Yang Lama Bukan Berarti Usang

SM/Irma M Manggia - Penampilan band pop-punk S.A.L dalam “Semarang Setelah Senja” di rooftop Impala Space (Spiegel) Semarang, belum lama ini.
SM/Irma M Manggia - Penampilan band pop-punk S.A.L dalam “Semarang Setelah Senja” di rooftop Impala Space (Spiegel) Semarang, belum lama ini.

Acara musik skala kecil atau gig, yang biasanya menyuguhkan jenis musik yang lebih spesifik, atau dengan kata lain musik yang tidak ‘pasaran’, kehadirannya selalu ditunggu-tunggu para penikmat musik sejati, atau mereka yang mengklaim ”hanya ingin mendengarkan musik yang bagus”.

Jarangnya acara tersebut bisa terselenggara, yang biasanya karena faktor biaya, membuat para penggemarnya rela menunggu untuk waktu yang lama, ibarat menahan rasa haus di padang pasir.

Belum lama ini, tepatnya pada 22/12/18 di rooftop Impala Space Semarang, telinga yang dahaga tersebut cukup dipuaskan dengan tampilnya beberapa band ‘lawas’Semarang plus sebuah band baru, Rrreval.

Mereka adalah Pyong Pyong, Something About Lola (SAL) dan Wiwiek n Friends. Acara yang dipersembahkan Kubu 780, sebuah concept store yang menjual barangbarang premium untuk segmen streetwear, urban dan skateboard tersebut, berkaitan dengan launching toko mereka, sekaligus ekspresi kerinduan terhadap band-band, sebut saja senior, di Semarang, yang pada eranya pernah disibukkan dengan jadwal manggung yang padat di pentas seni sekolah menengah atas di Semarang. Tempat yang terbatas, penonton yang sedikit dan ber-sing along, merupakan cirikhas sebuah gig. Intim.

Karena penonton yang sedikit tersebut biasanya memang para penggemar, yang datang untuk melihat musikus idolanya tampil, ikut bernyanyi, dan yang identik dengan musik bernuansa rock atau musik cadas, penonton melakukan moshing atau stage diving. SAL membawakan beberapa lagu dari album ”Your Revolution” dan ”Men Love Avenue”.

Sedangkan Wiwiek n Friends dari album ”Minggu”, dan single terakhir mereka, ”Praaang”. Era digital pun membuat para musikus tersebut senang dengan adanya interaksi langsung dengan para penonton, adanya suara-suara yang menggema, dan adanya perasaan bahagia yang menyelimuti.

Hendragita, gitaris SAL mengatakan, sekarang ini merupakan era musik serba digital dan serba sosial media. Rilisan (album, mini album, ataupun single) semuanya dilempar dalam bentuk digital, orang-orang pun mendengarkan musik secara digital melalui aplikasi musik yang beragam, dan saling ‘bertatap muka’ melalui media sosial.

Sehingga dengan adanya konser musik skala kecil tersebut, merupakan pemuas kebutuhan fisik alias kepuasan memainkan musik secara langsung, dan interaksi secara langsung dengan para penikmat musiknya. Dan benar saja, hampir pada semua dan sepanjang lagu, penonton ikut bernyanyi dengan antusiasnya.

Namun tak hanya sebatas itu, adanya gig juga membuka mata musikus lawas untuk tahu bahwa ada band baru dengan ide-ide baru yang segar. ”Jujur saja saya jarang mendengarkan musik lokal.

Tapi begitu manggung terakhir kemarin bareng teman-teman band Semarang saya jadi kaget, kemana saja saya selama ini, ternyata ada band seperti ini atau itu di Semarang tapi saya baru saja tahu. Saya jadi makin semangat bikin karya baru,” ujar Koko, keyboardis Wiwiek n Friends. (Irma Mutiara Manggia-