Menikmati Musik Tanpa Rilisan Fisik

Penampilan band pop Wiwiek n Friends dalam ”Semarang Setelah Senja” di rooftop Impala Space (Spiegel) Semarang, belum lama ini.
Penampilan band pop Wiwiek n Friends dalam ”Semarang Setelah Senja” di rooftop Impala Space (Spiegel) Semarang, belum lama ini.

BILA ditanya, “kapan terakhir kali Anda membeli rilisan fisik? Rilisan band atau penyanyi siapa yang dibeli?” Apabila Anda butuh waktu berpikir untuk mengingatnya, itu berarti sudah cukup lama. Hal tersebut bukan sebuah kekeliruan, atau dianggap salah. Berubahnya zaman, otomatis mengubah perilaku manusianya juga.

Tak terkecuali dalam kebiasaan mendengarkan musik. Bukan hal yang aneh bila kita selalu mendengarkan musik melalui iTunes atau aplikasi streaming musik populer lainnya seperti Spotify.

Meskipun hingga saat ini masih banyak para penikmat musik yang masih gemar mendengarkan musik melalui perangkat fisik seperti CD atau vinyl. Beberapa musikus Tanah Air pun masih mengeluarkan rilisan fisiknya dalam bentuk vinyl.

Sebut saja Danilla, Efek Rumah Kaca, atau Mondo Gascaro. Mendengarkan lagu melalui aplikasi streaming musik bukan sebuah kejahatan murni terhadap industri musik. atau lebih dramatis lagi, kejahatan terhadap para kreator musik, karena telah ‘membunuh’ apresiasi terhadap kreativitas, karena lebih memilih mendengarkan musik secara instan dan ‘gratisan’.

Ya, gratisan apabila Anda hanya mau mendengarkan musik via aplikasi tidak berbayar, dan cukup ‘pelit’ untuk berlangganan (aplikasi berbayar) apalagi untuk membeli rilisan digital yang resmi.

Bila Anda termasuk orang yang praktis, hanya mau mendengarkan musik secara digital, bukan berarti telah berbuat jahat terhadap pada musikus. Toh, apabila Anda berlangganan atau menggunakan apliaksi yang berbayar, atau gemar membeli rilisan resmi via iTunes, sama saja dengan menghargai karya cipta, kan.

Atau meskipun Anda menganggap “modern life is rubbish” (mengacu pada judul album kedua grup band British-pop, Blur, yang rilis pada 1993), dan masih teguh dengan prinsip mendengarkan musik yang baik dan benar, ya harus lewat rilisan fisik, juga tidak ada salahnya. Semuanya soal pilihan, mana yang paling pas dihati. Ibarat menikmati kopi. Bisa dinikmati secangkir kopi panas, atau segelas es kopi yang segar. (Irma Mutiara Manggia-28)