Musik Pop yang Tidak Ngepop

SM/dok  -  grup band Sore
SM/dok - grup band Sore

Apabila Anda ingin memiliki pilihan alternatif dalam mendengarkan musik pop atau rock, pilihan bisa jatuh pada indie rock dan indie pop.

Musik indie pop yang lahir di Inggris Raya dan juga Amerika Serikat pada pertengahan 1980, di mana lahirnya musik tersebut dan dianggap sebagai sebuah genre (musik), berakar dari band-band post-punk di sana pada awal tahun 1980-an, dan band independen asal Inggris yang sangat dominan pada era itu, yakni The Smiths.

Sebenarnya sebutan ‘indie pop’ awalnya merujuk pada label rekaman independen yang menaungi band-band atau musisi, sebut saja, independen dan tidak ‘mainstream’.

Baik label maupun genre musiknya, embel-embel ‘indie pop’memang menjadi alternatif untuk mendengarkan musik pop yang tidak ngepop. Tidak populer atau tidak mudah diterima kuping. Namun saya lebih senang menyebutnya sebagai musik pop yang memiliki banyak pilihan warna. Mulai dari sentuhan synthesizer, swing, folk, funk, dan elektronik.

Di Indonesia sendiri, salah satu pencetus genre indie pop adalah kemunculan grup band Mocca (Bandung) pada 1997. Lagu “Secret Admirer” (2002) menjadi lagu mereka yang amat populer pada waktu itu, dan seperti menjadi pencetus bandband indie pop lainnya naik ke permukaan.

Meskipun jauh sebelum itu pun sebenarnya sudah banyak bandband beraliran indie pop, namun kurang terekspos. Hal lain yang juga sebagai pendongkrak popularitas band-band indie pop ataupun indie rock di Indonesia adalah kemunculan film Janji Joni (2005) yang diperankan Nicholas Saputra.

Di mana lagu-lagu soundtrack film tersebut dihiasi band-band independen dan sebelum kemunculan film tersebut beberapa band yang mengisi soundtrack sudah lebih dulu eksis. Sebut saja White Shoes and the Couples Company, Sore, Goodnight Electric, The Adams, Sajama Cut, Zeke and the Popo dan beberapa lainnya.

Dan menjadi kegandrungan remaja pada era 2000-an awal untuk mendengarkan band-band yang memberi warna-warni musik pop Tanah Air tersebut. Band-band indie pop tidak hanya memberi warnawarni dari segi musiknya, tapi juga buaian lirik yang indah. Boleh dibilang, lirik yang sastrawi. Bagaimana dengan indie pop era sekarang? Tentunya kian banyak dan memberi warna.

Sebut saja Payung Teduh, Tulus, Silampukau, Dialog Dini Hari, Angsa Serigala, Barasuara, Monita Tahalea, Danilla, dan masih banyak lagi. Memuaskan indera pendengaran yang selalu haus akan musik bagus dengan lirik yang jauh dari kesan cheesy.

Salah satu opini tentang musik indie pop adalah eksklusivitas. Ada kesan bahwa ‘selera musik saya lebih oke daripada Anda’karena playlist di iTunes atau aplikasi mendengarkan musiknya berisi lagu-lagu yang tidak pasaran tersebut.

Bisa jadi juga karena lagu-lagu yang ‘tidak mudah dicerna’tersebut memang kurang cocok dengan sebagian kuping orang Indonesia yang lebih menyukai musik pop yang mudah dicerna, dan memiliki lirik apa adanya; dengan gaya bahasa slang sehari-hari dan kita tidak perlu berpikir njelimet untuk mencernanya karena sudah dilantangkan secara harafiah.

Tanpa makna-makna simbolis apalagi bersemiotika yang memusingkan kepala. Eksklusif ataupun tidak, hadirnya musikus yang mengusung genre ‘tidak pasaran’tersebut cukup memberi buaian segar bagi kupingkuping yang ‘haus’.

Yang kita lakukan hanyalah mengapresiasi dan mendengarkannya, tanpa perlu ribet dengan pencitraan atau karakter diri saya seperti Amaka harus mendengarkan musik yang seperti Ajuga, karena dianggap merepresentasikan karakter kita. Dan mungkin saja kita harus mengubah persepsi bahwa kehadiran musik indie pop bukan lagi sebagai alternatif, atau pilihan bagi kuping-kuping yang eksklusif, namun ia hadir sebagai bagian dari genre pop itu sendiri. (49)