Pemerintah Diminta Tunda Pemberlakuan Tarif Tol Tans-Jawa

PEKALONGAN - Pengguna jalan tol meminta pemerintah menunda pemberlakuan tarif tol pada ruas baru tol Trans-Jawa hingga pembangunan jalan tol tersebut benar-benar sempurna. Salah seorang pengguna jalan tol, Suyanto mengatakan, jalan tol pada ruas tol Trans-Jawa sebagian belum layak dilewati. Ia mencontohkan di ruas tol Batang-Semarang.

Menurutnya, di sepanjang jalan tol antara Batang-Pekalongan masih banyak dijumpai perawatan jalan. Selain itu, juga ditemui genangan air hujan. ”Jalur cepat kan harusnya tidak ada genangan. Karena itu membahayakan pengguna jalan.

Setir mobil saya sampai goyang,” kata warga Semarang itu saat menceritakan perjalanannya dari Semarang ke Kota Pekalongan melewati jalan tol Batang-Semarang, Jumat (25/1). Selain itu, lanjut dia, rest area di ruas tol tersebut juga belum tersedia. Karena pembangunan jalan tol belum sempurna, menurut dia, pemerintah seharusnya belum memberlakukan tarif tol.

”Banyak sekali yang belum sempurna. Tetapi pengguna jalan sudah dibebani untuk bayar. Kalau memang jalan belum siap, harusnya jangan buru-buru pengguna jalan tol dibebani untuk bayar,” tambahnya. Suyanto mengaku senang lewat jalan tol karena memangkas waktu tempuh perjalanan.

Namun, dengan pemberlakuan tarif, seharusnya pengguna jalan mendapat layanan terbaik. ”Harusnya ditunda dulu penerapan tarif sampai pembangunan jalan benar-benar sempurna,” sambungnya. Seperti diberitakan sebelumnya, per 21 Januari, pemerintah memberlakukan tarif di tujuh ruas baru tol Trans-Jawa yang sebelumnya dioperasikan gratis.

Ketujuh ruas tol tersebut yakni Tol Pemalang-Batang, Tol Batang- Semarang, Tol Semarang-Solo segmen Salatiga-Kartasura, dan Tol Ngawi- Kertosono. Selain itu Tol Kertosono- Mojokerto, Tol Gempol-Pasuruan, dan Tol Porong-Gempol. Ketujuh ruas tersebut diresmikan secara serentak oleh Presiden Joko Widodo pada 20 Desember 2018.

Sementara itu, pakar transportasi Universitas Negeri Semarang, Bambang Pujiono mengatakan, pada pekerjaan jalan itu memiliki spesifikasi yang harus dipenuhi sebagai jalan yang layak dilalui. Biasanya, jalan tol itu spesifikasinya atau mutunya lebih tinggi dibanding jalan biasa.

Kalau ada kerusakan dalam rentang masa pemeliharaan itu masih menjadi tanggung jawab pelaksana, kecuali karena bencana itu ada klausul tersendiri. Tetapi, lanjut dia, walau bagaimanapun yang namanya jalan tol itu jalan yang ”berbayar”, konsekuensinya harus sesuai dengan tuntutan kualitas pelayanannya. (K30,bib-34)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar