seperti kemarin,” tandas Anita yang juga psikolog di Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) Semarang itu.

Pemahaman itu membahayakan, karenanya pihak kepolisian yang lebih paham supaya bisa memberi hukuman tepat bagi mereka yang melakukan kekerasan. Adapun, pihak sekolah maupun keluarga juga perlu memberi pendampingan lebih ketat, seperti dalam hal pendekatan keagamaan, psikologis, dan hukum. “Dalam ilmu psikologi, kondisi remaja tersebut dinamakan kenakalan remaja atau sering disebut juvenile delinquency. Suatu tindakan seseorang yang belum dewasa dengan sengaja melanggar hukum dan sebetulnya dia tahu apabila perbuatannya diketahui petugas hukum, maka mereka bisa dikenai hukuman,” tandasnya.

Menurut dia, karakteristik yang sering muncul pada remaja delikuen adalah lebih cenderung otoritas, punya kepercayaan diri yang cukup tinggi, pemberontak, kontrol dirinya kurang, tidak punya orientasi pada masa depan, kematangan sosial kurang, sehingga sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Pengacara pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron Semarang Edo Bagus Artandy SH mengemukakan, hal sama.

Bahwa, remaja anggota Geng 69 yang melakukan tindak kekerasan perlu dihukum. Dia menilai perlu diluruskan adanya anggapan bahwa anak di bawah umur adalah kebal hukum, sehingga bebas melakukan tindak pidana. Anggapan tersebut adalah keliru, dan mendorong anakanak tersebut melakukan tindakan-tindakan yang melawan hukum. “Anak harus diajarkan mengenai tertib hukum, walaupun proses hukum terhadap anak berbeda dengan proses hukum terhadap orang dewasa, harus sesuai dengan UU Sistem Peradilan Pidana Anak,” ungkapnya.

Pihaknya menghimbau para orangtua agar memperhatikan pergaulan anakanaknya, karena pergaulan buruk akan merusak kebiasaan yang baik. Mawar Saron, LBH milik pengacara ternama Hotma Sitompoel itu kini mendampingi warga Jalan Tikung Baru, Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, Bagus Aditya alias Ucil (22), tersangka kasus penganiayaan yang mengakibatkan seseorang meninggal. Kini, Bagus ditahan di Polsek Semarang Utara.

Menurut Edo, kliennya itu sebetulnya korban dari Geng 69 yang menyerang kampung Bagus, tepatnya pada Sabtu, 29 Desember 2018 sekitar jam 02.00. Ketika itu, anggota Geng 69 dengan membawa senjata tajam datang beramai-ramai ke kampung, sehingga membuat anak-anak yang berkumpul panik. Mereka pun memanggil bantuan warga kampung. Sial bagi BAyang saat itu tertidur, tiba-tiba terbangun setelah mendengar ribut-ribut di kampungnya diserang. “Spontan, BAkeluar sambil membawa sebilah celurit dengan maksud mengusir Geng 69. Namun naas, di tengah suasana kalut, BAspontan menyabetkan celurit ke salah satu anggota Geng 69 hingga mengakibatkan kematian,” jelasnya.

Niat untuk menjaga keamanan kampung dari serbuan geng berubah menjadi malapetaka bagi kliennya yang kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Tidak ada sama sekali niatan menghilangkan nyawa korban. Tindakan kliennya adalah akibat provokasi Geng 69. (Royce Wijaya SP-23)


Berita Terkait
Komentar