Wicaksono Wisnu Legowo

Moncer berkat ”Turah”

SM/Wawan Hudiyanto
SM/Wawan Hudiyanto

SEKILAS tampilan seniman muda asli Tegal ini biasa-biasa saja. Hidupnya sederhana dan bergaul dengan siapa saja. Namun, siapa yang menyangka Wicaksono Wisnu Legowo, mendadak terkenal di jagat perfilman Indonesia.

Melalui kerja kerasnya dalam menekuni dunia perfilman, putra pertama dari seniman Yono Daryono - Yulita Akilah warga Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal ini moncer berkat film Turah.

Film lokal berdialek tegal itu bahkan terpilih untuk mewakili Indonesia dalam ajang Academy Awards 2018 (Oscar) kategori film berbahasa asing terbaik, meski gagal masuk nomine.

Sebelumnya, sederet penghargaan di tingkat nasional maupun internasional berhasil diraih, seperti Special Mention Silver Screen Award pada Singapore International Film Festival (Desember 2016), penghargaan Geber Award dan NETPAC Award pada perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival, dan menjadi nomine aktor terbaik pada perhelatan ASEAN International Film Festival and Award di Malaysia. Selama ini, berbagai upaya dilakukan oleh Wisnu untuk bisa mewujudkan cita-citanya menjadi sineas handal.

Bahkan, dia yang sebelumnya kuliah di Universitas Islam Bandung (UNISBA) Fakultas Ekonomi, Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP), pada 2003 memutuskan untuk pindah ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Fakultas Film dan Televisi, Jurusan Film.

Selain itu, dia juga ngangsu kawruh ke sejumlah sutradara terkenal dengan seringkali terlibat langsung dalam proses pembuatan film.

Pemuda kelahiran Tegal, 26 Desember 1983 itu digadanggadang oleh kedua orang tuanya agar bisa mengikuti jejak Imam Tantowi dan Chaerul Umam yang juga berasal dari Tegal. “Saya tidak pernah menyangka film Turah bisa terpilih mewakili Indonesia dalam seleksi Academy Awards 2018,” katanya.

Wisnu mengawali kiprahnya sebagai asisten sutradara dalam film 3 Doa 3 Cinta (2008), Sang Penari (2011), Rumah dan Musim Hujan (2012), dan menjadi salah satu pemeran dalam film berjudul Pantja-Sila : Cita-Cita dan Realita bagian satu dan dua (2013).

Sejumlah film hasil karyanya juga pernah masuk nominasi sebagai film pendek terbaik Festival Film Indonesia (FFI), yakni Tobong pada 2006, serta Ibu dan Anak-anakku pada 2008. Bahkan, Tobong mendapat penghargaan spesial dari Juri FFI 2006.

Menurut dia, secara komersial, animo penonton terhadap Turah terbilang rendah karena hanya mendapat total 16 layar untuk seluruh Indonesia.

Umur pemutarannya di jaringan bioskop Tanah Air pun juga pendek hanya sekitar dua pekan. Namun, diluar dugaan Turah mendapat tempat di sejumlah festival film, salah satunya Singapore International Film Festival. “Makin ke sini makin banyak apresiasi.

Yang tadinya Turah bertemu penonton di ruang festival, ternyata bisa masuk di ruang yang lebih besar lagi, bertemu penonton baru, seru sih. Aku jadi kayak enggak ngerti cara ngadepin-nya. Karena awalnya dulu yang penting filmnya jadi,” paparnya.

Biaya Produksi

Untuk biaya produksi yang dikeluarkan dalam membuat Turah hingga bisa tayang di bioskop tergolong sangat murah, yaitu hanya sekitar Rp 500 juta.

Ia tercetus membuat film tersebut ketika pada 2014 mendapat motivasi dari sutradara kawakan, Ifa Isfansyah, untuk membuat film. Ifa akhirnya menjadi produser film pertamanya itu.

“Terus aku bikin cerita dan naskah. Tapi belum shooting. Terus 2016 bikin skenario lagi dan dua jam kemudian Mas Ifa langsung mau bikin film ini.

Dulu script itu terserah aku, diberi kuasa penuh dan dia nekanin budget. Terus Mas Ifa yang mengarahkan atau distribusi film ini akan di bawa ke mana,” kata Wisnu.

Menurut dia, proses pengambilan film berdurasi 83 menit ini dilakukan selama 9 hari di Kampung Tirang, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal.

Dia memilih tempat tersebut karena merasa perlu mengangkat kehidupan warga di kampung itu sebagai salah satu potret kesenjangan sosial sebenarnya. Kampung Tirang merupakan sebuah kampung yang berdiri di tanah timbul pesisir pantai yang miskin dan tertinggal.

Meski jaraknya cukup dekat dengan pusat Kota Tegal, Kampung Tirang bisa dibilang tak tersentuh listrik. Bahkan, hingga sekarang warga kerap sekali kesulitan air bersih. Dari proses penggarapan termasuk pemilihan para pemain terbilang memiliki latar yang tak biasa.

Para pemain seluruhnya orang Tegal dan tidak ada artis maupun aktor bintang terkenal. Antara lain, Slamet Ambari (Jadag), Yono Daryono (Darso), Rudi Iteng (Pakel), Ubaidillah (Turah) serta Narti Diono (Kanti).

Wisnu mengemukakan, sejak era Laskar Pelangi yang membukukan lebih dari empat juta penonton, industri perfilman Tanah Air terus mengalami penurunan.

Kondisi demikian terjadi salah satunya dipengaruhi adanya invasi film-film Hollywood yang semakin gencar. Persoalan tersebut menjadi PR yang harus diselesaikan oleh para pekerja film dan pihak-pihak yang terkait dengan industri kreatif. (Wawan Hudiyanto-56)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar